Cakrawala Tasawuf

TQN Suryalaya dan Kemerdekaan

Ketokohan K.H. Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin atau lebih akrab dipanggil Pangersa Abah Anom yang wafat pada 5 September 2011 tidak disangsikan lagi. Beliau bukan hanya tokoh lokal namun juga nasional bahkan internasional. Jamaahnya (ikhwan) berjumlah  jutaan terbentang mulai dari Singaparna sampai Singapura, dari Tasikmalaya sampai Malyasia, dari Pamoyanan hingga Pamekasan. 

Sosok kharismatik yang tidak hanya pimpinan pesantren namun juga mursyid dari sebuah gerakan kaum tarekat terbesar di Nusantara yang mengambil posisi tidak di pusat kekuasaan, tapi  di pelosok,  tepi sungai Citanduy yang airnya mengalir deras dari Cakrabuana, melewati pinggiran Tasikmalaya Utara, menembus Banjar, sebelum akhirnya bermuara di Pangandaran.  Lokasinya 9,5 kilometer dari jalan utara Bandung Tasikmalaya. 

Adalah sebuah pernyataan keliru kalau kita menyimpulkan bahwa tarekat merupakan  gerakan ruhani yang tidak betalian dengan dinamika sosial. Justru dalam konteks TQN Suryalaya tarekat menjelma menjadi sebuah gerakan dengan cakupan yang luas: sosial, kebudayaan, ekonomi, pendidikan dan politik. Semua simpul itu ditancapkan pada poros spiritual. Bagaimana hiruk pikuk dunia fisik dijangkarkan pada  keheningan metafisik. Dzikir dan pikir disatukan. Ilmiah dan amaliah ditarik dalam satu helaan nafas. Ilmu dan laku tidak dipertentangkan.

Kebesaran Pangersa Abah Anom tidak terlepas dari didikan ayahandanya, Syekh Abdullah Mubaraok bin Nur Muhammad (Abah Sepuh). Abah Sepuh yang telah mempersiapkan Abah Anom sebagai musryid TQN dan pimpinan Pondok Pesantren Suryalaya.

Berbicara tentang TQN  kaitannya dengan kemerdekaan Republik Indonesia, tentu saja di dalamnya harus melibatkan kupasan kiprah Abah Sepuh. Kalau Pangersa Abah Anom berhasil mengibarkan wibawa tarekat pada zaman Orde Baru, maka Abah Sepuh adalah sosok yang telah meretasnya pada masa ketika Indonesia masih dalam angan-angan, masih berada dalam cengkraman Hindia Belanda.

Sumbangan kyai

Dalam sejarah kebangsaan sudah tidak syak lagi sumbangan besar para kyai umumnya dan mursyid tarekat khususnya terhadap sejarah perjalanan bangsa. Mereka dengan heroik melakukan perlawanan terhadap kolonial. Kyai Haji Zainal Mustapa di Tasikmalaya adalah salah contoh yang menjadi simbol perlawanan menggetarkan terhadap penjajah itu.

Baca Juga  Keutamaan Bulan Sya'ban

Tidak ada dalam kamus para kyai  sikap untuk mengembangkan politik kompromi. Justru ketika pada saat yang sama ada banyak kaum ménak yang melakukan persekongkolan dengan penjajah untuk melanggengkan kepentingan dan kekuasaannya apalagi dalam latar  kesundaan disebutkan bahwa tanam paksa tercetus dari sikap sebagian besar  ménak yang menjadi kaki tangan kolonial.

Jihad menjadi sebuah ikrar yang menggetarkan penjajah. Dan secara sosiologis pigur kharismatik di dunia tarekat ini terkenal dengan kecakapannya memobilisasi massa. Sekali pimpinanya mengatakan “lawan” maka akan serentak mereka meneriakan Allahu Akbar maju ke medan laga menyambut kesyahidan.

Barisan Hizbullah-Sabilillah sebagian besar komandannya adalah para kyai dan para mursyid. Tidak sedikit pesantren yang bukan hanya tempat mencari ilmu  namun juga  menjadi markas barisan tersebut. Menurut Clifford Geertz, antara 1820-1880, telah terjadi pemberontakan besar kaum santri di Indonesia meliputi:  pertama, pemberontakan kaum padri di Sumatera; kedua, pemberontakan Diponegoro di Jawa; ketiga, pemberontakan Banten akibat aksi tanam paksa Belanda; keempat, pemberontakan di Aceh yang dipimpin Teuku Umar.

Salah satu kelebihan Kyai yang sangat ditakuti Belanda adalah peranannya yang penting di tengah umat baik di bidang keagamaan atau sosial kemasyarakatan. Kyai senantiasa menyatu dengan lingkungan dan masyarakatnya, termasuk lingkungan bangsa dan negara (Ziemek, 1986).

Dalam hal  ini Abah Sepuh dan Abah Anom menjadi bagian tidak terpisahkan dari sejarah perjalanan bangsa yang juga mengibarkan bendera perlawanan terhadap kaum kolonial. Menanamkan kesadaran kepada masyarakat tentang pentingnya kaum penjajah hengkang dari wilayahnya karena bukan hanya dapat mengancam akidah namun juga telah semena-mena merampas kekayaan alam. 

Selintas Pangersa Abah Sepuh

Pangersa Abah Sepuh  lahir tahun 1836  di Cicalung, Tarikolot, kabupaten Sumedang (sekarang masuk kabupaten Tasikmalaya) dari pasangan Rd. Nura Pradja/ Eyang Upas (Nur Muhammad) – Ibu Emah. Wafat dan dimakamkan di Puncak Suryalaya pada tahun 1956. Abah Sepuh terkenal sebagai sosok pecinta ilmu dan tekun riyadhah. Semula mempelajari ilmu syariat dan kemudian berlabuh pada tasawuf dan tarekat. Qadiriyah Naqsyabandiyah yang menjadi pijakan tarekatnya. Beliau berguru kepada Syekh Tholhah Kalisapu Cirebon. Sempat berjalan kaki ke Madura bertabaruk kepada Syekh Kholil Bangkalan. Kedua gurunya ini terkenal sebagai alim besar sekaligus mursyid yang sukses membangun jaringan tarekat di Nusantara.

Baca Juga  Kaderisasi pesantren dan tantangan global

Abah Sepuh bukan hanya mempelajari dan mengamalkan tarekat untuk dirinya namun  dengan giat menyebarkannya lewat pengajian dan dakwah yang dimulai sekitar tahun 1890. Di Priangan Timur, Abah Sepuhlah yang mengenalkan dan memprakarsasi gerakan tarekat (TQN). Pertama kali pengajiannya disampaikan di kampung Tundagan kemudian sempat hijrah ke Rancameong Bandung.  

Selanjutnya, pindah ke kampung Cisero. Tetapi karena kondisinya juga tidak cukup strategis  untuk pengembangan  tarekat,   tahun 1902 beralih ke  Godebag yang terletak di tepi sungai Citanduy. Walaupun berada di pegunungan yang penuh belukar, kelebihannya kampung Godebag dilintasi jalur hidup Ciawi-Panumbangan-Panjalu, Kawali-Kuningan-Cirebon. Tahun 1905 di kampung Godebag inilah Pondok Pesantren Suryalaya didirikan dan berkembang pesat sampai hari ini.    

Tarekat dan Pemerintahan Kolonial

Masa awal perjalanan Pesantren Suryalaya sebagai lembaga pendidikan Islam dengan ciri khas pengamalan dan pengembangan TQN tentu tidak berjalan mulus. Mengalami rintangan yang tidak mudah  termasuk kesalah-pahaman sebagian masyarakat, ditambah kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang kurang mendukung berkembangnya tarekat pada umumnya.

Kyai tarekat dan para santrinya oleh Hindia Belanda dianggap sebagai penyulut  kekacauan dan selalu melakukan pemberontakan seperti terjadi dalam peristiwa Perang Banten (1658 – 1682), Perang Padri (1821 – 1838), Perang Aceh (1873 – 1903), Perang Diponogoro (1825 – 1830) dan Pemberontakan Cilegon (1888) serta pemberontakan di Kedongdong Cirebon (1893). Maka kyai tarekat dalam kebijakan pemerintahan Hindia Belanda harus diawasi dan dibasmi. Strategi yang diterapkannya adalah: (1) mempersempit ruang gerak ulama (mursyid); (2) menyampaikan kepada ulama-ulama yang tak paham tarekat untuk mengumumkan kepada khalayak tentang sesatnya ajaran tarekat; (3) melakukan penangkapan besar-besaran terhadap ulama dan santri yang mengajarkan ilmu tarekat; (4) melarang aparatus Hindia Belanda mempelajari dan apalagi mengamalkan tarekat.

Baca Juga  Surga rindukan orang berpuasa

Akibat dari penerapan strategi itu, seperti banyak ditulis sejarawan, telah menimbulkan: Pertama, pelajaran ketarekatan semakin berkurang bahkan dianggap tidak perlu diajarkan di pondok pesantren; kedua, ulama dan penganut tarekat semakin terdesak ke pinggir dan banyak yang menyingkir ke pelosok-pelosok yang sangat jauh dari kota-kota besar (yang sekaligus sebagai pusat-pusat pemerintah kolonial Belanda) untuk menghindari penangkapan semena-mena. ketiga,  awal abad XX bahkan sampai sekarang  akhirnya umat Islam masih banyak yang tidak paham tarekat sehingga mereka menganggapnya tarekat sebagai ajaran sesat.

Mensyukuri Kemerdekaan

Perjuangan Abah Sepuh dan Abah Anom dalam memberikan sumbangan berharga terhadap keindonesiaan terutama melalui jalur pendidikan dan dakwah TQN ini menjadi catatan penting bagi kita untuk senantiasa mensyukuri nikmat kemerdekaan. Melestarikan dan mengamalkan ajaran TQN adalah salah satu bentuk syukur itu.

Kemerdekaan yang kita hirup ini  bukan saja diperjuangkan lewat senjata, melainkan juga secara ruhaniah. Ada keterlibatan Allah di dalamnya sebagaimana tampak dalam pengakuan pada Pembukaan UUD 1945, “Atas berkah rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorong oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”. Kemerdekaan diraih lewat pengorbanan jiwa dan raga, dianggit melalui senarai doa dan dzikir yang dipanjatkan para kyai, mursyid, segenap santri dan seluruh anak bangsa sehingga sampai kepada pintu gerbang proklamasi. Sejarah kemudian memilih Soekarno-Hatta yang diberi kesempatan untuk membacakan teks proklamasi itu di Jl Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Atas nama seluruh bangsa Indonesia, atas nama harapan terwujudnya Indonesia yang terbebas dari sekapan kaum kolonial, atas nama hidup cageur-bageur yang dibayangkan dapat lekas diwujudkan di negeri kepulauan. Selamat HUT Republik Indonesia ke 77.

Asep Salahudin (Rektor IAILM Suryalaya)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button