Khutbah

Khutbah Jumat; Tiga sebab kebinasaan umat

Khutbah 1

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدَهُ، قَدْ أَدَّى اْلأَمَانَةَ وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِهِ حَقَّ جِهَادِهِ.

اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ: فَلَوْلَا كَانَ مِنَ الْقُرُونِ مِنْ قَبْلِكُمْ أُولُو بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ عَنِ الْفَسَادِ فِي الْأَرْضِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّنْ أَنْجَيْنَا مِنْهُمْ ۗ وَاتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا مَا أُتْرِفُوا فِيهِ وَكَانُوا مُجْرِمِينَ

وَقَالَ النَّبِيُ: اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ. (رواه الترمذي، حديث حسن).

Jamaah Jum’at hamba Allah yang berbahagia

Puji syukur marilah kita panjatkan kekhadirat Allah SWT. Atas segala nikmat yang telah diberikan oleh-Nya sehingga hari ini di Jum’at terakhir tahun 2022 ini kita masih bisa melaksanakan kewajiban kita sebagai Muslim, yakni shalat Jum’at. Semoga ibadah Jum’at kita diterima Allah SWT. Aamiin.

Shalawat dan salam semoga tetap terlimpah curah kepada nabi Muhammad SAW. keluarga, sahabat dan pengikutnya serta sampai kepada kita semua yang pada akhirnya kelak kita mendapatkan syafa’at darinya. Aamiin Yaa Allah.

Selanjutnya pada kesempatan ini, khatib mengajak kepada seluruh ikhwanul muslimiin untuk lebih menigkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT., dengan taqwa yang sebenar-benarnya. Taqwa berarti mengaplikasikan diri agar terus bisa melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan Allah SWT.

Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah SWT.

Sudah menjadi sunnatullah bahwa dalam kehidupan ini Allah menciptakan semuanya berpasang-pasangan. Selain itu setiap umat manusia pasti akan mengalami pasang dan surut, ada yang Berjaya dan ada yang terpuruk. Bahkan menyebabkan kebinasaan. Roda perputaran seperti ini selalu terjadi karena sudah menjadi sunnatullah.

Allah SWT. berfirman:

Baca Juga  Khutbah Jum'at: Meraih Ridha Allah di Bulan Sya'ban

فَلَوْلَا كَانَ مِنَ الْقُرُونِ مِنْ قَبْلِكُمْ أُولُو بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ عَنِ الْفَسَادِ فِي الْأَرْضِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّنْ أَنْجَيْنَا مِنْهُمْ ۗ وَاتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا مَا أُتْرِفُوا فِيهِ وَكَانُوا مُجْرِمِينَ

Artinya: Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. (QS. Huud: 116)

Dari ayat di atas sangat jelas disebutkan bahwa ada tiga sebab terjadinya kebinasaan suatu umat di dunia:

Pertama. Tidak mencegah kerusakan.

Terjadinya kerusakan di muka bumi, baik itu berupa kerusakan fisik, lingkungan hidup, kerusakan moral dan peradaban manusia merupakan faktor utama terjadinya kehancuran suatu umat dan bangsa. Hal ini karena Allah SWT. tidak suka kepada siapa pun yang melakukan kerusakan di muka bumi. Firman Allah dalam surat Al-Qoshosh ayat 77:

dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan”.

Oleh karena itu, menjadi penting bagi kita untuk bisa mencegah manusia dalam melakukan kerusakan di bumi ini. Allah Swt berfirman:

“maka setelah mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, kami selamatkan orang-orang yang melarang orang berbuat jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik. ” (Al- A’raaf: 165)

Dari ayat tersebut maka tugas kita sebagai manusia adalah berdakwah. Mengajak kepada seluruh manusia agar tidak melakukan kejahatan, tidak melakukan perusakan baik itu terhadap lingkungan, peradaban manusia dan juga moral.

Hadirin Rahimakumullah.

Hal kedua yang bisa menyebabkan kebinasaan umat adalah, tenggelam dalam kenikmatan dunia.

Pada dasarnya, dunia dengan segala kenikmatan yang terdapat di dalamnya bukanlah sesuatu yang harus dijauhi. Ia boleh saja dinikmati, asal tidak menyimpang dari ketentuan Allah Swt. Bila tidak, umat ini akan terlena dalam kenikmatan dan secara perlahan akan membuatnya binasa. Rasulullah Saw sudah mengingatkan hal ini kepada para sahabatnya. Hal ini berarti, pesan tersebut tertuju kepada kita semua. Beliau bersabda:

Baca Juga  Khutbah Jum'at; Pentingnya pendidikan orang tua bagi anak

“akan datang suatu masa di mana kamu akan diperebutkan oleh umat lain sebagaimana makanan lezat diperebutkan oleh orang yang lapar. Para sahabat bertanya, “Apakah pada saat itu jumlah kami sedikit wahai Rasulullah? Beliau menjawab: “Tidak, bahkan jumlah kamu banyal, namun bagaikan buih di lautan karena kalian terserang penyakit WAHN.” Mereka bertanya lagi, “Apakah penyakit WAHN itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab; “Terlalu cinta terhadap dunia dan takut kepada mati”.. (HR. Abu Daud)

Hadirin Sidang Jumat yang dimuliakan Allah

Kita sebagai manusia tidak boleh terlena dengan gemerlap kenikmatan dunia. Kita harus menyadari bahwa ada hari esok setelah mati yang harus kita persiapkan bekalnya dari sekarang. Rasulullah memberikan perumpamaan dunia dengan akhirat seperti tetesan air dari jari, dengan air yang ada di lautan. Oleh karena itu mencari bekal untuk kehidupan akhirat di dunia ini menjadi hal utama dibandingkan menjadikan dunia sebagai tujuan.

Hadirin Rahimakumullah.

Hal ketiga yang bisa membinasakan manusia adalah senang berbuat dosa.

Dosa akan menjadi factor kebinasaan bagi suatu umat atau bangsa. Mereka akan mendapatkan adzab yang besar, termasuk di dalamnya permusuhan antar manusia akanmenyebabkan perpecahan yang sangat sulit dipersatukan kembali.

Dalam Firman Allah dikemukakan tentang akibat dosa yang membuat mereka binasa dengan adzab yang diberikan Allah SWT. Sebagaimana Firman Allah:

Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (QS. Al-Ankabut: 40)

Jika tidak ingin mengalami kebinasaan, maka tidak ada pilihan lain kecuali terus melakukan perbuatan yang baik dan melestarikan nilai-nilai kebaikan yang sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya.

Hadirin sidang Jumat yang Mulia.

Itulah tiga hal yang akan membuat manusia binasa atas perbuatannya sendiri. Tentunya kita sebagai pengamal Tarekat Qodiriyah Naqsyabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya semoga diberikan kekuatan untuk dijauhkan oleh Allah dalam melakukan ketiga perbuatan tersebut. Kita meminta pertolongan, meminta kekuatan kepada Allah dengan terus mengamalkan amaliah kita yaitu Dzikir Jahar dan Khofi yang sudah ditanamkan oleh Guru Kita, Pangersa Abah Anom. Amiin Ya Allah.

Baca Juga  Khutbah Jumat; Kewajiban Amar Ma'ruf Nahyi Munkar

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَالْعَصْرِ، إِنَّ الإِنسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ، إِلاَّ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.

Khutbah 2

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

جَمَاعَةَ الْجُمُعَةِ، أَرْشَدَكُمُ اللهُ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَيَرْزُقُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنِ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ.

رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِن قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Penulis: Dudin Samsudin, M.Hum. (Ketua Prodi KPI IAILM/Ketua Divisi Kominfo DPP LDTQN)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button