Cakrawala Tasawuf

“Aku beramal, maka aku ada” (Basis Qurani Ilmu Amaliah Amal Ilmiah)

Jika kau percaya Tuhan

percayalah pada-Nya ketika bekerja

Tanamlah benih

barulah bertopang kepada Yang Maha Kuasa

(Jalaluddin Rumi)

Dari sekian banyak makhluk Tuhan, manusialah makhluk yang paling unik dan kompleks. Begitu banyak orang mencoba mengurai sejatinya diri manusia, namun pada saat yang sama betapa tidak sedikit sisi gelap yang belum tersingkap. Satu sudut tersibak, sudut lain tetap diliputi selaput kabut misteri. 

“Sebenarnya manusia telah mencurahkan perhatian dan usaha yang sangat besar untuk mengetahui dirinya, kendatipun kita memiliki perbendaharaan yang cukup banyak dari hasil penelitian para ilmuwan, filsuf, sastrawan dan para ahli di bidang keruhanian sepanjang masa ini.Tapi kita (manusia) hanya mampu mengetahui beberapa segi tertentu dari diri kita. Kita tidak mengetahui manusia secara utuh. Yang kita ketahui hanyalah bahwa manusia terdiri dari bagian-bagian tertentu, dan inipun pada hakikatnya dibagi lagi menurut tata cara kita sendiri. Pada hakikatnya, kebanyakan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh mereka yang mempelajari manusia –kepada diri mereka– hingga kini masih tetap tanpa jawaban” demikian kata  Dr. A. Carrel dalam Man the Unknown   (1995).

Para pemikir baik teolog, filsuf atau sufi menjadikan hakikat persoalan manusia sebagai objek kajiannya. Ada yang sampai pada kesimpulan bahwa hakikat manusia adalah roh (Hegel), kebutuhan materi (Mark), estetis, etis dan religius (Kierkegaard), kebebasan (Sartre), cinta kasih (Levinas), keterlemparan (Heidegger), absurditas (Camus), kebersamaan (Gabriel Marcel), cinta (Adawiyah), ma’rifat (Dzun Nun al-Mushri), kebersatuannya dengan Sang Kuasa (Ibnu Arabi), kaula manunggal dengan Gusti (Siti Jennar) dan jauh ke belakang para filsuf Yunani juga  berpikir untuk menjawab apa dan siapa manusia itu?

Namun nalar manusia tentang manusa tetap saja tidak pernah memberikan gambaran memadai mengenai manusia itu sendiri. Alih-alih memuaskan justru selalu mengundang rasa penasaran.

Perspektif al-Quran

Al-Quran adalah kitab suci yang tema utamanya mengangkat seputar manusia. Kalau ditelisik ungkapan manusia diwadahinya dalam ideom yang beragam dengan muatan makna beralinan seperti insán, ins, nás atau unás, basyar Baní Ádam dan Dzurriyat Ádam. Fazlur Rahman mencatatnya bahwa porsi tema yang diangkat al-Quran lebih bermuatan antropologis (kemanusiaan) ketimbang mengupas aspek teologis (ketuhanan).

Baca Juga  Masih Mau Mencari Mursyid Baru?

Al-Quran juga sempat menyinggung bahwa keunikan manusia salah satu faktornya adalah karena dalam dirinya tersimpan potensi ketuhanan yaitu ruh-Nya (wa nafakhtu fíhi min rúhí) yang ditipukan sejak ajali dimana tidak ada satu pun makhluk yang dapat mengungkap arti  hakikat ruh itu sendiri.

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, ‘Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”  (Q.S. al-Isra/17: 85).

Manusia juga makhluk yang dengan akal dan hatinya memiliki kebebasan menentukan jalan hidupnya dengan segala konsekwensi yang harus ditanggungnya. Fa man syá`a fal yu’min wa man syá`a fal yakfur. Dalam dirinya mengalir dua unsur  kontradiktif: kebaikan dan keburukan. Fa alhamaha fujuraha wa taqwaha. Dua unsur yang memungkinkannya dapat terbang melampaui keagungan malaikat, namun juga bisa lebih dungu dari ternak sekali pun.

Manusia dengan, kreativitasnya mampu membangun peradaban yang luhur dan mengagumkan. Namun ulah manusia juga yang seringkali peradaban itu luluh lantak karena perilakunya yang melawati batas.

Model manusia

Al-Quran banyak merekam berbagai model manusia. Terbentang mulai dari yang telah mencapai tahap kesempurnan ruhaniah dan kematangan spiritual seperti para Nabi, syuhada (orang-orang yang mati syahid membela kebenaran), dan orang saleh sampai orang-orang yang terperosok menjadi sampah sejarah dari berbagai kalangan serupa penguasa Fir’aun dan Namrudz ), ekonom (karun), politisi (haman), dsb. Mengabadikan perjalanan sebuah bangsa sampai ketika bangsa itu harus mengalami akhir cerita  mengenaskan ditimpa malapetaka yang tak tertanggungkan seperti yang di alami kaum ‘Ad, Tsamud, dan Madyan .

Al-Quran mengangkat semua itu dengan menating pesan maksud kita terampil memetik pesan  moralnya. “Sesungguhnya pada yang demikian itu merupakan ibrah (pesan moral) bagi orang yang mempunyai penglihatan tajam” (QS. 24, an-Núr: 44), “Maka ambillah ‘ibrah wahai yang punya penglihatan” (QS. 59, al-Hasyr: 2). Sejarah menanamkan kesadaran ihwal keharusan tidak jatuh dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya.

Baca Juga  Adab menuntut ilmu dan pelajaran bagi ikhwan

Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah, karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)” (QS. 3, Áli Imrán: 137).

Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu” (QS. 7, al-A’ráf: 84).

“Bahkan yang sebenarnya, mereka mendustkan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna padahal belum datang kepada mereka penjelasannya. Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul). Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim itu” (QS. 10, Yunus: 39), dsb.

Dalam ayat yang betebaran kita diseru melakukan perjalanan di muka bumi. Sebuah ideom menarik yang lagi-lagi menekankan pentingnya mengambil pelajaran dari rute sejarah silam. Sebuah ziarah ruhani mengaca diri kepada peristiwa yang berlalu. “Katakanlah, ‘Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu”

Perintah berjalan melakukan kesaksiaan tentang kepastian  sunatullah bahwa tindakan keliru hanya akan berujung pada kehancuran yang mungkin disadari secara terlambat, “Apakah mereka tidak pernah bepergian di muka bumi ini, supaya hatinya tersentak  memikirkan kemusnahan itu atau mengiang di telinganya untuk didengarkan? Sebenarnya yang buta itu bukan mata, melainkan hati yang ada di dalam dada”(QS. 22, al-Haji: 46).

Belajar dari sejarah sama pentingnya dengan belajar terhadap diri. Mufasir neo-modernisme Fazlur Rahman menulis bahwa pengetahuan sejarah merupakan bagian penting  yang didesakkan al-Quran di samping dua pengetahuan lainnya yakni: pengetahuan mengenai alam dan pengetahuan ihwal jagat dirinya sendiri.

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di dalam cakrawala dan di dalam diri-diri mereka sendiri sehingga mereka dapat memahami kebenaran. Tidak cukupkah Tuhanmu sebagai saksi terhadap segala sesuatu (QS. 41, Fushshilat: 53).

Ilmu amaliah

Dari sini kita dapat melihat dengan terang ternyata dalam konsep Islam apalagi tasawuf, bahwa satu hal setelah (atau berbarengan) dengan iman yang harus dikerjakan manusia dan dapat menyelamatkannya adalah amal. Bukan sekadar amal namun amal positif yang diacukan pada ilmu yang dalam konsep al-Quran disebut dengan shálihát bahkan amal yang memenuhi kualifikasi optimal (ihsán) (QS. 32, as-Sajdah: 7), “…serta lakukanlah ihsan sebagaimana Allah telah melakukan ihsan kepadamu, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang membuat kerusakan” (QS. 28, al-Qashash: 77),  sungguh-sungguh, dan tidak pernah bersikap setengah-setengah mediocre (itqan) sebagaimana sifat Allah ketika menciptakan seluruh alam ini, “Seni ciptaan Allah yang membuat dengan teliti segala sesuatu…” (QS. 27, an-Nam/: 88).

Baca Juga  Taubat: Jalan utama menuju Tuhan

Amal ilmiah merupakan pintu masuk yang dapat mengantarkan pada manusia sehingga kehadirannya bukan hanya ‘sekadar hadir’ tapi betul-betul ‘ada’. Amal ilmiah  menjadi modus ‘adanya’ (ontologis) manusia. Manusia tidak berhak mengklaim sebagai manusia kalau tidak pernah melakukan amal saleh, sebagaimana manusia itu dalam tilikan Allah tak lebih adalah ternak kalau ia hanya memproduski amal yang salah.

Kalau tempo hari Filsuf Rene Descartes menyerukan bahwa berpikir merupakan alasan dimana  manusia layak dikatakan manusia. Aku berpikir oleh karena itu aku ada. Cogito ergo sum. Keberadaan manusia” (mode of existence) dalam Islam,  diacukan kepada amalnya. Manusia ada karena kerja. 

Dalam ajaran Islam berpikir saja tidak cukup tapi harus juga diiringi kerja. Iman (ámanú) saja tidak memadai sekadar pengakuan verbal (QS. 5, al-Maidah: 41) tapi musti diiringi perbuatan baik (QS. 7, al-Araf: 42; 10, Yunus: 4; 13, al-Ra’d: 29). Iman tidak sekadar mengental dalam hati dan diikrarkan lewat lisan tapi juga bagaimana iman itu menjadi energi yang aktif dan efektif menggerakkan manusia terlibat dalam tanggungjawab kesejarahan. Berdaulat pada amal baik. Sehingga ia dapat mengatakan, meminjam Levinas, respondeo ergo sum. Aku bertanggungjawab, maka aku ada

Asep Salahudin (Rektor IAILM Suryalaya)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button