Cakrawala Tasawuf

Keutamaan Bulan Sya’ban

Saat Saya membuka internet, Saya membaca maklumat dari KH. Shohibulwafa Tajul Arifin ra tanggal 1 Juni 1982 tentang shalat sunah nishfu Sya’ban. Di dalamnya disebutkan dalil shalat nishfu Sya’ban yang dirujuk dari Kitab Al-Ghunyah susunan Syekh Abdul Qodir Jaelani qs halaman 192. Shalatnya disebut shalat khair. Cara shalatnya sebanyak 100 raka’at, setiap raka’at ba’da Al-Fatihah membaca surat Al-Ikhlas sebanyak 10 x. Haditsnya diriwayatkan dari Hasan ra yang berkata,”Telah berkata kepadaku 30 sahabat Rasulullah bahwa barangsiapa yang mengerjakan shalat tsb pada malam nishfu Sya’ban, maka Allah memandangnya dengan 70 pandangan, dimana setiap pandangan-Nya, Allah mengabulkan 70 hajat, yang paling ringan ialah ampunan.”

Dalam maklumat tersebut juga ada himbauan khusus kepada para mubaligh agar: a. Tetap menjadi contoh teladan bagi para kaum muslimin muslimat Ikhwan Tarekat Qodiriyyah Naqsyabandiyah baik tingkah lakunya, ucapannya, perbuatannya maupun amaliahnya. b. Sebaiknya atau diharuskan untuk mensponsori dalam kebaikan, khususnya dalam amaliah ubudiyah dan hendaknya selalu tampil menjadi pimpinan/ imam bagi para Ikhwan untuk melaksanakan shalat berjama’ah, dzikir, khotaman, dan ibadah-ibadah lainnya. c. Dikala akan berdakwah di tengah-tengah Ikhwan TQN harus diawali dengan ibadah berjama’ah (shalat, dzikir, khotaman, dan lain-lain). Kemudian harus menjadi  keyakinan para mubaligh/ mubalighah bahwa menyampaikan ilmu itu harus dapat dan harus bisa mengalamkan (mengamalkan, mengalami) terlebih dahulu apa-apa yang telah disampaikan kepada para Ikhwan TQN. Bukankah Allah berfirman di dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 44 yang telah sama-sama kita ketahui:

Artinya: Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebaktian/ kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca? Maka tidakkah kamu berpikir? d. Jangan bertentangan segala ucap laku  dengan TANBIH, yang isinya antara lain “mengikuti perintah agama dan negara”. e. Agar lebih memperbanyak/ memperdalam ilmu pengetahuan, baik pengetahuan agama maupun pengetahuan umum dalam rangka berhasilnya pelaksanaan dakwah Islamiyah. Subhanallah, maklumat luar biasa yang menurut saya dapat dijadikan argumen bahwa Abah Anom ra adalah seorang ahli strategi dakwah dan ahli ma’rifat.

Baca Juga  Istiqomah setelah Ramadhan

Dalil-dalil Keutamaan Bulan Sya’ban

  1. Dari Usamah bin Zaid ra bahwa Beliau bertanya kepada Nabi saw,”Saya tidak melihat Anda berpuasa (sunah) lebih banyak dari Bulan Sya’ban.” Beliau menjawab,”Bulan Sya’ban adalah bulan yang sering dilupakan orang dan terdapat diantara Bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan itu adalah Bulan diangkatnya amal-amal kepada Allah Rabbul ‘alamin. Aku senang bila amalku diangkat sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. An-Nasai).
  2. Rasulullah saw bersabda,”Sesungguhnya Allah memperhatikan hambanya (dengan penuh rahmat) pada malam nishfu Sya’ban, kemudian ia akan mengampuni semua makhluk-Nya  kecuali orang musyrik dan musyahin (orang munafik yang menebar kebencian antar sesama umat Islam atau bermusuhan dengan saudaranya) (HR. Thabrani, Daruquthni, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Ibnu Abi Syaibah, Al-Baihaqi dan Al-Bazzar). Nashiruddin Al-Albani menyebut hadits ini shahih (Al-Silsilah Ash-Shahihah 4/86).
  3. Al-Baihaqi mengutip Imam Syafi’i ra  berkata,”Telah sampai kepada kami bahwa doa dikabulkan dalam lima malam, yaitu awal malam Bulan Rajab, malam nishfu Sya’ban, malam ‘idul fithri, malam ‘idul adha dan malam Jum’at” (As-Sunan Al-Kubro no. 6087).
  4. Ahli hadits Al-Hafidz Al-Iraqi menyebutkan bahwa memang setiap malam Allah turun ke bumi dan menawarkan ampunan bagi yang memohonnya, akan tetapi di malam nishfu sya’ban Allah menyebutkan akan mengampuni lebih banyak daripada bilangan bulu domba. Di malam-malam lain ditentukan waktunya setelah tengah malam atau sepertiga akhir, sementara dalam nishfu Sya’ban dimulai setelah terbenam matahari (mulai ba’da maghrib).” (Faidh Al-Qadir, Syekh Al-Munawi 2/402).
  5. Dalam Akhbar Makkah karya Al-Fakihani diceritakan bahwa penduduk Mekah dari dulu hingga sekarang , jika bertemu dengan malam nishfu Sya’ban maka umumnya lelaki dan perempuan ke masjid, kemudian shalat, melakukan thawaf dan menghidupkan malam tersebut sampai pagi dengan membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an  dan shalat lagi. Diantara mereka ada juga yang mengerjakan shalat 100 rakaat dimana setiap rakaatnya membaca Al-Ikhlas 10 x. Mereka mengambil air zamzam pada malam tersebut, meminum dan menyiramkannya serta diberikan kepada orang-orang sakit adalah karena mengharap barokah di malam tersebut. Telah diriwayatkan banyak hadits tentang malam nishfu Sya’ban (Syekh Al-Fakihani, Akhbar Makkah 5/23).
Baca Juga  Menjadi Insan Mulia melalui Pemaafan: Kajian Psikologi Positif dan Psikologi Transpersonal

Demikian beberapa dalil tentang keutamaan Bulan Sya’ban dan lebih khusus lagi malam nishfu Sya’ban yang merupakan malam ampunan, malam pengabulan doa (ijabah), malam pergantian catatan amal dan malam ibadah. Semoga kita dapat mengisi malam tersebut dengan amalan-amalan shaleh, sehingga dikaruniai ampunan, ijabah, dan berbagai kebaikan lainnya, aamiin.

Penulis: Rojaya (Wakil Dekan Fakultas Dakwah IAILM Suryalaya)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button