Belajar Menjadi Murid Sejati
Seorang ulama ‘arif billah menyebutkan beberapa sifat murid sejati, diantaranya : Bersyukur atas segala nikmat, bersabar menghadapi bencana, ridha dengan peristiwa yang terjadi, memuji Allah saat sendiri maupun saat bersama dengan sesama manusia, dan ikhlas karena Allah dalam kesendirian maupun keramaian (Risalah Adabi Sulukil Murid, hlm. 45). Inilah diantara ciri murid sejati, yaitu: bersyukur, bersabar, ridha, memuji Allah (berdzikir) dan ikhlas.
Pertama, Bersyukur atas segala nikmat. Sudahkah kita bersyukur kepada Allah dengan beribadah dan berdzikir kepada-Nya? Sehari semalam ada 24 jam, berapa jam kita menggunakannya untuk berdzikir kepada Allah? Banyak mana waktu yang kita gunakan untuk berdzikir dengan waktu yang digunakan untuk istirahat tidur dalam sehari semalam? Jika dalam 24 jam kita tidur selama 8 jam, adakah kita juga berdzikir selama 8 jam dalam sehari semalam? Bukankah dzikir itu tanda syukur? Idza dzakartani syakartani, wa idza nasitani kafartani (Jika engkau berdzikir kepada-Ku, maka berarti bersyukur kepada-Ku dan jika engkau melupakan-Ku, maka berarti ingkar kepada-Ku).
Sudahkah kita bersyukur (berterima kasih) kepada Rasulullah saw? Saat kita meninggalkan kebiasaan Nabi saw, maka kita telah menyakiti ruh dan hati Rasulullah. Apakah kita terbiasa shalat fardhu di awal waktu dan berjama’ah? Bukankah shalat fardhu di awal waktu dan berjama’ah termasuk kebiasaan Nabi Saw. Apakah kita tega menyakiti hati dan ruh Rasulullah saw dengan meninggalkan salah satu kebiasaannya? Bukankah Rasulullah saw sangat mencintai kita yang termasuk umatnya? Bukankah Rasulullah rela berkorban di jalan dakwah sampai wajah dan tubuhnya berlumuran darah karena dilempari batu oleh para penentangnya?
Sudahkah kita bersyukur kepada Syekh Mursyid? Syekh Mursyid penerus Rasulullah saw telah mentalqinkan kalimat thayyibah kepada kita sebagaimana Rasulullah telah mentalqinkannya kepada para sahabatnya agar hati menjadi bersih, jiwa menjadi suci, mengantarkan ke Allah dan agar meraih kebahagiaan yang suci dan halal. Sudahkah kita berkhidmah dengan ilmu, harta dan tenaga terhadap Syekh Mursyid dan mensupport program-programnya?
Kedua, Bersabar menghadapi bencana. Allah bersama dengan orang-orang yang bersabar. Untuk menjalankan ketaatan kepada Allah kita perlu sabar. Untuk meninggalkan larangan-larangan dari Allah kita perlu bersabar. Dalam menghadapi kesulitan kita perlu bersabar. Saat menghadapi godaan dan ujian kita perlu bersabar. Sabar itu berat dan pahit rasanya, tapi buahnya manis. Pahala orang yang bersabar tanpa hitungan karena banyaknya. Siapakah orang yang dapat menghitung kesabaran akibat menanggung sakit yang berkepanjangan? Allah bersama dengan orang-orang yang bersabar.
Nabi Ayyub as dalam satu riwayat sakit selama 7 tahun. Kekayaannya habis dan badannya bau busuk. Orang-orang mengucilkannya jauh dari rumah penduduk. Ia betul-betul sakit sehingga tidak dapat bekerja. Saat isterinya yang setia dan selalu mendampinginya memohon kepadanya agar berdoa kepada Allah supaya menghilangkan sakitnya, Nabi Ayyub as menolak. Ia merasa malu kepada Allah karena sudah diberi kesehatan selama 70 tahun, sedangkan sakit yang dideritanya baru 7 tahun.
Sebagai Ikhwan atau murid Tarekat Qodiriyah wan Naqsyabandiyah (TQN) Pondok Pesantren Suryalaya hendaknya kita bersabar dalam mengamalkan ajaran dari Syekh Mursyid, baik berupa dzikir, khotaman, manakiban, mengamalkan tanbih, maupun amalan-amalan lainnya.
Ketiga, Ridha dengan kejadian yang telah terjadi. Ridha lebih tinggi daripada sabar. Ridha itu lebih memilih keadaan yang sedang terjadi dan tidak mau menggantinya dengan keadaan lain. Seorang sahabat buta matanya. Ia datang menemui Rasulullah. Ia memohon kepada Nabi saw agar didoakan sehingga matanya dapat melihat kembali. Rasulullah saw memberikan penawaran kepadanya bahwa jika didoakan, maka matanya akan melihat kembali. Namun, Rasulullah saw menawarkan agar ia tetap buta dan jaminan surga buatnya di akhirat kelak. Sahabat ini akhirnya memilih tetap buta dengan jaminan surga di akhirat kelak daripada didoakan Rasulullah saw dan matanya kembali normal.
Kisah tersebut menginspirasi seorang anak kecil yang buta matanya dan hapal Al-Qur’an. Saat diwawancara di stasiun TV, anak tersebut dengan tegas mengatakan tidak pernah berdoa agar matanya disembuhkan dari kebutaan. Ia tidak mau dioperasi. Anak tersebut memilih buta di dunia jika jaminannya adalah surga di akhirat. Itulah ridha.
Ada seseorang yang sudah belasan tahun tidur telentang di atas kasurnya. Makan, minum, dibersihkan, shalat, tidur, dan lainnya dilakukan di atas ranjang tempat tidur tersebut. Saudaranya bersedih menangis melihat keadaannya. Namun orang yang sakit ini tetap tersenyum bahagia dan berbicara pelan,”Saudaraku, tiap pagi dan sore malaikat berdatangan mengucapkan salam kepadaku.”
Sebagai Ikhwan atau murid Tarekat Qodiriyah wan Naqsyabandiyah (TQN) Pondok Pesantren Suryalaya hendaknya kita ridha, menerima dengan senang hati mengamalkan ajaran-ajaran dari Syekh Mursyid, walaupun berat, ada ujian, godaan dan tantangan.
Keempat, Selalu memuji Allah dan berdzikir kepada-Nya. Saat mau melakukan kebaikan selalu membaca basmalah. Saat selesai dari pekerjaan selalu bersyukur dengan bertahmid, memuji kepada Allah swt. Kelima, ikhlas karena Allah. Saat melakukan kebaikan apapun, niatnya lillah, hanya karena Allah semata. Memperbanyak ibadah dan dzikir karena Allah. Memperbanyak sedekah karena Allah. Sering bershilaturahmi karena Allah. Rajin belajar karena Allah. Giat bekerja karena Allah. Ini tercermin dari munajat dan doa yang selalu dibaca oleh kita, Ikhwan Tarekat Qodiriyah wan Naqsyabandiyah (TQN) Pondok Pesantren Suryalaya sebelum melakukan dzikir jahar dan dzikir khofi, yaitu: Ilahi anta maqshudi wa ridhaka mathlubi ‘athini mahabbataka wa ma’rifataka (Ya Allah, Engkau adalah tujuanku dan ridha-Mu yang kucari. Karuniakan kepadaku cinta-Mu dan ma’rifat kepada-Mu).
Sebagai Ikhwan atau murid Tarekat Qodiriyah wan Naqsyabandiyah (TQN) Pondok Pesantren Suryalaya hendaknya kita selalu berdzikir jahar setiap ba’da shalat fardhu, membaca khotaman minimal satu minggu satu kali dan mengadakan manakiban minimal satu bulan satu kali. Kita mencoba mengamalkan ajaran-ajaran dari Syekh Mursyid secara bertahap, misalkan amaliyah ba’da maghrib berupa dzikir, khotaman, shalat sunah ba’diyah, awwabin, taubat, birrul walidain, li hifdzil iman, syukur nikmat, dan amalan lainnya.
Demikian lima sifat dari murid sejati. Tentu saja masih banyak sifat-sifat lainnya yang harus dimiliki seorang murid agar dapat disebut sebagai murid sejati, murid yang sesungguhnya. Cukuplah sementara lima sifat ini. Semoga kita diakui sebagai murid oleh Syekh Mursyid.
Bi karomati Syekh Ahmad Shohibulwafa Tajul ‘Arifin ra Al-Fatihah…….



