Khutbah

Khutbah Idul Fitri: KEMENANGAN YANG SESUNGGUHNYA

Khutbah I

    اللَّه أَكْبَرُ ٣×. اللَّه أَكْبَرُ ٣×. أَكْبَرُاللهُ أ٣×. اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً.  لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ. وَاللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ  اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَ اْلفِطْرِ بَعْدَ صِياَمِ رَمَضَانَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ اْلعَظِيْمُ اْلاَكْبَرْ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الشَّافِعُ فِي الْمَحْشَرْ. نَبِيٌّ قَدْ غَفَرَ اللهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ. اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ أَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّرْ أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ الكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ، وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

اللهُ أَكْبَرُ ٣× لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

Jama’ah shalat Idul Fitri rahimakumullah,

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, atas qudrat dan iradat-Nya, kita masih diberi berbagai nikmat, terutama nikmat iman, islam, serta ihsan. Kita pun bersyukur dengan mengucap alhamdulillah, karena masih diberikan panjang umur dalam keadaan sehat wal-afiat, sehingga di pagi yang penuh kebahagiaan dan kegembiraan ini, dapat melaksanakan ibadah salat sunnat idul fitri, semoga ibadah kita diterima Allah SWT. Selain itu kita juga wajib bersyukur kepada Allah SWT, karena telah dapat melaksanakan ibadah suam selama satu bulan penuh, dengan harapan semoga ibadah saum kita diterima Allah SWT. Amin ya rabbal alamin.

Salawat dan salam, semoga senantiasa dilimpahcurahkan kepada baginda alam, rasul pilihan, rahmatan bagi seluruh alam, yakni habiibanaa wanabiyyanaa, kangjeng nabi Muhammad SAW. Tak lupa semoga pula salawat dan salam, Allah sampai juga kepada keluarganya, sahabatnya, para tabiin dan taabittaabiin, serta semoga pula sampai kepada ummatnya yang senantiasa menghidupkan sunnah-sunnah-nya, hingga akhir jaman. Amin ya rabbal Alamin.

Selanjutnya khatib berwasiat, marilah kita tingkatkan keiman dan ketakwaan kita dengan senantiasa berikhtiar melaksanakan segala perintah Allah dan menjauh larangan-larangan-Nya.

اللهُ أَكْبَرُ ٣× لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

Jama’ah shalat Idul Fitri rahimakumullah,

Hari ini kita telah merampungkan ibadah saum berikut rangkaian ibadah-ibadah sunnah di dalamnya. Hari ini pula kita sedang menikmati hari kemenangan. Setelah kita meraih momen kemenangan, apa yang harus kita perbuat? Apakah berbangga diri dengan pencapaian spiritual yang telah dicapai? Atau merayakannya dengan penuh suka cita? Atau apa? Sejenak kita bermuhasabah.

اللهُ أَكْبَرُ ٣× لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

Idul Fitri bukan seperti turnamen olah raga yang kemenangannya harus dirayakan dengan euforia dan penuh kebanggaan. Kemenangan Idul Fitri adalah ketika kita berhasil meraih kematangan spiritual dan sosial setelah satu bulan penuh digembleng dan dididik di bulan ramadan   

Secara spiritual, selama Ramadhan umat Muslim telah melakukan serangkaian ibadah. Mulai dari puasanya sendiri maupun ibadah-ibadah sunnah di dalamnya seperti shalat tarawih, tadarus al-Qur’an, beri’tikaf di masjid, berzikir, dan sebagainya. Sudah seharusnya jika melalui bulan suci ini dengan maksimal dan melaksanakan beragam amalan di dalamnya, kita akan merasakan sentuhan dan pencapaian spiritual setelah bulan suci ini berlalu. Allah SWT berfriman

    يٰٓـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا كُتِبَ عَلَيۡکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيۡنَ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُوۡنَ  

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 183).   

Dalam konteks puasa Ramadhan, predikat takwa tak bisa digapai dengan sebatas menahan lapar dan dahaga. Ada hal yang lebih substansial yang perlu ditahan, yakni tergantungnya hati manusia kepada hal-hal selain Allah dan mengendalikan hawa nafsu.

Orang yang berpuasa dengan sungguh-sungguh, dia akan mampu mencegah dirinya dari segala macam perbuatan tercela semacam mengubar syahwat, berbohong, bergunjing, merendahkan orang lain, riya’, menyakiti pihak lain. Dia akan mampu pula menjaga hati agar selalu berzikir kepada Allah SWT. Tanpa itu semua, puasa kita mungkin sah secara fiqih, tapi belum tentu sah menurut ilmu tarikat dan hakikat. Rasulullah  pernah bersabda:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

Artinya: “Banyak orang yang berpuasa, namun ia tak mendapatkan apa pun dari puasanya selain rasa lapar saja.” (HR Imam Ahmad).

Puasa tahun ini sudah kita lewati dan tak ada jaminan kita bakal bertemu ramadan lagi, pertanyaannya lebih cocok adalah bukan saja “kemenangan atas apa yang sedang kita nikmati hari ini?” tapi juga “apa tanda-tanda kita telah mencapai kemenangan?”. Jangan-jangan kita hanya termasuk golongan yang sekadar mendapatkan lapar dan dahaga, tanpa pahala? Naudzubillah.

Jika standar capaian tertinggi puasa adalah takwa, maka tanda-tanda bahwa kita sukses melewati ramadan pun tidak terlepas dari ciri mutakkin  (orang-orang yang bertakwa). Semakin tinggi kualitas takwa, indikasi semakin tinggi pula kesuksean berpuasa. Demikian juga sebaliknya, semakin hilang kualitas takwa dalam diri kita, pertanda semakin gagal kita sepanjang ramadan

Lantas, apa saja ciri-ciri orang bertakwa? Ada banyak ayat al-Qur’an yang menjelaskan ciri-ciri orang takwa. Satu diantaranya adalah surat  Asy-Syura (42) ayat 38.

وَٱلَّذِينَ ٱسْتَجَابُوا۟ لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَـٰهُمْ يُنفِقُونَ

Artinya: ‘‘Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka’’.

Baca Juga  Khutbah Jumat: Maulid Momen Menjaga Akhlak

Ayat ini turun berkaitan dengan golongan kaum Anshar ketika di ajak oleh Rasulullah saw. untuk bermain, mereka menyambut dengan baik ajakan Rasulullah saw. dan bagi mereka diberikan ganjaran yang lebih baik dan kekal di sisi Allah. Dalam ayat ini berjalan beririsan dengan ketiga pilar keimanan (ketaatan kepada perintah Allah, mendirikan salat dan menunaikan zakat). Ayat ini merupakan ayat Makkiyah yang turun sebelum keberadaan Islam telah menjadi negara kuat.

Menurut sebagian mufasir, ayat ini berisi pujian kepada kelompok orang Anshar yang membela Nabi Muhammad saw. dan menyepakati hal tersebut melalui musyawarah yang dilaksanakan di rumah Abu Ayyub al-Ansari. Walaupun khitab ayat ini bersifat khusus, namun pesan intinya berlaku universal dan berlaku bagi kita juga.

Selain itu ayat ini juga berisi tentang seruan Allah Swt. untuk mendirikan Salat dengan khusyu dan berkeseimbangan serta terus menerus sesuai dengan rukun dan fardhunya. Dan terdapat juga perintah untuk melaksanakan musyawarah. Kemudin perintah untuk berinfaq di jalan Allah Swt. Memberikan sebagian harta atau rezeki kepada orang yang lebih membutuhkan. Ayat ini dengan tegas menjelaskan bahwa Iman tidak hanya menyangkut individu saja, tetapi juga menyangkut orang lain. Tidak terbatas hubungan dengan tuhan saja, tetapi menyangkut hubungan dengan manusia

اللهُ أَكْبَرُ ٣× لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

Melalui ayat ini, kita mendapat gambar tentang ciri orang yang bertakwa; Pertama, orang yang mematuhi seruan Tuhannya (Allah). Ada banyak terkait seruan Allah SWT. Satu diantaranya adalah seruan berzikir. Allah SWT berfirman dalam Surat An-Nisa (4) ayat 103.

فَإِذَا قَضَيْتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ قِيَـٰمًۭا وَقُعُودًۭا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا ٱطْمَأْنَنتُمْ فَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ ۚ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتْ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ كِتَـٰبًۭا مَّوْقُوتًۭا

Artinya: ‘’Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman’’.

            Bagi kita sebagai ikhwan TQN Pondok Pesantren Suyalaya, praktik zikir setelah salat telah diajarkan dan dicontohkan guru mursyid, Syaikh KH. Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin ra. Tugas kita mengamalkan dengan sungguh-sungguh sesuai petunjuk dan pedoman yang telah digariskan oleh guru muryid. Kenapa kita harus berzikir? Syaikh Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin dalam kitab miftahushudur pada bahasan faidah dzikir, menjelaskan diantara faidah zikir adalah kita akan mendapat ketenangan, ketentraman dan sekaligus menghilangkan kebimbangan, lupa dan gundah gulana. Beliau mengutif ayat al-Quran surat ar-Ra’d ayat 28.

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

Artinya : ‘’(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. ar-Ra’d: 28).

Abdul Wahab As-Sya’rani ra. berkata, ketahuliah sesunggunya dengan mendawamkan zikir kepada Allah SWT. Maka hilanglah berbagai penyakit hati seperti sombong, ujub, riya, hasad, buruk sangka, dengki, senang dipuji, dan berbagai penyakit sejenisnya.

Mudah-mudahan selepas ibadah saum ini, kualitas dan kuantitas amaliah zikir kita semakin meningkat. Amin ya rabbal alamin.

    اللهُ أَكْبَرُ ٣×، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ 

Jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah,

Ciri takwa yang kedua adalah mendirikan salat.Terkait dengan mendirikan salat, guru kita pun telah memberi contoh. Beliau senantiasa melaksankan salat di awal waktu. Bahkan 10 menit sebelum adzan berkumandang, beliau sudah duduk di atas sejadah. Dalam salat, beliau selalu berpakaianrapih. Dalam pelaksanaan salat beliau contohkan dengan tertib, tenang, dan khusyu. Selepas salat, dilanjutkan dengan amaliah zikir baik jahar dan zikir khofi.

Dalam berzikir beliau senantiasa memperhatikan syarat dan tata caranya. Wudlu yang sempurna, pukulan yang kuat, dan suara yang keras. Jumlahnya tidak kurang dari 165. Pada saat menucapkan kalimah laailaahaillah, senantiasa diucapkan dengan tertib, fasih, dan seirama. Pada saat zikir khafi pun beliau contohkan. Dalam beberapa wejangannya, beliau mengingatkan kita agar dalam pelaksanaan zikir khofi dilaksnakan minimal 5 menit.

Bagi ikhwan TQN Suryalaya  mendirikan salat bukan hanya salat fardu, tetapi ada banyak salat-salat sunnat. Dalam buku Ibadah, pangersa Abah Anom telah meruntut salah-salat tersebut, dari mau tidur sampai mau tidur lagi.  Selama bulan Ramadhan kemarin, kita tentu berusaha melaksananya. Kita berharap semoga praktik salat-salat tersebut, baik yang wajib maupun yang sunat dapat kita praktikan di bulan-bulan berikutnya secara istiqomah.

    اللهُ أَكْبَرُ ٣×، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ 

Jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah,

Ciri yang ketiga adalah dalam hal urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka. Orang yang bermusyawarah harus menyiapkan mental untuk selalu memberikan maaf. Karena mungkin saja saat musyawarah terjadi perbedaan pendapat, atau keluar kalimat-kalimat yang menyinggung perasaan orang lain. Bila hal itu masuk kedalam pikiran akan mengeruhkan pikiran, bahkan akan mengubah musyawarah menjadi pertengkaran. Allah telah mengingatkan dalam ayat lain.

فَبِمَا رَحْمَةٍۢ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ

Artinya: ‘’Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya’’. (QS. Ali-Imran (3) ayat 159)

Baca Juga  Khutbah Idul Adha : Nilai Pendidikan Dalam Ibadah Kurban Bagi Orang Tua

Sifat pemaaf ini penting dalam kehidupan. Oleh karenanya guru agung, Syaikh Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin, dalam salah satu maklumatnya, khusus menjelang malam lailatul qodar, selain dianjurkan melaksanakan salat sunat lailatul qodar juga dianjurkan memperbanyak membaca

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ اْلعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Wahai Tuhan, Engkau Maha Pengampun, menyukai orang yang minta ampunan, ampunilah aku.”

Sepanjang Ramadhan, kita berusaha memperbanyak permohonan maaf kepada Allah dengan membaca doa tersebut. Kata ‘afw (maaf) diulang tiga kali dalam kalimat tersebut, menunjukkan bahwa manusia memohon dengan sangat serius ampunan dari Allah SWT. Memohon ampun merupakan bukti kerendahan diri di hadapan-Nya sebagai hamba yang banyak kesalahan dan tak suci. Cara ini, bila dipraktikkan dengan penuh pengahayatan, sebenarnya melatih orang selama ramadan tentang pentingnya maaf. Bila diri kita sendiri saja tak mungkin suci dari kesalahan, alasan apa yang kita tidak mau memaafkan kesalahan orang lain?

Maaf merupakan sesuatu yang singkat, namun bisa terasa sangat berat karena persoalan ego, gengsi, dan unsur-unsur nafsu lainnya. Kemampuan memaafkan akan dimiliki seseorang ketika kebersihan serta kesucian hatinya telah terwujud. Bagaimana agar kebersihan dan kesucian hati terwujud? Rasullah SAW bersabda: “sesungguhnya segala sesuatu itu ada alat pembersihnya, dan pembersih hati dari segala penyakitnya adalah zikir kepada Allah SWT.’’ Zikir juga merupakan kalimat yang agung yang mampu menghilangkan penyakit-penyakit hati.  وَلَذِكْرُ ٱللَّهِ أَكْبَرُ

            اللهُ أَكْبَرُ ٣× لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

Ciri takwa yang keempat adalah menafkahkan sebagian dari rezeki kepada orang lain. Orang bertakwa tidak akan sibuk hanya memikirkan diri sendiri. Ia mesti berjiwa sosial, menaruh empati kepada sesama, serta rela berkorban untuk orang lain dalam setiap keadaan. Ia tidak hanya suka memberi kepada orang yang dicintainya, tapi juga kepada orang-orang memang membutuhan bantuan serta pertolonganya.

Dalam konteks Ramadhan dan Idul Fitri, sifat takwa ini sebenarnya sudah mulai didorong oleh Islam melalui ajaran zakat fitrah. zakat fitrah merupakan simbol bahwa “rapor kelulusan” puasa harus ditandai dengan mengorbankan sebagian kekayaan kita dan menaruh kepedulian kepada mereka yang lemah.

Bagi Ikhwan TQN Pondok Pesantren Suryalaya, sikap dan perilaku mencintai dan suka memberi kepada orang lain, sejatinya harus menjadi kebiasaan, karakter, dan akhlak, setiap waktu. Karena sikap dan perilaku tersebut, merupakan perwujudan dari akhlakul karimah. Kita telah dingatkan dalam Tanbih, wasiat guru agung, Syaikh KH. Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad Ra.

‘’Terhadap oarang-orang yang keadaannya di bawah kita, janganlah hendak menghinakannya atau berbuat tidak senonoh, bersikap angkuh, sebaliknya harus belas kasihan dengan kesadaran, agar mereka merasa senang dan gembira hatinya, jangan sampai merasa takut dan liar, bagaikan tersayat hatinya, sebaliknya harus dituntun dibimbing dengan nasehat yahng lemah-lembut yang akan memberi keinsyafan dalam menginjak jalan kebaikan. ‘’Terhadap fakir-miskin, harus kasih sayang, ramah tamah serta bermanis budi, bersikap murah tangan, mencerminkan bahwa hati kita sadar. Coba rasakan diri kita pribadi, betapa pedihnya jika dalam keadaan kekurangan, oleh karena itu janganlah acuh tak acuh, hanya diri sendirilah yang senang, karena mereka jadi fakir-miskin itu bukannya kehendak sendiri, namun itulah kodrat Tuhan.

    اللهُ أَكْبَرُ ٣×، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ 

Jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah,

Ramadhan sudah selesai. Selain terus melaksanakan ciri-ciri orang takwa tersebut, kita harus senatiasa menanamkan sikap khauf dan rajā’. Khauf adalah kekhawatiran apakah ibadah kita diterima oleh Allah swt atau tidak, sehingga kita tidak terlalu puas dan berbangga diri dengan pencapaian ibadah yang telah dilakukan. Sementara rajā’ adalah sikap optimisme bahwa Allah dengan sifat kasih sayang-Nya pasti mau menerima amal ibadah yang kita lakukan.   

Orang yang ibadahnya tidak didasari sifat khauf akan terlalu percaya diri dengan ibadah yang telah dilakukannya sehingga dikhawatirkan merasa cukup dengan amal yang telah dilakukan. Sementara sifat rajā’ diperlukan agar kita tidak putus asa kepada Allah swt. Sifat raja’ ini dilakukan dengan rasa optimis bahwa Allah menerima ibadah yang telah kita perbuat. Sebab, Allah sesuai perasangka hamba-Nya.   

Imam Al-Ghazali dalam Iḥya’ ‘Ulūmiddīn menyampaikan:

    أَنْ يَكُوْنَ قَلْبُهُ بَعْدَ الإِفْطَارِ مُعَلَّقاً مُضْطَرِبًا بَيْنَ الْخَوْفِ وَالرَّجَاءِ إِذْ لَيْسَ يَدْرِي أَيُقْبَلُ صَوْمُهُ فَهُوَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ أَوْ يُرَدُّ عَلَيْهِ فَهُوَ مِنَ الْمَمْقُوتِينَ وَلْيَكُنْ كَذَلِكَ فِي آخِرِ كُلِّ عِبَادَةٍ يَفْرَغُ 

Artinya, “Setiap selesai berbuka puasa, seyogyanya kita merasa khawatir sekaligus menaruh harap kepada Allah. Khawatir jangan-jangan ibadah kita tidak diterima, juga berharap bahwa Allah menerimanya. Sebab, kita tidak tahu apakah puasa kita diterima sehingga termasuk hamba yang dekat di sisi Allah, atau sebaliknya ditolak sehingga kita termasuk hamba yang mendapat murka-Nya. Sikap seperti ini harus diterapkan setiap selesai melakukan ibadah apapun.” (Al-Ghazali, Ihya ‘Ulumiddin, [2016], juz I, halaman 319).   

Imam Al-Ghazali berpesan agar setiap selesai berbuka puasa kita menerapkan sikap khauf dan rajā’ terhadap puasa yang sudah kita laksanakan. Untuk satu ibadah berupa puasa saja perlu ditanamkan prinsip ini apalagi setelah selesai selesai satu bulan dengan segala amalan sunah di dalamnya.    Bayangkan, orang yang sudah beribadah maksimal saja tidak boleh berbangga diri dan terlalu percaya diri dengan amalnya, apalagi mereka yang ibadahnya biasa-biasa saja.

Baca Juga  Khutbah Jum'at: Keutamaan Ibadah pada bulan Rajab

    اللهُ أَكْبَرُ ٣× لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ  

Jama’ah shalat Idul Fitri rahimakumullah,

Puasa tidak saja ibadah yang memiliki spiritual, tetapi juga ritual keagamaan yang mendidik kepekaan sosial pengamalnya. Saat kita berpuasa sejatinya kita sedang digembleng agar memiliki rasa empati tinggi. Sebab orang yang berpuasa akan merasakan betapa payahnya menahan lapar dan haus selama kurang lebih tiga belas jam dalam kurun waktu satu bulan.   

Saat Idul Fitri sudah tiba, sudah seharusnya kita mencapai titik empati sedemikian rupa karena sudah melalui hari-hari berpuasa selama satu bulan. Mari kita renungi kembali pada momen suci ini. Sudahkah kita merasakan hari kemenangan dengan meraih nilai-nilai kemenangan yang seharusnya? Kemenangan yang bukan karena kita telah finish melewati jalan terjal ramadan, tetapi kemenangan sesungguhnya yang tidak saja berupa kematangan spiritual, melainkan juga pencapaian kepekaan sosial yang seharusnya diraih.

    اللهُ أَكْبَرُ ٣× لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ 

Jama’ah shalat Idul Fitri rahimakumullah,

Puasa sendiri sejatinya representasi dari sejumlah ibadah yang ada. Sebab, sebagaimana puasa, ibadah-ibadah lain juga memiliki semangat spiritual dan sosial yang harus kita raih kedua-duanya. Sibuk mencari pencapaian spiritual saja tapi mengabaikan aspek sosialnya hanya akan membuat kita buta terhadap lingkungan kita hidup. Sebaliknya, terlalu sibuk dengan aspek sosial tapi mengabaikan sisi ritualnya hanya akan membuat kita jauh dari Allah swt. Dalam satu hadits diriwayatkan:

   عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، فُلَانَةُ تَصُومُ النهار ، وتقوم اللَّيْلَ ، وَتُؤْذِي جِيرَانَهَا . قَالَ : هِيَ فِي النَّارِ . قَالُوا : فُلَانَةُ تُصَلِّي الْمَكْتُوبَاتِ ، وَتَصَدَّقُ بِالْأَثْوَارِ مِنَ الْأَقِطِ ، وَلَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا ؟ قَالَ : هِيَ فِي الْجَنَّةِ 

Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata, ‘Sekalompok sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, ada seorang perempuan ahli puasa dan ahli ibadah malam, tapi dia masih suka menyakiti tetangganya. Bagaimana pendapatmu?’ Rasul menjawab, ‘Dia akan masuk neraka.’ Mereka bertanya lagi, ‘Ada pula seorang perempuan yang hanya menunaikan shalat lima waktu, bersedekah dengan sepotong keju, dan tidak menyakiti tetangganya. Bagaimana pendapatmu?’ Rasul menjawab, ‘Dia akan masuk surga.’” (HR Al-Hakim).   

Dari hadits ini dapat dipahami bahwa shalat yang merupakan tiang agama saja tidak menjamin kita masuk surga jika kita masih berbuat buruk kepada sesama manusia.  Demikianlah khutbah Idul Fitri yang khatib sampaikan. Semoga di momen kemenangan ini membuat kita merasakan kemenangan yang hakiki. Kemenangan yang tidak saja menandai kita telah merampungkan satu bulan berpuasa, tetapi juga telah mencapai kematangan spiritual dan sosial yang sesungguhnya. 

Mengakhiri khutbah ini, mari kita jadikan momen idul fitri ini untuk terus menjalin sillaturhami dan saling memaafkan, terutama dengan para guru, orang tua, tentangga dan handai taulan. Semoga melalui silaturhami dan saling memaafkan, kita kembali fitrah dan meraih kemenangan yang hakiki.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إيْمَا نًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: “Barangsiapa berpuasa dibulan Ramadhan karena Iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu,” (HR Bukhari dan Muslim)

   تقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ عِيْدِنَا، وَأَعِدْهُ عَلَينَا أَعْوَامًا عَدِيْدَةً أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءً فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦٓ إِخۡوَٰنًا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَةٍ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنۡهَاۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ 

Khutbah II

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ
 
اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ.

. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَات  

وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّه وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِرَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ. ر بَّنَا أَنزِلْنا مُنزَلًۭا مُّبَارَكًۭا وَأَنتَ خَيْرُ ٱلْمُنزِلِينَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Penulis: Ust. Nana SUryana, S.Ag., M.Pd. (Ketua II LDTQN Pontren Suryalaya, Ketua Prodi PGMI IAILM Suryalaya)

Download File

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button