Cakrawala Tasawuf

Untungnya menjadi ahli dzikir

Setiap insan baik yang beriman maupun yang tidak  beriman pasti akan diuji Allah SWT.  Allah SWT telah berfirman dalam surat al-Ankabut : 2-3.

اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ ٢ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللّٰهُ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكٰذِبِيْنَ ٣

Artinya: Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji? Sungguh, Kami benar-benar telah menguji orang-orang sebelum mereka. Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui para pendusta.

Seperti kita ketahui bersama, bangsa Indonesia kembali diuji Allah SWT dengan berbagai bencana seperti angin puting beliung, banjir di berbagai daerah, kapal tenggelam, dan di akhir Nopember 2022 yang baru lalu,  bencana gempa bumi menimpaa sudara kita di Cianjur Jawa Barat.

Dilansir dari lamaan BMKG, gempa tersebut terjadi dengan kekuatan magnitudo 5,6, senin (21/11) pukul 13.21 WIB terjadi di sekitar 10 km barat daya kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Pusat gempa bumi itu berada di darat pada kedalaman 10 km di koordinat 6,84 Lintang Selatan dan 107,05 Bujur Timur.  Bencana tersebut telah menelan banyak korban, bukan hanya harta, rumah,  tetapi ratusan nyawapun melayang. Hal itu melahirkan sikap simpati dan empati dari semua lapisan masyarakat. Mulai dari pemerintah, organisasi kemasyaratan, sosial, bahkan individu memberikan bantuan untuk meringankan beban korban terdampak bencana tersebut.

Siapapun tidak menduga akan terjadi bencana tersebut. Mengapa? karena itu bagian dari hal yang dirahasiakan Allah SWT. Kajadian itu pun menyadarkan kita akan beberapa hal yang Allah rahasiakan. Secanggih apapun ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada tetap tidak bisa mencegah terjadinya suatu bencana.

Baca Juga  Kidung Sufi mencintai Illaahi

Terkait beberapa hal yang Allah rahasiakan dijelaskan sahabat nabi, Umar bin Khattab ra seperti yang dituliskan di kitab Nashaihul Ibad  karya Imam Nawawi. Menurut Imam Nawawi, Sayyidina Umar ra, berkata tentang enam hal yang dirahasikan Allah SWT, sebagai berikut:

Artinya: “Sesungguhnya Allah SWT merahasiakan enam perkara di dalam enam perkara lainnnya, yaitu merahasiakan ridha-Nya dalam perbuatan taat. Merahasiakan murka-Nya dalam perbuatan maksiat. Merahasiakan Lailatul Qadar dalam bulan Ramadhan. Merahasiakan wali-walinya di tengah manusia. Merahasiakan kematian di sepanjang umur. Serta merahasiakan sholat wushta di dalam sholat lima waktu’’.

Dari keenam yang Allah rahasiakan adalah kematian. Mati dan kematian adalah misteri Allah. Tetapi mati dan kematian pasti terjadi pada setiap makhluk. Hal ini telah diingatkan Allah SWT dalam firman-Nya.

كُلُّ نَفْسٍۢ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَـٰمَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدْخِلَ ٱلْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَـٰعُ ٱلْغُرُورِ

Artinya: Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (QS. Ali-Imran: 185).

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَن تَمُوتَ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ كِتَـٰبًۭا مُّؤَجَّلًۭا ۗ وَمَن يُرِدْ ثَوَابَ ٱلدُّنْيَا نُؤْتِهِۦ مِنْهَا وَمَن يُرِدْ ثَوَابَ ٱلْـَٔاخِرَةِ نُؤْتِهِۦ مِنْهَا ۚ وَسَنَجْزِى ٱلشَّـٰكِرِينَ

Artinya: Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (QS. Ali Imran:145).

قُل لَّآ أَمْلِكُ لِنَفْسِى ضَرًّۭا وَلَا نَفْعًا إِلَّا مَا شَآءَ ٱللَّهُ ۗ لِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۚ إِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ فَلَا يَسْتَـْٔخِرُونَ سَاعَةًۭ ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

Baca Juga  Nilai-nilai sosial dalam Isra Mi'raj

Artinya: Katakanlah: “Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah”. Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan (nya) (QS. Yunus:49).

Mati dan kematian adalah hal yang dirahasiakan Allah SWT. namun pasti datang. Tugas kita adalah mempersiapkan kapan datangnya ajal tersebut. Imam Ghazali pernah berkata, yang paling dekat dengan kita adalah kematian. Beberapa pertanyaan yang harus kita jawab adalah apakah kita sudah siap menghadapi ajal? Apakah bekal untuk keidupan di akhriat sudah siap?.

Ajal bisa datang kapan saja, sedang apa saja, dimana saja, dan dalam kondisi apapun. Kita sering mendengar ada orang yan meninggal saat shalat, saat melantukan ayat suci al-Quran, saat konser musik, bahkan saat tidur seseorang tidak bangun lagi. Keselamatan seseorang memasuki kehidupan akhirat sangat ditentukan oleh kondisi saat ajal itu datang. Salah satu tanda orang yang akan selamat memasuki hari akhirat adalah pada saat dicabut nyawa diakhri kalamnya (ucapanya) dia mengucapakan kalimat Laailaahaillaloh.

Pertanyaan kemudian siapa yang bisa mengucapkan kalimat Laailaahaillaloh di akhir hayatnya?Dialah yang sudah dilatih, terbiasa, dan istiqomah melafalkan kalimat tersebut. Dialah ahli dzikir. Bagi ahli dzikir Allah SWT akan memberikan kebaikan. Rasullah SAW telah bersabda, ‘’tidak bagi ahli dzikir rasa ketakukan ketika dicabut nyawa dan memasuki alam kubur’’. Dzikir yang mana, dzikir yang diajrakan oleh seseorang yang hatinya telah bersih dan senantiasa hidup, mengingat Allah SWT. Dialah guru mursyid. Lalu bekal apa yang harus disiapkan untuk memasuki hidup dan kehidupan akhirat? Bekal sebaik-baik bekal yaitu taqwa kepada Allah SWT.

Baca Juga  Urgensi riyadhoh bagi kehidupan pribadi dan sosial

 وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ ۚ وَٱتَّقُونِ يَـٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبَـٰبِ

Artinya: Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. (QS. Al-Baqoroh: 197).

Dari sekian kalimat yang baik adalah kalimat taqwa. Apa kalimat taqwa itu? Kalimat Laailaahaillaloh. Bagi ahil dzikir mengucapkan kalimat taqwa sebuah keniscayaan. Bagi ahli dzikir menghidupkan hati dengan dzikir kepada Allah sebuah kenicayaan. Maka beruntunglah orang yang telah menjadi ahli dzikir. Karena dia akan selalu siap menghadapi kapan ajal itu datang. Semoga kita digolongkan menjadi ahli dzikir.

Penulis: Nana Suryana (Ketua I LDTQN/Ketua Prodi PGMI IAILM)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button