Cakrawala Tasawuf

PUASA DALAM PANDANGAN SYEKH ABDUL QODIR AL-JAILANI Q.S.

Sebagai seorang sufi, Syekh Abdul Qodir al-Jailani Qoddasalláhu Sirrah (As-Syaikh Q.S) selalu memandang segala hal dengan dua pandangan, lahir dan batin, atau syari’at dan hakikat. Dengan kata lain, pandangannya tidak berhenti pada kulit luar saja, melainkan tembus ke dalam hakikat yang menjadi inti sesuatu, memandangnya pun dengan bantuan cahaya Allah Swt. (bi núrilláh) sebagaimana pandangan seorang Ulúl Albáb (silahkan lihat kembali Tafsir Ulúl Albáb dalam Edisi terdahulu).

Demikian juga pandangannya terhadap puasa, memandangnya dengan kacamata syari’at dan hakikatnya. Al-Imsák (menahan) dalam kaitannya dengan puasa, Beliau membaginya dengan al-Imsák al-Makhshúsh dan al-Imsák al-Muthlaq. al-Imsák al-Makhshúsh (proses menahan sesuatu yang telah ditentukan) adalah menahan sesuatu dari mulai terbitnya fajar kedua (fajar shidiq) sampai terbenamnya Matahari pada bulan yang telah diketahui (Ramadhan) dengan lisan syari’at, niat. Sementara al-Imsák al-Muthlaq yang disebutnya juga sebagai al-I’rád al-Kullí (penolakan total) adalah proses menahan dan menolak total segala hal selain Allah Yang Maha Haq. (lihat Tafsir Al-Jailani: I/157-8).

Puasa dalam arti al-Imsák al-Makhshúsh adalah puasa syari’at, yaitu menahan segala syahwat perut dan syahwat seksual dari mulai terbit fajar shadiq sampai terbenam Matahari. Ini puasa orang-orang awam, atau puasanya umum. Sementara puasa dalam arti al-Imsák al-Muthlaq adalah puasanya Ulun-Nuhá wal Yaqín, yaitu mereka yang telah diberi keterbukaan (mukásyafah) terhadap segala rahasia atau inti alias hakikat segala urusan/ masalah. Bagi level ini, puasa dianggap batal manakala hati lalai atau lupa kepada Allah, meski sekejap mata; puasa dianggap batal manakala terbersit dalam hati pandangan pada dunia. Al-Ghazali menyebut puasa ini dengan puasa khowwásil khowás (puasa orang-orang yang paling utama/ istimewa).

Baca Juga  Dzikir Nafi dan Itsbat Sebagai Magnet Rezki ?

Selaku orang awam, bukan berarti kita hanya cukup memandang bahwa puasa mutlak itu bukan untuk kita, “itu sih bagiannya orang-orang khusus yang telah sampai pada maqomnya, waliyulloh.” Ini hanyalah pernyataan pesimis alias pernyataan dari jiwa yang tidak memiliki cita-cita tinggi dan harapan untuk menuju Allah Swt. Sebab jika memang itu hanyalah milik orang-orang khusus atau wali Allah tentu saja orang-orang tersebut sudah habis dan tidak akan pernah ada lagi. Ini adalah keliru. Sebab Allah akan tetap menghadirkan wali-wali-Nya sampai ditutupnya kewaliyan setelah Nabi Isya a.s turun ke muka Bumi (lihat Jamí’ul Ushúl fil Auliyá). Tidak akan ada puncak kalau tidak ada tahapan atau tangga dari bawah. Tidak akan ada wali Allah kalau tidak ada regenerasi. Wali Allah itu asalahnya awam juga. Mereka bisa naik ke maqom waliyulloh karena memiliki cita-cita tinggi (Himmatul ‘Áliyah) dan tekad kuat (Nufúdzul ‘Uzmah) untuk terus bermujahadah dalam setiap helaan nafas hidupnya sehingga dinaikkan oleh Allah derajatnya dari awam menjadi orang utama (khás) dan kemudian naik lagi pada derajat paling utama (khowásil khowás).

Sebagai orang yang tengah belajar bertarekat, setidaknya harus memiliki himmatul ‘áliyah dan nufúdzul ‘uzmah sebagaimana yang disebutkan oleh Pangeresa Abah Anom dalam kitab Mifttáhushshudúr. Pemilik kedua nilai ini, akan memandang puasa hakikat sebagai suatu tantangan yang harus dicapai. Tidak sekedar menganggap itu sebagai “porsi para wali.” Apakah kita tidak mau menjadi orang yang dikasihi Allah, apakah kita tidak mau menjadi bagian dari para Rijálullóh?

Dari itu, mari kita bersama-sama menguatkan tekad untuk memancangkan Himmatul ‘Áliyah dalam jiwa kita. Himmatul ‘Áliyah-nya adalah puasa mutlak tersebut. Caranya adalah dengan mulai meniti tahapan demi tahapannya sebagaimana yang ditunjukkan As-Syaikh q.s dalam kitabnya, Sirrul Asrór di fasal ke-17 perihal puasa.

Baca Juga  Istiqomah setelah Ramadhan

Saum atau puasa syari’at adalah menahan diri dari segala makanan, minuman dan jima’ di siang hari. Setiap muslim sudah tahu dan mengerti hal ini, dan terhadap puasa seperti ini tentu saja anak kecil juga banyak yang sukses. Jika saja orang dewasa dan orang lanjut usia masih bertahan dalam zona puasa ini, tentu saja tidak ada bedanya dengan puasanya anak kecil. Seorang salik alias pembelajar dan pengamal tarekat seyogyanya mulai meniti tahapan puasa tarekat. Yaitu tidak saja menahan diri dari makanan, minuman dan jima, namun juga menahan seluruh anggota badannya dari segala hal yang diharamkan, dilarang dan dari sifat-sifat tercela seperti; ujub, takabbur, bakhil, dan sebagainya, baik dzahir maupun batin. Sebab semua ini dianggap membatalkan puasa dalam pandangan tarekat.

 Jika puasa syari’at terikat waktu, puasa tarekat sepanjang waktu alias sepanjang usia, tidak hanya dalam waktu-waktu puasa. Berkaitan dengan ini, Nabi mengatakan: “Betapa banyak orang yang puasa namun tidak mendapatkan apa-apa kecuali hanya lapar…” (HR. Imam Ahmad). Ini karena si sho’im tidak mau menaikkan level puasanya.

Atas dasar itu pula disebutkan bahwa banyak orang berpuasa padahal sesungguhnya tidak, sebab mereka hanya menahan dari makanan, minuman dan jima’. Sementara dikatakan pula bahwa banyak orang tidak puasa namun hakikatnya puasa, karena menahan anggota badannya dari perbuatan dosa dan dari perbuatan yang menyakiti manusia. Karena itulah disebutkan dalam Hadits Qudsi bahwa puasa itu hanya untuk-Ku dan Akulah yang akan memberinya pahala, hal ini karena memang hakikat puasa tidak ada yang mengetahuinya kecuali dirinya dengan Tuhannya.

Imam Bukhari, Imam Muslim dan Imam Ahmad meriwayatkan Hadits Qudsi berikut ini: “Ada dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa, yaitu kebahagiaan waktu berbuka dan kebahagiaan waktu melihat keindahan-Ku (ru’yati jamálí).”

Ahli Syari’at berpendapat bahwa “waktu buka” itu adalah waktu Maghrib, sementara“waktu melihat keindahan-Ku” adalah waktu melihat hilal malam ‘Idul fitri. Sementara Ahli Tarekat berpendapat “waktu berbuka” itu adalah waktu masuk ke dalam Surga berbuka dengan makanan yang menjadi kenikmatan di dalamnya dan “waktu melihat keindahan-Ku” itu adalah waktu bertemu dengan Allah pada hari kiamat. Dianggap demikian sebab puasa tarekat itu sepanjang umur, yang berarti berbukanya pada saat tutup usia.

Baca Juga  Bahasa Rindu, Bahasa Guru

Bagi orang yang bermujahadah dengan puasa tarekat, tentu saja Allah akan memberikan anugrah-Nya untuk menaiki level puasa Hakikat, Insya Alláh. Semoga kita diberi kemampuan oleh-Nya untuk memancangkan himmatul áliyah dalam jiwa kita sehingga kita diberi lagi kemampuan untuk melaksanakan puasa tarekat, berkah karomah Guru Agung Pangeresa Abah Sepuh dan Pangeresa Abah Anom. Amin Alfátihah.

Walláhu a’lam bis-showáb.

Acep A. RIjalulloh, M.Ag. (Divisi Literasi Tasawuf)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button