Cakrawala Tasawuf

Nilai pendidikan dalam Shalat

Shalat merupakan salah satu ibadah penting yang disyariatkan Allah Swt. kepada nabi Muhammad Saw. dan umatnya melalui peristiwa besar, Isra dan Mi’raj. Shalat juga menjadi ‘pembeda’ antara orang yang beriman dan tidak. Tulisan ini mencoba menelusuri nilai pendidikan yang terkandung dalam shalat.

Sekilas Isra Mi’raj Nabi Muhammad Saw.

Salah satu mukjizat nabi Muhammad Saw. adalah peristiwa Isra Mi’raj. Peristiwa ini terjadi pada periode akhir kenabian di Makkah sebelum Rasulullah Saw. hijrah ke Madinah. Menurut al-Maududi dan mayoritas ulama, Isra Mi’raj terjadi pada tahun pertama sebelum hijrah, yaitu antara tahun 620-621 M. Menurut al-Allamah al-Manshurfuri, Isra Mi’raj terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian, dan inilah yang populer (http://duniabaca.com/pengertian-sejarah-dan-hikmah-isra-miraj-nabi-muhammad-saw.html).

Peristiwa Isra Mi’raj memiliki dua makna, yaitu Isra, artinya nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam “diberangkatkan” oleh Allah Swt. dari Masjidil Haram hingga Masjidil Aqsa. Lalu dalam Mi’raj Nabi Muhammad Saw. “dinaikkan” ke langit sampai ke Sidratul Muntaha yang merupakan tempat tertinggi.

Mandat Shalat 5 waktu

Shalat lima waktu merupakan salah satu hikmah Isra Mi’raj nabi Muhammad Saw. . Tentang waktunya, Allah Swt. berfirman, “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)” (QS. 17, al-lsra’: 78).

Bagi umat Islam, peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang berharga, karena ketika inilah salat lima waktu diwajibkan, dan tidak ada nabi lain yang mendapat perjalanan sampai ke Sidratul Muntaha seperti ini. Perintah sholat dalam perjalanan Isra dan Mi’raj nabi Muhammad Saw. kemudian menjadi ibadah wajib bagi setiap umat Islam dan memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan ibadah-ibadah wajib lainnya.

Baca Juga  Riyadhah Dalam Syariat dan Tarekat

Nilai Pendidikan dalam Shalat

Dalam pengertiannya, Isra’ Mi’raj merupakan perjalanan suci, dan bukan sekadar perjalanan “wisata” biasa bagi Rasul. Sehingga peristiwa ini menjadi perjalanan bersejarah yang akan menjadi titik balik dari kebangkitan dakwah Rasulullah Saw. John Renerd dalam buku ”In the Footsteps of Muhammad: Understanding the Islamic Experience,” seperti pernah dikutip Azyumardi Azra, mengatakan bahwa Isra Mi’raj adalah satu dari tiga perjalanan terpenting dalam sejarah hidup Rasulullah SAW, selain perjalanan hijrah dan Haji Wada. Isra Mi’raj, menurutnya, benar-benar merupakan perjalanan heroik dalam menempuh kesempurnaan dunia spiritual.

Maknanya, Pertama adanya penderitaan dalam perjuangan yang disikapi dengan kesabaran yang dalam. Kedua, kesabaran yang berbuah balasan dari Allah berupa perjalanan Isra Mi’raj dan perintah shalat. Dan ketiga, shalat menjadi senjata bagi Rasulullah Saw dan kaum muslimin untuk bangkit dan merebut kemenangan.

Ketiga hal di atas telah terangkum dengan sangat indah dalam salah satu ayat Al-Quran, yang berbunyi “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (Yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS. 2, al-Baqarah: 45-46).  Dikatakan bahwa “shalat adalah Mi’rajnya orang-orang yang beriman”. “Dan shalat adalah kunci segala kebaikan”.

Menelusuri nilai pendidikan yang terkandung dalam shalat, terlebih dahulu kita lihat dulu arti dari nilai itu sendiri. Nilai adalah makna yang terkandung dalam sebuah fenomena (kejadian). Dari pengertian ini kita dapat melihat nilai pendidikan apa yang terkandung di balik ibadah shalat tersebut.  Dari sekian makna pendidikan yang terkandung dalam shalat, yaitu :

  1. Pertama, nilai religius. Shalat adalah ibadah mahdhah (langsung) kepada Allah Swt. yang menjadi salah satu rukun Islam. Melalui shalat sesorang dapat langsung berkomunikasi dengan sang khálik. Dalam konteks ke-Indonesiaan, shalat adalah perwujudan perilaku melaksanakan ajaran agama dan kepercayaan yang dianut.
  2. Kedua, nilai integritas. Shalat merupakan ibadah yang mendasari perilaku yang lainnya. Dalam sebuah hadits dinyatakan, “ibadah yang pertama kali akan dihisab (diperhitungkan) adalah shalat, jika dalam hisabnya shalatnya lulus, maka lulus pula seluruh amal yang lainnya, dan jika dalam hisabnnya shalat tidak lulus, maka seluruh amal yang lain pun tidak lulus”. Dalam hadits lain, “sesungguhnya shalatku, ibdahku, hidupku, dan matiku semata-mata hanyalah milik Allah”. (HR. Muslim dalam Kitab Shalat Musafir). Inilah nilai integritas.
  3. Ketiga, nilai kesabaran. Dalam melaksankan shalat, adalakalanya kita dihadapkan pada banyaknya halangan dan rintangan (sibuk, malas, dan sejnisnya). Oleh karenanya kita dituntut memiliki sifat sabar. Melalui sifat sabar ini juga kita dapat menjadikan sebagai wahana untuk meminta pertolongan kepada Allah. Allah berfirman, “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu…”.
  4. Keempat nilai perjuangan (jihad). Shalat menjadi alat perjuangkan untuk  meningkatakan berkualitas diri, baik kualitas, baik pada apsek nilai-nilai ilahiyah, ubudiyah, maupun siyasah. Sebab hakikatnya shalat mi’rajnya bagi orang-orang mukmin.
Baca Juga  Isra’ Mi’raj dalam Maqam Sufistik

Ke empat nilai di atas, bisa kita peroleh ketika kualitas ibadah shalatnya baik. Apa yang menjadi ciri dari kualitas ibadah shalat? Kualitas shalat sangat ditentukan oleh kualitas hati. Hati yang selalu diisi dengan ismu dzat (dzikrullah), hadir ketika kita melaksanakan shalat. Dalam konteks inilah, dahsyatnya dzikir khofi. Dzikir yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu.  Wallahu ‘alam bi shawaab.

Penulis: Ketua Prodi PGMI IAILM Suryalaya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button