Khutbah

Khutbah Idul Adha 1447 H.: Madrasah Idul Adha: Menumbuhkan Ciri Mukmin Sejati Melalui Kurban Lahir dan Batin

Khutbah Pertama

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِذَبْحِ الْأُضْحِيَّةِ. وَبَلَغَنَا إِلَى هٰذَا الْيَوْمِ مِنْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ ذُوْ رَحْمَةٍ وَاسِعَةٍ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ تُرْجَى مِنْهُ الشَّفَاعَةُ. أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ ذَوِي الْعُقُوْلِ السَّلِيْمَةِ، صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ،

 أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الرَّحْمَنِ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْمَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْانِ: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

الهي انت مقصودي ورضاك مطلوبي اعطني محبتك ومعرفتك

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Segala puji bagi Allah SWT yang telah mempertemukan kita kembali di hari yang agung ini, Hari Raya Idul Adha 1447 H. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Hadirin yang dirahmati Allah,

Hari ini kita berkumpul di masjid Nurul Asror Pondok Pesantren Suryalaya, bukan sekadar melaksanakan dan merayakan Idul Adha. Kita berkumpul untuk mengingat kembali satu peristiwa agung yakni ketundukan, ketaatan, keteguhan, dan kesucian tauhidnya Nabi Ibrahim AS dan putranya Ismail AS, peristiwa yang menjadi asal-usul ibadah kurban yang kita laksanakan.

Mari kita bayangkan sejenak peristiwa ribuan tahun silam itu. Nabi Ibrahim AS, setelah menanti kehadiran seorang buah hati selama puluhan tahun hingga rambutnya memutih, akhirnya dianugerahi seorang putra yang tampan dan saleh bernama Ismail. Namun, di saat rasa cinta seorang ayah sedang merekah begitu indahnya, Allah SWT memberikan ujian yang teramat berat melalui mimpi: Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih putra tercintanya sendiri.

Secara logika manusia, ini adalah perintah yang menyayat hati. Namun, mari kita lihat bagaimana kualitas ketundukan, keteguhan dan kecintaan mereka kepada Allah SWT. Allah SWT mengabadikan dialog dahsyat ini dalam Al-Quran, Surat As-Saffat ayat 102:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

Artinya: “Maka Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”

Ketika pisau sudah diletakkan di leher Ismail, dan keduanya telah berserah diri sepenuhnya kepada kehendak Allah, di situlah puncak ujian selesai. Allah menggantikan Ismail dengan seekor domba yang besar.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Hadirin yang dirahmati Allah,

Dari kisah ini kita belajar, hakikat ujian tersebut bukanlah tentang penumpahan darah seorang anak, melainkan tentang penyembelihan ego, pembuktian cinta tertinggi, dan manifestasi dari keimanan yang kokoh kepada Allah SWT. Nabi Ibrahim AS telah mengurbankan segalanya demi membuktikan fondasi imannya kepada Sang Pencipta.

Maka, kurban yang kita lakukan hari ini dengan menyembelih hewan ternak, sesungguhnya adalah simbol dari pembuktian iman dan penyerahan diri total seperti yang dicontohkan oleh keluarga Nabi Ibrahim AS. Oleh karena itu, Allah SWT menegaskan esensi dari seluruh peristiwa besar ini dalam Al-Quran, Surat Al-Hajj ayat 37:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

Artinya: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai Allah, tetapi ketakwaanmulah yang dapat mencapainya.”

Ayat ini memukul lurus niat kita. Allah tidak butuh daging kurban kita, Allah tidak butuh darahnya. Yang Allah lihat dan yang sampai kepada-Nya hanyalah ketakwaan batin yang lahir dari keimanan yang ada di dalam hati kita. Maka pertanyaan besar hari ini adalah: Sudahkah kurban kita melahirkan iman yang teguh?

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Hadirin yang dirahmati Allah,

Peristiwa pengorbanan ini tidak berdiri sendiri. Hari ini, jutaan kaum muslimin dari seluruh penjuru dunia berkumpul di tempat yang sama di tanah suci, mengumandangkan kalimat talbiyah yang menggetarkan jiwa. Ketahuilah, bahwa setiap rukun dan manasik ibadah haji yang mereka laksanakan di tanah suci saat ini, tidak lain adalah napak tilas sejarah, pembuktian fisik dari kokohnya iman keluarga Nabi Ibrahim AS.

Ketika jamaah haji melakukan Thawaf mengelilingi Ka’bah, mereka sedang mengingat keteguhan iman Nabi Ibrahim dan Ismail saat membangun Baitullah di tengah padang tandus tanpa mengeluh. Ketika mereka melakukan Sa’i berlari-lari kecil dari Shafa ke Marwah, mereka sedang meresapi getaran iman Ibunda Hajar yang berjuang sendirian demi menyambung kehidupan bayinya, percaya penuh bahwa Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan hamba-Nya. Dan ketika mereka melakukan Wukuf di Arafah serta Melempar Jumrah di Mina, mereka sedang mengenang momentum ketika Nabi Ibrahim, Ibunda Hajar, dan Nabi Ismail bersekutu mengusir godaan syetan yang mencoba meruntuhkan keimanan mereka saat perintah penyembelihan itu datang.

Oleh karena itu, ibadah haji di tanah suci dan ibadah kurban yang kita laksanakan, bermuara pada satu titik yang sama: yaitu ujian dan pembuktian kualitas iman. Haji adalah kurban dalam bentuk perjalanan fisik dan harta, sedangkan menyembelih hewan adalah kurban dalam bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT.

Dari kisah dan syiar ini kita belajar, hakikat ujian tersebut bukanlah tentang penumpahan darah, melainkan tentang penyembelihan ego, pembuktian cinta tertinggi, dan manifestasi dari keimanan yang kokoh kepada Allah SWT.

Maka, kurban yang kita lakukan hari ini sesungguhnya adalah simbol dari pembuktian iman dan penyerahan diri total seperti yang dicontohkan oleh keluarga Nabi Ibrahim AS. Oleh karena itu, Allah SWT menegaskan esensi dari seluruh peristiwa besar dan syiar ibadah ini dalam Al-Quran, Surat Al-Hajj ayat 37:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

Artinya: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai Allah, tetapi ketakwaanmulah yang dapat mencapainya.”

Ayat ini memukul lurus niat kita. Allah tidak butuh daging kurban kita, Allah tidak butuh darahnya. Yang Allah lihat dan yang sampai kepada-Nya hanyalah ketakwaan batin yang lahir dari keimanan yang ada di dalam hati kita. Maka pertanyaan besar hari ini adalah: Sudahkah kurban kita melahirkan iman yang teguh?

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ

وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Allah sendiri telah menjelaskan tentang ciri-ciri orang yang benar-benar beriman dalam Al-Quran Surat Al-Anfal ayat 2 sampai 4:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ. الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ. أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

Artinya: Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah mereka yang jika disebut nama Allah, gemetar hatinya dan jika dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhannya mereka bertawakal. (yaitu) orang-orang yang melaksanakan salat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Bagi mereka derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki yang mulia.

Dari ayat di atas, ada 4 ciri orang beriman yaitu:

  1. Hatinya gemetar saat disebut nama Allah. Bukan takut siksaan, tapi takut kehilangan cinta Allah.
  2. Imannya bertambah saat mendengar Al-Quran. Artinya hatinya hidup dan haus akan kebenaran.
  3. Hanya bertawakkal kepada Allah. Setelah berusaha, dia pasrah , seperti Nabi Ibrahim saat pisau sudah di leher Ismail.
  4. Rajin shalat dan suka berinfak. Taqwa itu tidak egois, dia tampak dalam ibadah dan kepedulian sosial.

Nah, kurban yang kita sembelih, harusnya menjadi madrasah untuk melahirkan 4 ciri orang mukmin ini. Kalau setelah kurban hati kita tetap keras, shalat masih bolong, sedekah dan infak masih pelit, berarti ada yang salah dengan fondasi keimanan dan niat kurban kita.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Jamaah Idul Adha yang berbahagia,

Lalu bagaimana cara mencapai tangga keimanan yang kokoh itu? Bagaimana caranya agar hati kita bisa gemetar saat disebut nama Allah? Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Ciri orang yang bertakwa (dan sempurna imannya) adalah orang yang banyak berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla.”

Dzikir itu nutrisi dan makanan hati. Hati yang kosong dari dzikir akan mati, dan hati yang mati tidak akan mampu merealisasikan iman. Ia tidak akan pernah takut kepada Allah, tidak akan pernah malu berbuat maksiat, apalagi mau berkurban dengan penuh keikhlasan.

Maka di sinilah letak pentingnya amalan pokok TQN Suryalaya yang kita amalkan yakni dzikir kepada Allah SWT. Pangersa Abah Sepuh RA dalam Tanbih beliau berwasiat:

“Tiada lain amalan kita, Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah, amalkan sebaik-baiknya guna mencapai segala kebaikan, menjauhi segala kejahatan dhahir bathin yang bertalian dengan jasmani maupun rohani, yang selalu diselimuti bujukan nafsu, digoda oleh perdaya syetan. Wasiat ini harus dilaksanakan dengan seksama oleh segenap murid-murid agar supaya mencapai keselamatan dunia dan akhirat.”

Amalan TQN Suryalaya, terutama dzikir, itu bukan sekadar wiridan lisan semata. Itu adalah riyadhah (latihan) hati untuk mengukuhkan iman. Diamalkan sungguh-sungguh supaya hati kita bersih. Hati yang bersih akan membuat pohon keimanan tumbuh subur, sehingga ringan melakukan kebaikan dan berat untuk berbuat kejelekan.’’.

Amalan TQN Suryalaya, terutama dzikir, itu bukan sekadar wiridan. Itu adalah latihan hati. Diamalkan sungguh-sungguh supaya hati kita bersih. Hati yang bersih akan mudah mencapai kebaikan dan akan berat untuk berbuat jelek.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Ketahuilah, dzikir itu bukan hanya menghidupkan hati. Dzikir juga adalah pisau ruhani untuk menyembelih sifat-sifat kehewanan yang bersarang di dalam diri kita. Di dalam diri kita ada sifat rakus, dengki, sombong, malas, dan amarah. Inilah “hewan-hewan” batiniah yang harus kita kurbankan demi menyelamatkan iman kita.

Hakikat kurban Nabi Ibrahim AS bukan sekadar menyembelih domba, melainkan menyembelih kecintaan kepada selain Allah dari dalam hati. Dan pisau tajam untuk menyembelihnya adalah konsistensi dzikir kita. Saat lisan dan hati kita basah dengan La ilaha illallah, maka eksistensi iman akan tegak. Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Barang siapa yang mengucapkan La ilaha illallah serta dipanjangkannya dengan maksud mengagugkan, maka dihancurkan baginya darinya 400.000 dosa besar.”

Allahu Akbar! Dosa besar saja bisa rontok dengan izin Allah melalui dzikir yang ikhlas, apalagi karat-karat penghalang iman seperti dengki, sombong, dan malas. Maka Idul Adha ini adalah momentum ganda bagi kita:

  1. Kita qurban hewan di luar, sebagai syiar Islam.
  2. Kita qurban sifat buruk di dalam, lewat perbanyak dzikir La ilaha illallah.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Jamaah Idul Adha yang berbahagia,

Maka dari itu, Idul Adha ini adalah momentum ganda bagi kita untuk memahami esensi qurban dalam dua dimensi iman yang saling menyempurnakan:

Secara syari’at, qurban adalah ibadah menyembelih hewan ternak yang dibatasi oleh ruang dan waktu, yaitu hanya dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulhijjah dan hari-hari Tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah) demi mendekatkan diri kepada Allah serta sebagai syiar Islam.

Dalam konteks tarekat, qurban memiliki makna yang lebih luas dan tidak dibatasi oleh ruang maupun waktu. Sepanjang tahun, setiap detik dalam hidup, kita dituntut melakukan “qurban dalam”, yaitu menyembelih sifat-sifat kehewanan (syabuiyah), seperti kerakusan, kesombongan, dengki, dan hawa nafsu—yang menjajah iman di dalam dada kita.

Qurban syariat tanpa dibarengi qurban dalam (tarekat) hanya akan menghasilkan tumpukan daging dan darah yang tidak sampai kepada Allah SWT. Namun, jika keduanya berpadu, tatkala hati kita sudah berdzikir dan bersih, maka qurban tersebut akan memancarkan kualitas iman yang sejati, dan daging qurban lahiriah itu akan menjadi saksi yang menyelamatkan kita di hadapan Allah SWT.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Maka setelah Idul Adha ini, jangan pernah berhenti. Jangan sampai kita hanya rajin beribadah di hari raya saja. Istiqamahkan dzikir kita. Jaga lisan kita untuk terus menyebut nama Allah, dan jaga hati kita agar iman tidak mati.

Karena orang yang benar-benar beriman adalah orang yang hatinya hidup dengan dzikir, lisannya basah dengan dzikir, sehingga badannya ringan untuk berbuat baik serta berat untuk berbuat maksiat.

Semoga Allah SWT menerima qurban kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mukmin sejati. Akhirnya, semoga Allah SWT senantiasa memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita sehingga kita mampu melaksanakan qurban baik secara syariat maupun tarekat. Amin ya rabbal’alamin.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هو الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah Kedua

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ  اللهُ أَكْبَرُ  اللهُ أَكْبَرُ  اللهُ أَكْبَرُ  اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

الحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقَهُ الْقُرْآنُ

أَمَّا بَعْدُ، فَأُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاتَّقُوا اللهَ تَعَالَى فِي هَذَا الْيَوْمِ الْعَظِيمِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الطَّيِّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الصَّالحينَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ

. وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ. وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ . وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِرَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ. ر بَّنَا أَنزِلْنِى مُنزَلًۭا مُّبَارَكًۭا وَأَنتَ خَيْرُ ٱلْمُنزِلِينَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، عِيْدٌ سَعِيْدٌ وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ

Nana Suryana, M.Pd. (Ketua II LDTQN Pontren Suryalaya)

Related Articles

Back to top button