Khutbah

KHUTBAH IDUL FITRI: Muhasabah Diri di Hari Fitri Meraih Predikat Manusia Sejati

Khutbah I

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

 اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا ِلإِتْمَامِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَأَعَانَناَ عَلىَ الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ وَجَعَلَنَا خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ للِنَّاسِ. نَحْمَدُهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَهِدَايَتِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، وَأَحُسُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. وَقَالَ أَيْضًا: وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur kepada hadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat yang luar bisa, terutama nikmat iman, islam serta ihsan, juga nikmat kesehatan, sehingga pada pagi hari yang berbahagia ini, kita dapat melaksanakan shalat sunnat idul fitri. Shalawat dan salam mari kita haturkan kepada junjungan kita, nabi Muhammad SAW, keluarganya, shahabat serta pengikutnya sampai akhir jaman. Amin ya rabbal alamin. 

Melalui mimbar ini, khatib mengajak kepada semua jamaah, untuk terus berikhtiar meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, dengan cara melaksanakan segala perintah-Nya serta menjauhi semua larangan-larangan-Nya. Takwa yang mampu menjadi bekal kehidupan di akhirat nanti. Sebab, tidak ada bekal yang paling baik untuk kita bawa menuju kehidupan di akhirat yang kekal serta abadi, hanya takwa kepada Allah SWT. Allah berfirman,

 وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ ۚ وَٱتَّقُونِ يَـٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبَـٰبِ,

Artinya: “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal.” (QS. Albaqarah: 197).

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Tidak terasa saat ini kita sudah memasuki tanggal 1 Syawal 1444 H, setelah menempuh puasa Ramadhan dan rangkaian ibadah lainnya selama satu bulan penuh. Serta menahan diri dari segala perbuatan yang bisa merusak ibadah kualitas puasa. Kita bersyukur kepada Allah SWT, bulan suci Ramadhan baru saja kita lalui bersama dengan baik. Ini berarti kita telah lulus ujian, yakni berhasil menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh sesuai dengan ketentuan syari’at. Tidak sedikit orang yang tidak mampu melaksanakan ibadah puasa selama satu bulan penuh.

Kita bersyukur, karena di bulan Ramadhan kemarin, di samping kita berusaha menambah pundi-pundi pahala melalui praktek amaliah yang wajib dan sunnah, kitapun berharap semoga dosa serta kesalahan diampuni Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra.

  مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ‏  

Artinya: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Kini saatnya kita untuk bergembira, merayakan, dan mensyukuri kemenangan atas ibadah yang telah kita lakukan selama sebulan, dengan merayakan hari raya idul fitri, karena itulah janji Allah SWT. ‘’Ada dua kebahagiaan yang akan diperoleh orang berpuasa yakni kebahagiaan pada saat berbuka dan idul fitri serta kebahagiaan pada saat bertemu dengan Allah SWT nanti di akhirat’’.

Sebagai wujud kebahagian di hari kemenangan ini, mari kita rayakan dengan cara; menyucikan Allah SWT melalui ucapan kalimat takbir, tahmid dan tahlil; membesarkan nama-Nya, dan mengagungkan Zat-Nya. Ini kita lakukan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Sebab Allah telah memberikan pertolongan serta kekuatan kepada kita supaya mampu menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan dengan sempurna. Hal ini ditegaskan Allah SWT dalam berfirmannya

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ 

Artinya: “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” (QS Al-Baqarah: 185). 

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Hari raya idul fitri menjadi hari yang sangat dinanti kaum muslimin seluruh dunia. Pada hari ini Allah memberikan anugerah yang sangat banyak kepada ummat muslim, tidak hanya berupa pahala atas ibadah yang kita lakukan selama satu bulan penuh, namun Allah juga mengampuni semua dosa-dosa yang ada dalam diri kita. Dalam salah satu haditsnya Rasulullah saw bersabda:

Baca Juga  Khutbah Jum'at; Pentingnya pendidikan orang tua bagi anak

 إِذَا كَانَ يُومُ الْفِطْرِ هَبَطَت الْمَلَائِكَةُ إِلَى الْأَرْضِ فَيَقُوْمُوْنَ عَلىَ أَفْوَاهُ السِّكَكِ يُنَادُوْنَ بِصَوْتٍ يَسْمَعُهُ جَمِيْعُ منْ خَلق اللهِ إِلَّا الْجِنَّ وَ الْإِنْسَ يَقُوْلُوْنَ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ اخْرُجُوْا إِلَى رَبٍّ كَرِيْمٍ يُعْطِي الْجَزِيْلَ وَ يَغْفِرُ الذَّنْبَ الْعَظِيْمَ فَإِذَا بَرَزُوْا إِلَى مُصَلَّاهُمْ يَقُوْلُ الله لِمَلَائِكَتِهِ يَا مَلَائِكَتِي مَا جَزَاءُ الْأَجِيْرِ إِذَا عَمِلَ عَمَلَهُ؟ فَيَقُوْلُوْنَ: إِلَهَنَا أَنْ تُوْفِيَهُ أَجْرَهُ فَيَقُوْلُ: إِنِّي أُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ جَعَلْتُ ثَوَابَهُمْ مِنْ صِيَامِهِمْ وَقِيَامَهُمْ رِضَائِي وَمَغْفِرَتِي اِنْصَرِفُوْا مَغْفُوْرًا لَكُمْ 

Artinya: “Ketika hari raya idul fitri datang, para malaikat turun ke bumi. Kemudian mereka berhenti di sana seraya berseru yang suaranya didengar oleh seluruh makhluk kecuali jin dan manusia, mereka berkata, ‘Wahai umat Muhammad! Keluarlah kalian menuju Tuhan Yang Maha Mulia, yang memberikan pahala dan ampunan dosa besar’. Maka ketika kaum muslimin sampai pada tempat shalat mereka, Allah SWT berfirman kepada para malaikat-Nya: ‘Wahai malaikat-Ku! Apakah balasan bagi orang jika telah selesai dari pekerjaannya?’ Para malaikat menjawab, ‘Tuhan kami, tentu ia diberikan upahnya’. Kemudian Allah berfirman, ‘Saksikanlah, bahwa Aku memberikan pahala dari puasa dan shalat mereka dengan keridhaan dan ampunan-Ku. Pulanglah kalian semua dengan ampunan untuk kalian.” (HR. Anas bin Malik).

 اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Itulah jaminan yang akan Allah SWT berikan kepada orang yang telah berhasil menjalankan kewajiban puasa selama satu bulan di bulan suci Ramadhan, kemudian ia menunaikan zakat fitrah, diakhiri dengan menunaikan shalat sunnah hari raya idul fitri. 

Hadirnya idul fitri membawa kita kembali pada kesucian. Lalu, pertanyaan kemudian adalah bagaimana kita menyikapi hari-hari setelah kita kembali pada keadaan suci ini? Setidaknya ada dua hal:

Pertama, hendaknya kita mampu meneruskan kebaikan yang sudah dicapai selama Ramadhan. Kebiasaan mandi taubat, qiyamul lail, shalat berjamaah setiap waktu, berdzikir, khataman, tadarus al-Quran, ‘itikaf di masjid, dan lain sebagainya, harus mampu diteruskan serta dipertahankan pada setiap bulannya. Bukan justru sebaliknya, selesai Ramadhan maka selesai pula melaksanakan kebaikan-kebaikan.

Dalam kaitan ini Syekh Muhammad ibn ‘Umar Nawawi al-Bantani telah mengingatkan, salah satu dari kesepuluh amaliah sunnah Ramadhan, yakni istiqamah dalam menjalankan amaliah Ramadhan dan melanjutkan amaliah-amaliah tersebut di bulan-bulan berikutnya.    Jika kita bisa melanjutkan amaliah-amaliah bulan suci Ramadhan itu berarti kita melakukan upaya peningkatan kualitas ruhani kita. 

Peningkatan semacam itu sejalan dengan makna kata “Syawal” (شَوَّالُ) yang secara etimologis berasal dari kata “Syala” (شَالَ) yang berarti “irtafaá” (اِرْتَفَعَ) yang berarti “meningkatkan”.   Bisa jadi kita tidak bisa melakukan sama dengan apa yang kita lakukan selama Ramadhan, tetapi setidaknya ada ikhtiar kita untuk melestarikan ibadah-ibadah tersebut. Ramadhan sebagai bulan tarbiyah atau bulan pendidikan dimana umat Islam digembleng selama sebulan penuh agar menjadi orang-orang yang bertakwa kepada Allah SWT.     

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Kedua, menjaga agar kita tidak mengalami kebangkrutan amal yang telah kita raih baik sebelum dan selama Ramadhan dengan cara tidak menzalimi orang lain. Dalam hal ini Rasulullah SAW. menjelaskan tentang kebangkrutan amal sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah dalam sebuah hadits sebagai berikut.    أَتَدْرُوْنَ مَا الْمُفْلِسُ؟   Artinya, tahukah kalian siapakah orang yang mengalami kebangkrutan amal? Tanya Rasulullah kepada para sahabat. قَالُوْا: اَلْمُفْلِسُ فِيْنَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ   Artinya, para sahabat menjawab, orang bangkrut menurut pendapat kami ialah mereka yang tiada mempunyai uang dan tiada pula mempunyai harta benda.  Kemudian Nabi menjawab:

  إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي، يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هٰذَا، وَقَذَفَ هٰذَا، وَأَكَلَ مَالَ هٰذَا، وَسَفَكَ دَمَ هٰذَا، وَضَرَبَ هٰذَا. فَيُعْطِى هٰذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهٰذَا مِنٰ حَسَنَاتِهِ. فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ، قَبْلَ أَنْ يَقْضَى مَا عَلَيْهِ، أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ. ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ 

Artinya: “Sesungguhnya orang bangkrut dari umatku ialah mereka yang pada hari kiamat membawa amal kebaikan dari shalat, puasa, dan zakat. Tetapi mereka dahulu pernah mencaci maki orang lain, menuduh (dan mencemarkan nama baik) orang lain, memakan harta orang lain, menumpahkan darah orang lain dan memukul orang lain. Maka kepada orang yang mereka salahi itu diberikan pahala amal baik mereka; dan kepada orang yang lain lagi diberikan pula amal baik mereka. Apabila amal baik mereka telah habis sebelum utangnya lunas, maka diambillah kesalahan orang yang disalahi itu dan diberikan kepada mereka; Sesudah itu, mereka yang suka mencaci, menuduh, memakan harta orang lain, dilemparkan ke dalam neraka.”

Ketika kita digolongkan orang yang bangkrut, maka tentu kita tidak memiliki dan membawa bekal untuk menghadapi kehidupan yang kekal dan abadi, kehidupan nanti di akhirat. Ketika bisa membayangkan bagaimana kita bisa hidup dengan tenang dan bahagia dalam sebuah kehidupan, manakala tidak memiliki bekal yang maksimal.

Baca Juga  Khutbah Jumat: Berusaha istiqomah dalam ibadah

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Ramadhan merupakan kawah candradimuka penempaan diri, melatih bagaimana menahan hawa hafsu agar tidak menjerumuskan kepada kejelekan, melatih bagaimana agar hati kita senantiasa ingat (berzikir) kepada Allah SWT, melatih bagaimana agar kita mampu memaafkan orang lain, dan lain sebagainya. Selepas melewati masa-masa latihan serta ujian, selayaknya pelajar, akan mendapatkan raport dan hasil ujian, demikian pula orang-orang yang berpuasa. Setelah melewati momen-momen penting di bulan suci ramadhan, umat Islam pun berhak mendapatkan hasil dari ujian tersebut. Apa hasil itu? Jawabannya tak lain adalah predikat taqwa, hal ini sesuai firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah ayat 183:  

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Takwa merupakan standar paling tinggi tingkat kemuliaan manusia. Seberapa tinggi derajat mulia manusia tergantung pada seberapa tinggi takwanya, إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ

Dalam konteks puasa Ramadhan, tentu predikat takwa tak bisa digapai dengan sebatas menahan lapar dan dahaga saja. Ada hal yang lebih penting yang perlu ditahan, yakni tergantungnya hati manusia kepada hal-hal selain Allah dan mengendalikan hawa nafsu. 

Orang yang berpuasa dengan sungguh-sungguh, dia akan mampu mencegah dirinya dari segala macam perbuatan tercela semacam mengubar syahwat, berbohong, bergunjing, merendahkan orang lain, riya’, menyakiti pihak lain. Dia akan mampu pula menjaga hati agar selalu berzikir kepada Allah SWT. Tanpa itu semua, puasa kita mungkin sah secara fiqih, tapi belum tentu sah menurut ilmu tarikat dan hakikat. Rasulullah  pernah bersabda: 

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

Artinya: “Banyak orang yang berpuasa, namun ia tak mendapatkan apa pun dari puasanya selain rasa lapar saja.” (HR Imam Ahmad).

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ

Jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah, 

Jika standar capaian tertinggi puasa adalah takwa, maka tanda bahwa kita sukses melewati Ramadhan pun tak lepas dari ciri orang-orang yang bertakwa. Semakin tinggi kualitas takwa kita, indikasi semakin tinggi pula kesuksesan kita berpuasa. Demikian juga sebaliknya, semakin hilang kualitas takwa dalam diri kita, pertanda semakin gagal kita sepanjang Ramadhan. Apa saja ciri orang bertakwa? Ada beberapa ayat al-Qur’an yang menjelaskan ciri-ciri orang takwa. Salah satu ayatnya terdapat dalam Surat Ali Imran: 

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَـــافِينَ عَنِ النَّــاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُـحْسِنِــينَ 

Artinya : “(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) pada saat senang dan pada saat susah, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS Ali Imran: 134).

Ayat tersebut menjelaskan tiga sifat yang menjadi penciri orang bertakwa. Pertama, gemar menyedekahkan sebagian hartanya dalam kondisi senang ataupun sulit. Orang bertakwa tidak akan sibuk hanya memikirkan diri sendiri. Ia mesti berjiwa sosial, menaruh empati kepada sesama, serta rela berkorban untuk orang lain dalam setiap keadaan. Ia tidak hanya suka memberi kepada orang yang dicintainya, tapi juga kepada orang-orang memang membutuhan bantuan serta pertolonganya.

Dalam konteks Ramadahan dan idul fitri, sifat takwa pertama ini sebenarnya sudah mulai didorong oleh Islam melalui ajaran zakat fitrah. Zakat fitrah merupakan simbol bahwa “rapor kelulusan” puasa harus ditandai dengan mengorbankan sebagian kekayaan kita dan menaruh kepedulian kepada mereka yang lemah. 

Bagi Ikhwan TQN Pondok Pesantren Suryalaya, sikap dan perilaku mencintai dan suka memberi kepada orang lain, sejatinya harus menjadi kebiasaan, karakter, dan akhlak, tetapi setiap waktu. Karena sikap dan perilaku tersebut, bagi kita merupakan perwujudan dari akhlakul karimah yang timbul dari kesuciaan hati, sebagaimana tertuang dalam Tanbih, wasiat guru agung, Syaikh KH. Abdullah Mubarok bin Nur Muhamad Ra.

‘’Terhadap oarang-orang yang keadaannya di bawah kita, janganlah hendak menghinakannya atau berbuat tidak senonoh, bersikap angkuh, sebaliknya harus belas kasihan dengan kesadaran, agar mereka merasa senang dan gembira hatinya, jangan sampai merasa takut dan liar, bagaikan tersayat hatinya, sebaliknya harus dituntun dibimbing dengan nasehat yahng lemah-lembut yang akan memberi keinsyafan dalam menginjak jalan kebaikan.

‘’Terhadap fakir-miskin, harus kasih sayang, ramah tamah serta bermanis budi, bersikap murah tangan, mencerminkan bahwa hati kita sadar. Coba rasakan diri kita pribadi, betapa pedihnya jika dalam keadaan kekurangan, oleh karena itu janganlah acuh tak acuh, hanya diri sendirilah yang senang, karena mereka jadi fakir-miskin itu bukannya kehendak sendiri, namun itulah kodrat Tuhan.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ

Baca Juga  Khutbah Jum'at: Nilai teologis Pancasila

Hadirin yang berbahagia

Ciri kedua orang bertakwa adalah mampu menahan amarah. Marah merupakan gejala manusiawi. Tapi orang-orang yang bertakwa tidak akan mengumbar marah begitu saja. Kata Al-kâdhim (orang yang menahan) serumpun kata dengan al-kadhîmah (termos). Kedua-duanya mempunyai fungsi membendung: Yang pertama membendung amarah, yang kedua membendung air panas. Selayaknya termos, orang bertakwa semestinya mampu menyembunyikan panas di dadanya sehingg orang-orang di sekitarnya tidak tahu bahwa ia sedang marah. Bisa jadi ia tetap marah, namun melalui ketakwaannya, mampu mencegahnya dari sifat marah, karena tahu mudarat yang bakal ditimbulkan. 

Patutlah setelah momen idul fitri ini, kita terus memiliki kemampuan mengontrol diri, mengontrol emosi serta marah, karena sejatinya Ramadhan telah melatih kita. Baginya tidak ingin karena lisannya orang lain tersakiti. Karena sebaik-baik manusia adalah orang yang mampu menjaga lisananya. Lisannya banyak dipergunakan untuk mengucapakan kalimah dzikir Laailaahaillalloh. Dia sadar bahwa selamat dan tidaknya manusia tergantung pada lisannya. Rasulullah SAW. juga bersabda  سلامة الإنسان في حفظ اللسا  Artinya, Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan. (H.R. al-Bukhari). 

Ciri ketiga orang bertakwa adalah memaafkan kesalahan orang lain. Sepanjang Ramadhan, umat Islam sangat dianjurkan untuk memperbanyak permohonan maaf kepada Allah dengan membaca doa, اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ اْلعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي Yaa Allah, Engkau Maha Pengampun, menyukai orang yang minta ampunan, ampunilah aku.

Kata ‘afw (maaf) diulang tiga kali dalam kalimat tersebut, menunjukkan bahwa manusia memohon dengan sangat serius ampunan dari Allah SWT. Memohon ampun merupakan bukti kerendahan diri di hadapan-Nya sebagai hamba yang banyak kesalahan dan tak suci. Cara ini, bila dipraktikkan dengan penuh pengahayatan, sebenarnya melatih orang selama Ramadhan tentang pentingnya maaf. Bila diri kita sendiri saja tak mungkin suci dari kesalahan, alasan apa yang kita tidak mau memaafkan kesalahan orang lain? 

Kemampuan memaafkan akan dimiliki seseorang ketika kebersihan serta kesucian hatinya telah terwujud. Bagaimana agar kebersihan dan kesucian hati terwujud? Rasullah SAW bersabda, sesungguhnya segala sesuatu itu ada alat pembersihnya, dan pembersih hati dari segala penyakitnya adalah zikir kepada Allah SWT. 

Sebagai ikhwan TQN Pondok Pesantren Suryalaya, kita sedang berikhtiar bagaimana membersihkan hati dari segala bentuk penyakit hati, melalui pengamalan zikir, baik zikir jahar maupun zikir khofi secara istiqomah, sehingga mudah-mudahan muncul akhlakul karimah, seperti sifat memaafkan orang lain.

Guru agung, Syaikh KH. Abdullah Mubarok bin Nur Muhamad ra, telah memberikan wasiat dalam salah satu untaian mutiaranya, bagaimana seharusnya ikhwan TQN Pondok Pesantren Suryalaya, manaka kita diperlakukan tidak senonoh, dibenci, bahkan dan disakiti orang lain. Beliau menyampaikan, kudu asih ka jalma nu mikangewa ka maneh (harus menyayangi orang yang membenci kepadamu). Sebuah sikap dan perilaku yang agung.

Semoga kita diberi kemampuan untuk terus istiqomah mengamalkan amaliah TQN Pondok Pesantren Suryalaya di bawah dibimbing oleh guru mursyid, Syaikh KH. Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin ra, sehingga kita layak memperoleh kemenangan dan predikat Muttaqin. Amin ya rabbal alamin. 

Demikian khutbah yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat. Amin ya rabbalalamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ هَذَا الْيَوْمِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَالصَّدَقَةِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْاَنِ وَجَمِيْعِ الطَّاعَاتِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ 

Khutbah II

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ
اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ.

. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَات  

وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّه وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِرَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ. ر بَّنَا أَنزِلْنا مُنزَلًۭا مُّبَارَكًۭا وَأَنتَ خَيْرُ ٱلْمُنزِلِينَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Nana Suryana, S.Ag. M.Pd. (Khatib Masjid Nurul Asror Pontren Suryalaya)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button