Kisah
Trending

Kisah Pangersa Abah menghormati tamu

Oleh: Agus Samsul Basar (Ketua Prodi PAI IAILM Suryalaya)

Suatu hari ada sepasang suami istri yang sudah berumur datang kepada Pangersa Abah Anom dengan membawa sebungkus “ranginang hitam” (makanan khas priangan yang terbuat dari ketan hitam). Mereka sengaja datang ke Suryalaya dari jauh untuk mempersembahkan ranginang tersebut kepada Pangersa sebagai ungkapan syukur dan ta’dhim dari seorang murid kepada Gurunya.

Begitu sampai di madrasah, suaminya berkata : “Pangersa! Hatur lumayan hoyong karaosan (Ini makanan ala kadarnya dengan harapan Pangersa sudi mencicipinya)” dengan logat Sundanya yang kental. Dia-pun membuka kantong yang berisi ranginang tersebut dan memberikannya kepada Pangersa Abah.

Pangersa Abah menerimanya dan langsung mencicipi seraya berkata:  “Euh raos pisan (enak sekali)” dan terlihat Pangersa Abah sangat menikmati  ranginang tersebut, sehingga pasangan suami istri tersebut merasa bahagia. Lalu Pangersa Abah memanggil Umi: “ Umi, kemari ambil sarung dan samping kesini!”. Pangersa Umi-pun memberikan sarung dan samping kepada sepasang suami-istri yang sudah berumur itu disertai amplop untuk ongkos pulang dan mengucapkan terima kasih atas “oleh-oleh” ranginangnya.

Setelah mereka berdua pulang, maka ranginang itu diberikan kepada H. Aep yang duduk disampingnya : “Nih habiskan! ” Kata Beliau. Maka H. Aep langsung tanpa pikir panjang  memakan ranginang yang diberikan Pangersa Abah, karena terlihat tadi Pangersa memakannya seperti enak sekali. Apa yang terjadi? Ternyata setelah dimasukkan ke mulut untuk dikunyah, Masya Allah! Ranginang itu sangat keras dan susah untuk dikunyah. Rupanya Pangersa Abah tadi berusaha mengunyah-ngunyah ranginang keras di hadapan pasangan suami-istri tersebut agar yang memberi tidak merasa kecewa.

Itulah akhlakul karimah yang diperlihatkan Pangersa Abah Anom dalam menerima dan memuliakan tamu siapapun yang datang ke madrasah, walaupun dengan berbagai maksud dan tujuan yang bermacam-macam. Kadangkala para tamu datang tidak mengenal waktu; entah pagi, siang, sore, malam, bahkan tengah malam hanya ingin bertemu dengan Pangersa Abah dengan berbagai kebutuhan dan hajat. Dan Pangersa Abah-pun tidak pernah mengeluh, tidak berkeluh kesah dalam menghadapi berbagai tipe orang dan bermacam-macam adat kebiasaan. Selama Pangersa Abah sehat dan tidak sedang keluar madrasah, pasti akan ditemui semua tamunya tersebut satu persatu dengan cepat dan diberikan solusi berbagai masalah yang dibawa para tamunya tersebut. Sehingga semua tamu atau para muridnya begitu keluar dari madrasah akan merasakan puas dan bahagia atas solusi dan doa yang diberikannya.

Baca Juga  Berbuka Puasa bersama Guru Mursyid

Wajahnya senantiasa tersenyum, bahasanya sangat santun dan lemah lembut,  raut mukanya senantiasa bercahaya, penuh senyuman serta menyejukkan siapapun yang memandangnya. Setiap masalah yang dibawa dan problema kehidupan apapun yang dibawa, begitu bertemu dengan Pangersa Abah langsung sirna dan sejuk- damailah hati ini. Kata orang sunda mah “plong be sagalana ku ningalina ge…“.

Menerima tamu yang datang ke rumah kita dengan penuh hormat dan ta’dhim serta membahagiakannya merupakan akhlak para Anbiya dan Auliya sebagai pancaran cahaya Illahi hasil riyadhahnya sepanjang hidup. Sampai Nabi Muhammad Saw pernah bersabda bahwa barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, hendaknya muliakanlah tamunya.

Ada suatu kisah seorang perempuan yang mengadu dan mengeluh kepada Rasulullah Saw dikarenakan perilaku suaminya yang sering membawa dan mengundang orang-orang datang ke rumahnya dan menjamu tamu-tamu tersebut, sehingga merepotkan dan menjadikan kecapaian perempuan yang menjadi istrinya tersebut. Tetapi perempuan tersebut tidak mendapatkan jawaban sedikitpun dari Rasulullah ketika itu, maka pulanglah ke rumahnya.

Setelah lewat beberapa hari,  Rasulullah Saw mengunjungi rumah pasangan suami-istri tersebut. Rasulullah bersabda kepada suaminya itu: “sesungguhnya Aku adalah tamu di rumahmu hari ini”.

Betapa bahagianya sang suami mendengar sabda Rasul tersebut, maka dia segera menghampiri istrinya untuk mengabarkan bahwa tamu hari ini adalah Rasulullah. Si istripun merasa bahagia dengan kabar tersebut, dan segera memasak makanan yang lezat dan nikmat untuk Rasulullah dengan penuh rasa bahagia di dalam hati.

Ketika Rasulullah akan pamit untuk pulang setelah mendapatkan penghormatan dan kemuliaan di rumah itu serta keridhaan pasangan suami-istri tersebut, Rasulullah bersabda kepada suaminya itu: “ Ketika Aku akan keluar nanti dari rumahmu, panggil istrimu dan perintahkan dia untuk melihat ke pintu tempat Aku keluar”.

Baca Juga  Keistimewaan Guru Mursyid

Maka sang istri melihat Rasulullah keluar dari rumahnya diikuti oleh binatang-binatang melata, seperti kalajengking dan berbagai binatang berbahaya lainnya di belakang Rasulullah.Terkejutlah sang istri dengan apa yang dilihat di depannya. Rasulullah bersabda: ”Seperti itulah yang terjadi. Setiap kali tamu keluar dari rumahmu, maka keluar pula segala bala, bahaya, dan segala binatang yang membahayakan dari rumahmu”.

Inilah hikmah memuliakan tamu dan tidak berkeluh kesah karena kedatangannya. Rumah yang banyak dikunjungi tamu adalah rumah yang dicintai Allah. Begitu indahnya rumah yang selalu terbuka untuk anak kecil atau dewasa. Rumah yang didalamnya turun rahmat dan berbagai keberkahan dari langit. Rasulullah bersabda: “ Jika Allah menginginkan kebaikan terhadap satu kaum, maka Allah akan memberikan hadiah kepada mereka”. Para sahabat bertanya: ” hadiah apakah itu, Ya Rasulullah ? “.Rasulullah menjawab: ” tamu akan menyebabkan turunnya rejeki untuk pemilik rumah dan menghapus dosa-dosa penghuni rumah”.

Pantas Pangersa Abah senantiasa memuliakan para tamunya. Siapapun yang datang akan disambut dengan muka cerah dengan dihiasi senyuman dan akan selalu menyapa para tamunya itu dengan ucapan “bageur”. Siapapun yang datang; kyai, pejabat, pendosa, atau pebisnis, banyak menyaksikan kemuliaan Beliau menerima tamu dengan ucapan tersebut. Bahkan siapapun yang datang pas waktu makan, pasti disuruh makan dahulu sebelum meninggalkan Pontren Suryalaya.

Pernah suatu hari waktu masih ada Ibu Hj. Euis Siti Ru’yanah (istri pertama pangersa Abah) ketika waktunya makan tamu yang datang banyak sekali. Maka kata pak Ahmad Jamad (salah seorang pembantunya) semua tamu diberi makan dengan disediakan nasi yang disimpan di piring dan ditambah ikan asin bolocot yang memakai tepung, sampai semua nasi yang di dapur habis padahal masih ada tamu yang belum kebagian. Ketika itu Pangersa Abah bersama Ibu Hj. Euis, H. Dudun, dan H. Kurnia akan bersiap makan di dalam.

Pangersa Abah keluar dan bertanya kepada pak Ahmad Jamad: “beak nyah sangu?” (Nasinya sudah habis ya?).

Baca Juga  Guru Mursyid mengetahui gerak gerik hati para murid

Pak Ahmad Jamad yang dari tadi tidak berani terus terang akhirnya menjawab: “sumuhun, Abah (Iya Abah) “.

Maka Pak Jamad disuruh ke dalam dan semua nasi yang sudah di piring masing-masing termasuk piring Pangersa Abah disuruh dimasukan lagi semuanya ke boboko (tempat nasi dari bambu) oleh Pangersa Abah:

wayahna euy, aya tamu nu can kabagean dahar”, sehingga nasi tersebut semua diberikan kepada para tamu yang belum kebagian.

Orang kota mah bogaeun duit bisa jajan ka warung. Tapi orang kampung mah, jaba lempang kadieuna oge memeh subuh”, tegas Pangersa.

Ada suatu kesaksian yang perlu diketahui seluruh muridnya bahwa Pangersa Abah ketika masih sehat fisiknya, jika ada tamu ingin menemuinya, pasti Pangersa Abah menyuruh H. Aep untuk melihat terlebih dahulu dibalik jendela dan mengecek siapa tamu yang datang itu. Jika tamu yang datang  memakai mobil, maka Pangersa menyuruh H. Aep untuk menanyakan terlebih dahulu apa maksud dan tujuan kedatangannya. Setelah jelas maksud dan tujuan kedatangannya, baru tamu itu disuruh masuk ke madrasah dan Pangersapun menemuinya.

Sebaliknya jika yang datang itu orang biasa yang berjalan kaki, maka Pangersa Abah menyuruh tamu yang datang itu langsung masuk madrasah dan Pangersapun langsung menemuinya. Pangersa Abah memberikan contoh dan membuktikan komitmennya kepada Tanbih yang bunyinya: “ Terhadap fakir-miskin, harus kasih sayang, ramah tamah serta bermanis budi, bersikap murah tangan, mencerminkan bahwa hati kita sadar. Coba rasakan diri kita pribadi, betapa pedihnya jika dalam keadaan kekurangan, oleh karena itu janganlah acuh tak acuh, hanya diri sendirilah yang senang, karena mereka jadi fakir-miskin itu bukannya kehendak sendiri, namun itulah kodrat Tuhan”. Rupanya sikap inilah yang agak susah kita ikuti ketika kedatangan tamu ke rumah. Semoga setelah mendengar kisah ini berusaha meluruskan niat dan merubahnya dalam menerima tamu yang datang ke rumah kita. Amin.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button