Cakrawala Tasawuf

Tafakur dalam kitab Nashaih Al-‘Ibad

By: Rojaya

Nashaih Al-‘Ibad merupakan kitab yang disusun oleh Syekh Nawawi Banten dan merupakan penjelasan atas Kitab Al-Munabbihat ‘Ala Al-Isti’dad Li yaum Al-Mi’ad yang disusun oleh Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani. Kitab Al-Munabbihat sendiri merupakan kumpulan nasehat yang disusun menjadi 10 bab. Bab Tsunai, yaitu nasehat yang berisi dua inti ada 30 nasehat. Bab tsulatsi, yaitu nasehat yang berisi tiga inti nasehat ada 55 nasehat. Bab ruba’i, yaitu nasehat yang berisi empat inti nasehat ada 37 nasehat. Bab khumasi, yaitu nasehat yang berisi lima inti nasehat ada 27 nasehat. Bab sudasi, yaitu nasehat yang berisi enam inti nasehat ada 17 nasehat. Bab suba’i, yaitu nasehat yang berisi tujuh inti nasehat ada 10 nasehat. Bab tsumani, yaitu nasehat yang berisi delapan inti nasehat ada 5 nasehat. Bab tusa’i, yaitu nasehat yang berisi sembilan inti nasehat ada 5 nasehat. Dan bab ‘usyari, yaitu nasehat yang berisi sepuluh inti nasehat ada 29 nasehat.

Dalam tulisan ini akan difokuskan tentang tafakur yang masuk dalam bab khumasi. Tafakur dijadikan kajian mengingat pentingnya hal tersebut. “Tidak ada ibadah seperti tafakur,” demikian kata Ali. Dengan tafakurlah, manusia lebih tinggi derajatnya dibandingkan makhluk lainnya. Dengan tafakur juga, manusia bergerak dan terus mengubah dan memperbaiki budaya dan peradabannya. Lihatlah semut yang tidak pernah berpikir! Semut sejak berabad-abad menggunakan cara dan bahan yang sama dalam membuat sarangnya. Mengapa semut tidak mau membuat sarangnya dari plastik, besi, atau kaca? Karena semut tidak memiliki kemampuan berpikir (tafakur). Ulama ‘arif mengatakan,”Berpikir adalah cahaya hati. Bila orang tidak berpikir, maka tidak ada cahaya dalam hatinya.” Robert T. Kiyosaki, miliarder Amerika mengatakan,”Orang yang yang menginginkan hasil yang berbeda dengan cara yang sama adalah orang gila.” 

Tafakur dalam kitab ini ada lima jenis, yaitu:

Pertama, Memikirkan ayat-ayat Allah berupa alam semesta. Betapa menakjubkannya air hujan yang turun tetes demi tetes, bagaimana seandainya hujan turun di satu tempat dan sekaligus? Betapa disiplinnya matahari terbit dan terbenam, bagaimana seandainya matahari terbit dan terbenam tanpa aturan waktu yang jelas. Bagaimana seandainya matahari terbenam dan tidak terbit selama satu bulan? Ibu-ibu akan berteriak, karena cuciannya susah kering. Para nelayan akan kesal karena ikan yang dijemurnya lama kering. Mobil yang menggunakan tenaga surya tidak akan ada yang membeli. Bagaimana seandainya panasnya matahari ditingkatkan dan matahari dapat mengendalikan dirinya sendiri, sehingga dapat memfokuskan panasnya pada satu titik?  Barangkali kertas dan sampah yang berhamburan akan terbakar dan rumah-rumah dari kayu akan lenyap dalam sekejap menjadi abu. Baju yang dijemur akan mengeluarkan asap karena panas dan terbakar. Tidak dapat dibayangkan betapa dahsyatnya seandainya itu terjadi.

Baca Juga  Dahsyatnya bulan Dzulqo'dah

Merenungi alam semesta mendatangkan tauhid dan keyakinan. Teraturnya alam semesta tentu dikendalikan oleh Dzat yang Maha Esa. Dialah yang menggerakkan berputarnya bumi, terbit dan terbenamnya matahari, dan segala peristiwa yang ada di alam semesta. Tafakur jenis pertama juga menumbuhkan keyakinan, sehingga yakin dengan janji Allah, percaya dengan jaminan-Nya, menghadap beribadah kepada-Nya dan menjauhi segala hal yang dapat memalingkannya dari Allah, mengembalikan segalanya kepada Allah dan mengerahkan segenap potensinya untuk meraih ridha Allah.

Kedua, Memikirkan nikmat dan anugerah Allah. Betapa banyak anugerah-Nya yang diberikan kepada kita. Ada nikmat mata yang dapat melihat berbagai bentuk dan warna. Bagaimana dengan nikmat telinga yang dapat membedakan suara yang halus dan kasar? Bagaimana dengan kaki yang dapat melangkah? Bagaimana dengan tangan yang dapat digerakkan? Bagaimana kita menghargai itu semua? Perhatikan rasa sepi orang kaya yang sudah lanjut usia dan hanya duduk di atas kursi rodanya! Apa yang paling dirindukannya? Berjalan-jalan dengan kedua kakinya, mengitari kebun, berkejaran dengan cucunya, dan melihat keramaian orang yang berolahraga di pagi hari.

Bagaimana dengan nikmat sehat? Apa yang paling kita inginkan saat tubuh kita demam? Suhu kembali normal. Apa yang paling kita inginkan saat hidung flu berat? Hidung kita kembali normal. “Sehat itu ibarat mahkota di atas kepala orang-orang yang sehat, namun tidak ada yang dapat melihatnya, kecuali orang-orang yang sakit,” demikian kata Kiyai Nasihih Aziz Ciwaringin.

Merenungi nikmat dan anugerah Allah membuat kita bersyukur dan cinta kepada-Nya. Betapa baiknya Allah. Mata kita syukuri dengan menggunakannya untuk membaca Al-Qur’an, buku, informasi dan lainnya yang bermanfaat. Telinga disyukuri dengan menggunakannya untuk mendengar nasehat dari orang lain, baik secara langsung maupun melalui media seperti tv, radio, dan lainnya. Tangan disyukuri dengan bekerja keras dan bersedekah. Kaki disyukuri dengan melangkah ke masjid dan tempat yang diridhai oleh-Nya.

Baca Juga  Peran Inabah dalam mengembalikan Fitrah manusia

Ketiga, Memikirkan janji Allah. Allah menjanjikan surga, kenikmatan, keberkahan hidup, dan lainnya kepada orang-orang yang berbuat baik. Setiap kebaikan akan dibalas dengan kebaikan juga, baik di dunia maupun di akhirat. Allah menjanjikan ampunan bagi siapapun orang yang bertaubat kepada-Nya. Allah menjanjikan rezki yang berkah kepada orang yang bersedekah. Allah menjanjikan tempat yang mulia kepada orang yang ahli tahajud. Allah menjanjikan keturunan yang sholeh dan berbakti kepada siapapun yang berbakti kepada orang tuanya. Begitu banyak janji Allah. Dan Allah tidak pernah menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya janji Allah adalah benar adanya.

Merenungkan janji Allah menumbuhkan kecintaan pada akhirat. Ada semangat untuk berbuat baik, karena yakin kebaikannya tidak sia-sia dan ada balasannya dari Allah. Lihatlah semangat Imam Ahmad bin Hanbal dalam beramal shaleh. Saat ditanya sampai kapan kita berbuat baik? Beliau menjawab, sampai kaki kita menapak di tanah surga. Subhanallah. Hidup adalah medan beramal dan berbekal. Tidak ada istirahat selama hayat masih di kandung badan. Barangkali orang tidak dapat melakukan satu jenis ibadah, namun ia dapat melakukan jenis ibadah yang lain. Tidurpun ibadah bila diniatkan untuk menghimpun tenaga sehingga fresh pada saat bangun dan siap beribadah dan bekerja lagi. Sakit pun ibadah saat diterima dengan sabar dan terus berikhtiar dan berobat agar sembuh. Di sisi lain, lisan atau hatinya terus berzikir sebagai pengganti amalan-amalan fisik yang terpaksa dihentikan dulu karena keterbatasan daya tahan tubuhnya.

Keempat, merenungkan ancaman Allah. Allah mengancam orang-orang yang durhaka dengan kehidupan yang sempit (tidak berkah) dan siksa neraka di akhirat kelak. “Sesungguhnya neraka Jahanam itu (padanya) ada tempat pengintai. Lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas. Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya. Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman. Selain air yang mendidih dan nanah. Sebagai pembalasan yang setimpal.” (QS. An-Nabaa (78): 21-26).

Merenungkan ancaman Allah menumbuhkan sikap waspada dan berupaya menjauhi dosa serta mengagungkan Allah. Lakukan dosa, kata Hasan Bashri, sebatas Engkau mampu menanggung siksanya. Siapakah yang sanggup menanggung siksa Allah di akhirat? Seandainya kita diancam akan dimasukkan ke dalam kamar mandi selama tujuh hari tujuh malam, dikunci dari luar dan dijaga dengan ketat, sehingga kita tidak dapat keluar dari dalam, serta tidak diberi makan dan minum, niscaya kita akan menangis dan berteriak-teriak. Bagaimana dengan hukuman berupa api yang membakar? Ditambah lagi manakala kulit orang yang disiksa di dalamnya telah gosong dan mengelupas, maka tumbuh kulit baru agar terus dapat merasakan siksa? Na’udzu billahi min dzalik.

Kelima, Memikirkan kekurangan kita dalam beribadah kepada-Nya, padahal Dia selalu memberikan kebaikan kepada kita. Dalam 24 jam, berapa jam mata kita digunakan untuk ibadah? Dalam sehari semalam, berapa jam waktu yang digunakan untuk menunaikan shalat? Dalam 24 jam, berapa banyak kebaikan yang kita lakukan? Dalam 24 jam, berapa banyak kita mengingat Allah dan berapa banyak melupakan-Nya? Dalam 24 jam, berapa banyak catatan kebaikan kita yang dituliskan oleh malaikat Pencatat? Benarkah waktu kita lebih banyak digunakan untuk kesia-siaan dibandingkan untuk ibadah?

Baca Juga  Bimbingan Mursyid yang sudah wafat

Memikirkan kelemahan kita dapat melahirkan kesadaran diri dan upaya perbaikan diri.  Sadarkah bahwa ilmu Allah meliputi segala sesuatu? Sadarkah bahwa Allah memandang apapun yang kita lakukan. Adakah tempat dimana kita dapat lepas dari pengawasan Allah? Adakah saat dimana Allah lengah sehingga kita dapat melakukan durhaka tanpa sepengetahuan-Nya?

Sadarkah bahwa dunia ini cepat berlalunya, sedangkan akhirat adalah kehidupan yang abadi? Pandanglah kuburan kakek, nenek atau bahkan ayah dan ibu kita! Ada saatnya kita menjadi penghuni kubur sebagaimana mereka. Sudah siapkah dengan pertanyaan Munkar dan Nakir? Sudah siapkah kita menghadap Allah dan dihisab oleh-Nya, mempertanggung jawabkan segala yang pernah kita lakukan di dunia?  Sadarkah bahwa kematian pasti akan datang dan tak dapat ditolak? Sadarkah bahwa kita akan menyesal bila menyia-nyiakan waktu kita di dunia. Orang yang sudah meninggal dunia berharap dapat membaca tasbih sekali, shalat satu rakaat atau sedekah seribu rupiah, namun semua harapan tersebut telah tertutup.

Marilah kita renungkan peringatan Allah ini: “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang diantara kamu; lalu ia berkata: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan Aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?”. Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Munaafiquun (63):10-11).

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button