Wejangan

Shalat Witir: setelah Tarawih atau Tahajud ? Berikut penjelasan Pangersa Abah Anom

Kuliah Shubuh yang disampaikan oleh Pangersa Abah pada tanggal 11 Ramadhan 1411 H. ini berisi motivasi kepada kita selaku pengikutnya untuk terus berusaha meningkatkan ibadah kita di bulan Ramadhan. Terlebih berkaitan dengan shalat malam. Dalam kuliah shubuh ini juga terdapat arahan Pangersa Abah Anom tentang pelaksanaan shalat sunat witir.

Tentu Kuliah Shubuh ini adalah terjemahan dari Bahasa Sunda. Oleh karena itu mohon maaf apabila ada terjemahan yang kurang pas dengan makna aslinya.

Berikut isi dari Kuliah Shubuh tersebut:

Hadirin kaum Muslimin yang dimulyakan Allah.

Mari kita bersama-sama memanjatkan rasa syukur kepada Allah Swt., atas rahmat yang diberikan oleh-Nya, sehingga kita bisa hadir di Pesantren Suryalaya ini dalam keadaan sehat. Semoga segala maksud kita dikabulkan oleh Allah Swt., Amiin.

Pada bulan Ramadhan, dari awal hingga saat ini, alhamdulillah wasyukrulillah. Semoga senantiasa diberikan kekuatan untuk terus beribadah. Bahkan, ibadah kita di bulan Ramadhan ini harus lebih istimewa dibandingkan bulan biasa. Hal tersebut dilakukan agar kita mencapai ketakwaan disetiap waktu. Oleh karena itu, dibulan ini kita harus bisa melaksanakan sholat tahajud, sholat tarawih dua puluh raka’at dan witir tiga raka’at.

Apabila kita mau melaksanakan sholat sunat witir setelah selesai tarawih, silahkan jangan ragu-ragu!. Sebagai bentuk kehati-hatian kita bila malam tidak bangun. Tetapi bila sudah terbiasa bangun malam, maka lebih baik dilakukan setelah sholat tahajud dan sholat Tasbih. Jangan karena gara-gara ini menjadi sebuah persoalan besar. Dilaksanakan setelah tarawih silahkan, atau nanti juga silahkan.  Tetapi kebanyakan para sufi melaksanakannya diwaktu malam (ba’da tahajud dan tasbih).

Abah biasa melaksanakan sholat witir setelah tahajud dan tasbih, tetapi bila ada yang ingin melaksanakan setelah shalat tarawih karena takut nanti tidak bangun, silahkan saja. Maklum, kita masih jarang mempersiapkan diri  untuk bangun malam dan beribadah diwaktu malam.

Baca Juga  Amaliah di malam Nisfu Sya'ban

Setiap malam itu harusnya, sahur itu waktu dari sisa ibadah. Artinya sahur dilaksanakan setelah melakukan ibadah. Bukan sebaliknya, setelah makan baru melaksanakan tahajud. Jadi tahajudnya ‘Sisa Makan’. Tapi itupun ga apa-apa, walaupun baiknya sahur itu dilaksanakan setelah beribadah.

Jadi, bagaimana bila melaksanakan sholat witir setelah tarawih ? silahkan laksanakan jangan ragu. Bahkan untuk di mesjid, Abah menganjurkan agar melakukan witir, sebab banyak yang belum dewasa dan tidak terbiasa bangun malam. Witir umumnya bagi mereka yang biasa menjadi imam

Selain shalat Tarawih, pada bulan Ramadhan juga ada peristiwa yang sangat mulia, yaitu ‘Lailatul Qodar’. Malam yang dimuliakan. Dalam Fathul ‘Arifin diterangkan, sholat sunat Lailaltul qodar yaitu 4 raka’at, dengan bacaan setelah Al-Fatihah tiap raka’atnya membaca Qs. At-takatsur 1 kali lalu Qs. Al-Ikhlas 3 kali. Barangkali mau dilakukan silahkan

Nabi Muhammad memberikan gambaran waktu Lailatul Qodar, yaitu pada lima hari tanggal ganjil dalam sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Diantaranya tanggal 21, 23, 25, 27 atau 29. Jadi mari kita bersama-sama menunggu kedatangannga dengan cara bangun dan beribadah.

Sabda Nabi :

مَنْ قَامَ لَيْلَةَالْقَدْرِاِيْمَانًاوَاَحْتِسَابًاغُفِرَلَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْذَنْبِه

Siapa saja orang yang bangun pada malam lailaltul qodar atas dasar keimanan, percaya, atas dasar tauhid dan karena Allah. Atas mengharapkan ampunan Allah, maka dosanya yang lalu akan diampuni oleh Allah.

Jadi, bila kita bangun pada malam tersebut, itu menjadi hal baik. Silahkan gunakan ibadah itu untuk menambah ibadah kita di bulan Ramadhan. Kita bersama-sama mengikuti apa yang dilakukan oleh Nabi, terutama kita yang mengharapkan ampunan Allah pada malam yang penuh berkah.

Wallohua’lam..

Penulis: Dudin Samsudin

Related Articles

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button