Cakrawala Tasawuf

Masih Mau Mencari Mursyid Baru?

Memasuki tahun baru 2023, semoga kita lebih baik dari tahun 2022 yang lalu. Lebih baik dalam kualitas keimanan, keislaman, dan keihsanan, termasuk lebih baik dalam kualitas pengamalan amaliah TQN Pondok Pesantren Suryalaya, yakni dzikir, khataman, manakib, dan amaliah lainya yang telah gariskan guru mursyid TQN Pondok Pesanatren Suryalaya, Syaikh KH. Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin ra. Amin ya rabbal alamin.

Guru atau mursyid dalam sebuah thariqoh adalah orang yang paling tinggi martabatnya. Saking tingginya dan beratnya posisi guru mursyid dalam thariqoh, maka tidak semua orang bisa menjadi guru mursyid. Ada banyak kriteria yang harus dipenuhi oleh seorang guru mursyid. 

Menurut Amin Al-Kurdi dalam kitab Tanwirul Qulub, ada 24 kriteria, diantaranya; Pertama, seorang mursyid harus mampu menutupi aurat muridnya yang terlihat olehnya. Kedua, ucapannya mursyid harus bersih dari campuran-campuran hawa nafsu, senda gurau yang berlebihan dan sesuatu yang tidak bermakna. Apakah kita bisa memenuhi kriteria itu? Adakah diantara kita yang mau menjadi mursyid? Atau mau mencari mursyid baru?

Bagi saya, jangankan menjadi mursyid, mengamalkan amalan yang telah diajarkan guru mursyid (Pangersa Abah Anom), masih belum bisa istiqomah. Berdzikir masih bolong-bolong, lebih banyak dzikir 3 kali ketimbangan dzikir lebih dari 165. Khataman, dan manakib masih malas. Belum lagi amaliah yang lainnya.

Lalu pertanyaannya, siapakah murid dalam toriqoh itu? Murid adalah orang yang berkehendak, berkemauan, dan mempunyai cita-cita. Dalam istilah thariqoh, murid adalah orang yang bermaksud menempuh jalan untuk dapat sampai ke tujuan yakni ridlo Allah SWT. Secara institusional, murid adalah pengikut suatu tarekat yang menghendaki pengetahuan, dan pengamalan tarekat yang bersangkutan. Dan untuk menjadi murid ada tahapan yang harus dilalui yaitu mendengar, memahami, mengetahui, menyaksikan, dan makrifah. Supaya bisa melewati tahapan-tahapan itu maka perlu guru. Karana melalui guru kita akan dibimbing, terutama wushul (sampai) kepada Allah SWT. Dalam kitab sirrur asror, dinyatakan, wajib hukumnya mencari guru ruhani yang mampu menghidupkan hati sehingga kita bisa wushul (sampai) kepada Allah SWT.

Baca Juga  Kidung Sufi mencintai Illaahi

مَن يَهْدِ ٱللَّهُ فَهُوَ ٱلْمُهْتَدِ ۖ وَمَن يُضْلِلْ فَلَن تَجِدَ لَهُۥ وَلِيًّۭا مُّرْشِدًۭا

Artinya: Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.

Alhamdulillah kita selaku ikhwan TQN Pondok Pesantren Suryalaya telah mendapatkan petunjuk melalui guru agung, Syaikh KH. Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin. Bagaimana caranya agar kita dicatat dan diaku muridnya guru agung, Pangersa Abah Anom? Salah satunya kita harus mampu menjaga adab kepada guru. Syaikh Syihabudin As-Sukhrowardi menjelalaskan ada 15 adab murid kepada mursyidnya, antara lain, Pertama murid harus memiliki keyakinan yang penuh pada Syaikh dalam ajaran, bimbingan dan penyuciannya atas murid-muridnya; Kedua murid harus mamatuhi perintah Syaikhnya dan Ketiga murid harus mampu menjaga batas kehormatannya sendiri. Pertanyaannya apakah kita sudah melaksnakan adab-abad tersebut? Kalau sudah, maka insya Allah kita akan dicatat dan diaku sebagai muridnya. Kita teringat  dalam salah satu mankobahnya Syaikh Abdul Qodir al-Jailani QS.

Di dalam kitab Bahjatul Asror diriwayatkan bahwa Syaikh Abdul Qodir pernah berkata: “Aku diberi sebuah buku luasnya sepanjang mata memandang untuk menuliskan dan mencatat nama-nama muridku sampai hari kiamat. Semua jumlah catatan muridku itu telah Alloh berikan padaku dan telah menjadi milikku. Aku pernah bertanya kepada malaikat Malik penjaga pintu neraka: “Apakah ada padamu muridku?” Malaikat Malik menjawab “Tidak ada dalam neraka”. 

Syaikh berkata: “Aku bersumpah demi Dzat Kemuliaan dan Keagungan Tuhan, sesungguhnya tanganku terhadap murid-muridku seperti langit menutupi bumi. Andaikan murid-muridku itu buruk dan salah, maka akulah yang baik dan benar. Dan aku bersumpah demi Dzat Kemuliaan dan Keagungan Tuhan, dua telapak kakiku tidak akan bergeser setapakpun di hadapan Tuhan, terkecuali sudah mendapat keputusan bahwa aku bersama murid-muridku berangkat masuk surga”. 

Baca Juga  Rawayan Pembuka Hati

Hadirin yang berbahagia

Lebih lanjut beliau berkata: “Senantiasa tanganku ini tidak akan lepas dari kepala murid-muridku, walaupun aku sedang berada di Timur (masyriq) dan muridku berada dibarat (Maghrib), lalu muridku itu terlihat dan tersingkap auratnya maka tanganku akan segera menutupinya. Demi Dzat Kemuliaan dan Keagungan Tuhan, pada hari kiamat nanti aku akan berdiri tegak di hadapan pintu gerbang neraka, sekali lagi aku tidak akan bergeser dan berdiri tegak sebelum semua muridku sudah masuk ke surga, karena Alloh Yang Maha Kuasa telah menjanjikan padaku bahwa murid-muridku tidak akan dimasukkan kedalam neraka. Barang siapa yang berguru serta cinta/ mahabbah padaku pasti aku menghadap (menaruh perhatian) padanya. Dan malaikat Munkar Nakir telah berjanji padaku bahwa mereka tidak akan menakut-nakuti, atau menimbulkan rasa kaget/terkejut pada murid-muridku”.

Begitu beratnya tugas tuan syaikh. Begitu pula beratnya tugas guru mursyid TQN Pontren Suyalaya, Syaikh KH. Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin, ra. Beliau punya tanggung jawab seperti tanggung jawabnya tuan Syaikh Abadul Qodir Al- Jailani. QS. Ketika kita dicatat dan diaku sebagai murid dari guru mursyid TQN Suryalaya, Syaikh KH. Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin, ra.  Insya Allah kita akan di kumpulkan bersamanya nanti di hari qiamat. Kita perhatikan firman Allah SWT.

يَوْمَ نَدْعُوا۟ كُلَّ أُنَاسٍۭ بِإِمَـٰمِهِمْ ۖ فَمَنْ أُوتِىَ كِتَـٰبَهُۥ بِيَمِينِهِۦ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ يَقْرَءُونَ كِتَـٰبَهُمْ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًۭا

Artinya: (Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun. (QS. Al-Isra (17) ayat 71)

Dalam tafsir ibn Katsir dijelaskan. Allah SWT. menceritakan tentang hari kiamat, bahwa Dia menghisab se­tiap umat berikut dengan pemimpin mereka masing-masing. Ulama tafsir berbeda pandapat sehubungan dengan tafsir ayat ini. Mujahid dan Qatadah mengatakan, makna yang dimaksud dengan pemimpin mereka ialah nabi mereka. Berdasarkan pengertian ini, berarti ayat ini sama dengan yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Baca Juga  LDTQN dan tantangan Globalisasi

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ رَسُولٌ فَإِذَا جَاءَ رَسُولُهُمْ قُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

Artinya: Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikit pun) tidak dianiaya. (QS. Yunus: 47).

Dapat pula ditafsirkan bahwa yang dimaksud dengan imamihim ialah setiap kaum berikut orang-orang yang menjadi panutan mereka. Maka ahli imam bermakmum kepada para nabi, dan orang-orang kafir bermakmum kepada pemimpin-pemimpin mereka. Termasuk bermakmum kepada guru mursyid. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana kalau kita dicatat dan diakui sebagai muridnya, Syaikh Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin ra. pada saat dipanggil Allah di hari qiamat nanti. Semoga kita dicatat dan diakui sebagai muridnya beliau, guru agung Syaikh KH. Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin. Ra. Amin ya rabbal alamin.

*) Nana Suryana, S.Ag. M.Pd. (Ketua 1 LDTQN Pondok Pesanatren Suryalaya & Ketua Prodi PGMI IAILM Suryalaya)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button