Cakrawala Tasawuf

MENJAGA ORISINALITAS AMALIYAH

Pendahuluan

Alloh SWT ingin dikenal (diketahui), maka diciptakanlah makhluk, termasuk manusia. Untuk manusia, agar mengenal Alloh (ma’rifat) dengan sebaik-baiknya, maka manusia dari alam asalnya diturunkan ke alam dunia. Manusia hakiki (ruh) diturunkan oleh Alloh SWT dari alam asalnya ke alam dunia ini melalui beberapa tahapan/alam, yaitu dari mulai alam Lahut, Malakut, Jabarut sampai ke Nasut. Setiap tahapan dilalui dalam proses ruhaniyah.

Dalam diri manusia terdapat nafsu dan syetan, dimana keduanya selalu mempengaruhi manusia ketika mengarungi kehidupan di alam Nasut (dunia) ini. Nafsu dan syetan mempengaruhi manusia dengan menggodanya terus-menerus agar manusia tidak bisa mencapai tujuan dari diciptakan dan diturunkannya manusia tersebut, yaitu mengenal Alloh dengan sebaik-baiknya (ma’rifat). Artinya, ketika manusia tergoda oleh nafsu dan syetan, manusia akan mendapatkan dosa dan dosa menjadikan manusia menjauh dari Alloh, atau bertambah hijabnya dari Alloh. Manusia yang jauh atau terhijab (terhalang) dari Alloh, akan sulit untuk mengenal Alloh dengan baik. Hal ini seperti halnya mengenal suatu benda. Benda itu akan jelas terlihat jika berada pada jarak yang dekat dan tidak ada yang menghalanginya.

Di alam dunia ini, manusia tercipta sebagai makhluk individual sekaligus makhluk sosial. Sebagai makhluk individual manusia diberikan fisik, intelektualitas, emosi dan bakat yang berbeda satu sama lain. Dan sebagai makhluk sosial manusia tidak bisa menjalani kehidupan di alam dunia ini tanpa ada manusia lainnya atau berinteraksi dengan manusia lainnya. Selain itu, manusia sebagai makhluk di dunia ini hidup dalam suatu lingkungan alam. Lingkungan alam di dunia ini berbeda-beda, sehingga hal ini kemudian mempengaruhi munculnya budaya yang beragam. Selain itu, sejauh ini sumber daya alam itu terbatas, sedangkan manusia yang membutuhkannya terus bertambah.

Uraian di atas ingin menunjukan bahwa manusia dalam mengarungi kehidupannya di dunia ini dipengaruhi hal-hal berikut: nafsu, syetan, kondisi fisik, intelektualitas, emosi, bakat, lingkungan dan sumber daya alam. Dinamika kehidupan manusia yang dipengaruhi oleh banyak hal tersebut, kemudian memunculkan istilah kaya, miskin, indah, buruk, baik, jahat, kenyang, lapar, sukses, gagal, menang, kalah, berkuasa, tidak berkuasa, rajin, malas, tertib, tidak tertib, teratur, tidak teratur, dan sebagainya. Secara garis besar dinamika sosial manusia menghasilkan hal positif dan hal negatif. Hal positif akan menunjang tercapainya tujuan hidup manusia (ma’rifat), sedangkan sebaliknya yang negatif akan menghambat tercapainya tujuan tersebut.

Baca Juga  TQN Suryalaya: Teosentris dan Antroposentris

Agama dan Tarekat

Alloh SWT menginginkan manusia berhasil mengarungi kehidupan dalam setiap tahapan/alam dengan baik. Untuk itu Alloh SWT memberikan atau menurunkan pula  petunjuk (irsyad) dalam bentuk “agama”, dan pemberi petunjuk (mursyid) sebagai contoh untuk menjalankan petunjuk tersebut. Agama tersebut kemudian dikenal dengan sebutan Agama Islam dan pemberi petunjuknya yang merupakan utusan Alloh disebut Rasullulloh. Rosululloh saw telah memberikan banyak petunjuk dan memberikan pula contohnya agar manusia dimanapun dan siapapun bisa mengarungi kehidupan ini dengan baik.

Rasululloh Muhammad saw secara fisik memiliki keterbatasan usia.  Sehingga tugasnya memberikan petunjuk kemudian diberikan kepada para pewarisnya yang kompeten terutama secara spiritual. Para pewarisnya ini dalam dunai tasawuf dikenal dengan sebutan “Mursyid”. Para mursyid ini mengambil petunjuk dari Rasululloh saw, dan petunjuk tersebut disesuaikan dengan pengalaman ruhaninya dalam proses ma’rifat kepada Alloh, maka kemudian para mursyid tersebut menemukan jalan atau cara yang telah menghantarkan dirinya marifat kepada Alloh, dimana jalan atau cara tersebut kemudian disebut “Tarekat”. Dan karena berbagai hal, sangat mungkin dalam kadar dan hal tertentu tarekat yang diinisiasi oleh para Mursyid tersebut memiliki perbedaan satu sama lain. Tetapi secara prinsip tarekat-tarekat tersebut sama.

Tarekat-tarekat tersebut sebagai sebuah cara untuk ma’rifat kepada Alloh sudah merupakan suatu formula dari Syekh Mursyid yang Beliau pertanggungjawabkan dzohir batin dunia akhirat.  Sebagai sebuah formula atau resep (dalam dunia kedokteran), tarekat tidak bisa dicampuradukkan satu dengan yang lain. Jika saja terjadi percampuran (baik sengaja maupun tidak sengaja), maka tarekat tersebut tidak akan berfungsi secara benar (menghantarkan orang ke tujuan ma’rifatulloh). Mungkin orang yang mencampurkan tarekat tadi merasa secara umum tidak ada yang salah. Bahkan mungkin secara dzohir atau sosial nampak semakin baik. Namun secara batin di sisi Mursyidnya bisa saja orang tersebut semakin jauh dari tujuan. Disinilah perlunya kejelian dan kehati-hatian, agar para pengamal tarekat tidak terjerumus atau tergoda oleh cara atau amaliyah dari mursyid lain yang mungkin nampak lebih hebat.

Baca Juga  Mengintip jejak sang Guru Agung di Leiden

Kemurnian Suryalaya

Syekh KH Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin ra (Pangersa Abah Anom) sebagai Mursyid  Tarekat Qodiriyah Naqsyabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya (TQNPPS) telah memberikan petunjuk dan contoh dalam bentuk amaliyah TQNPPS, yang secara garis besar terdiri dari dzikir, khotaman, manakiban, ziarah, dan riyadoh termasuk sholat-sholat sunat yang rutin dilakukan Pangersa Abah, baik harian maupun yang tahunan. Hal-hal tersebut sebagai sebuah formula/resep ma’rifatulloh, sudah ditentukan cara dan kadarnya. Untuk hal ini tidak perlu lagi bahkan jangan ditambah dan dikurangi. Saking pentingnya peringatan ini (warning) sampai-sampai Pangersa Abah menuangkannya dalam maklumat Beliau, yang isinya kurang lebih”….kepada siapapun yang menambah dan mengurangi amaliyah TQNPPS, Abah tidak bertanggungjawab….”. Artinya jika ada yang menambah dan mengurangi amaliyah TQNPPS, maka orang itulah yang bertanggungjawabnya. Bukan lagi Pangersa Abah. Sungguh ini suatu hal yang sangat berat. Karena pertanggungjawaban tersebut menyangkut tidak saja kehidupan dzohir (sosial), tetapi juga menyangkut kehidupan batin (ruhaniyah) dari seluruh murid/pengamal. 

Menjaga kemurnian dan istiqomah dalam menjalankan tarekat (TQNPPS) bukanlah suatu hal yang mudah. Syetan dan nafsu yang ada dalam diri manusia tidak akan tinggal diam. Mereka akan terus dengan berbagai cara dan pengalamannya menggoda manusia untuk tidak murni dan istiqomah. Godaan tersebut ditambah pula dengan pengaruh kehidupan sosial (ingin terkenal), ekonomi (ingin kaya), politik (ingin berkuasa), dan dinamika sosial lainnya. Untuk menghadapi hal tersebut para ikhwan perlu untuk terus-menerus meminta petunjuk, yang diantaranya melalui amaliyah yang benar dan melalui robithoh.

Warisan atau petunjuk Pangersa Abah baik dalam bentuk tulisan maupun dalam bentuk tradisi lisan masih terjaga di Pontren Suryalaya.  Sehingga hal inipun akan turut membantu para ikhwan untuk mengontrol amaliyahnya. Ditambah dengan adanya Pengemban Amanah, beberapa wakil talqin, keluarga dan para tokoh yang bisa diajak komunikasi berkenaan dengan kemurnian amaliyah TQNPPS.

Baca Juga  Mensiasati HOAKS di Era Digital menurut Islam

Penutup

Kemurnian Suryalaya tentu bukan amaliyah TQNPPS-nya saja. Tetapi juga tujuan dari institusi Pontren Suryalaya juga harus dijaga. Yaitu sebagai tempat pusat pengamalan, pengamanan, dan pelestarian TQNPPS. Hal ini tidak saja menyangkut aspek amaliyah namun juga menyangkut aspek ilmiyah. Termasuk  di dalamnya adalah pengembangan dakwah TQNPPS. Artinya, dinamika sosial, politik dan ekonomi yang menghampiri keseharian Pontren Suryalaya jangan dijadikan tujuan utama. Tetapi hal itu hanya sebagai penunjang tujuan utama.

Menjaga kemurnian Suryalaya tidak saja dilakukan oleh masing-masing ikhwan, tetapi sangat perlu upaya pemurnian ini dilakukan secara terorganisir dan sistematis. Hal ini menjadi penting mengingat pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama teknologi transportasi dan informasi. Pergerakan orang dan arus informasi (termasuk  barang, jasa dan keuangan) akan semakin intensif, hal ini akan mempengaruhi kehidupan sosial manusia. Tidak menutup kemungkinan aspek keberagamaan seseorangpun akan terpengaruh secara negatif. Lembaga Dakwah TQN (LDTQN) Pontren Suryalaya memiliki fungsi dan peran strategis dalam menjaga kemurnian dan mengembangkan dakwah TQNPPS. LDTQN tidak saja sah secara Undang-Undang untuk mengelola dan menghimpun para ikhwan TQNPPS yang berjumlah jutaan, tetapi sudah mendesak untuk cepat bergerak menggunakan berbagai metoda dan media agar upaya pemurnian amaliyah TQNPPS dan pengembangan dakwah TQNPPS dapat terlaksana dengan baik dan merata ke seluruh pelosok (dalam dan luar negeri). Hal ini akan berbeda jika upaya pemurnian dan pengembangan dakwah TQNPPS dilakukan tidak secara terorganisir. Wallohu ‘alam.

Penulis: Dr. Muhamad Kodir, M.Si. (Ketua Umum LDTQN Pontren Suryalaya)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button