Cakrawala Tasawuf

Relasi bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan

By: Rojaya, M.Ag.

Bulan yang sengaja dimuliakan dan diistimewakan oleh Allah SWT dari dua belas bulan pada tahun Hijriyah, diantaranya adalah bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan. Ketiga bulan tersebut posisinya tidak terpisahkan oleh bulan-bulan lainnya, yaitu Ramadhan setelah Sya’ban dan Sya’ban setelah Rajab, atau Rajab sebelum Sya’ban, dan Sya’ban sebelum Ramadhan. Berbeda dengan bulan lainnya yang juga sama-sama dimuliakan Allah akan tetapi posisinya tidak berurutan seperti halnya bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan. Misalnya, bulan Muharram dan bulan Rabi’ul Awwal (Maulud), dimana posisi antara keduanya terpisah oleh bulan lainnya, yaitu setelah bulan Muharram tidak langsung ke bulan Rabi’ul Awwal (Maulud), tetapi terpisah terlebih dahulu oleh bulan Shafar.

Kedudukan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan

Urutan penempatan bulan seperti itu tentu bukan tanpa makna. Dipastikan didalamnya terkandung maksud tertentu yang bagi sebagian orang memang sulit menemukan jawaban apa maksud dibalik perbedaan tempat itu. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan ada pula orang yang mampu mengungkap tabir penutup rahasia perbedaan itu, sehingga maksud penempatan itu terbaca dengan jelas kemana arah tujuannya, termasuk didalamnya maksud dari penempatan bulan Rajab sebelum Sya’ban dan Ramadhan setelah Sya’ban.  

Ketiga bulan tersebut diyakini mempunyai keistimewaan yang berbeda-beda sesuai dengan fungsinya masing-masing. Diyakini pula bahwa ketiganya saling terkait dan tak terpisahkan satu sama lainnya, baik dari segi posisi maupun fungsinya. Keberadaan bulan Rajab menentukan bulan Sya’ban, dan keduanya menentukan keberadaan bulan Ramadhan. Artinya, amaliah bulan Rajab menentukan motivasi amaliah bulan Sya’ban, dan amaliah bulan Sya’ban menentukan amaliah bulan Ramadhan. Kualitas dan kuantitas amaliah pada bulan Ramadhan ditentukan oleh baik dan banyak-sedikitnya amaliah pada kedua bulan tersebut. Semakin baik dan banyak amaliah yang dikerjakan pada bulan Rajab dan Sya’ban, maka akan semakin baik dan banyak pula amaliah yang dikerjakan pada bulan Ramadhan. Sebaliknya, apabila amaliah pada bulan Rajab dan Sya’ban tidak dapat dimaksimalkan karena menganggap bahwa kedua bulan tersebut tidak jauh berbeda dengan bulan-bulan yang lainnya, sehingga berkeyakinan bahwa keduanya tidak perlu diperlakuan secara khusus, maka dipastikan amaliah di bulan Ramadhan pun tidak akan lebih baik dari bulan Rajab dan Sya’ban.   Rasulullah s.a.w. menyebutkan bahwasanya bulan Rajab adalah syahrullah (bulannya Allah), Sya’ban adalah syahri (bulan-ku) dan Ramadhan adalah syahru ummati (bulan umat-ku). Hadits tersebut mengisyaratkan bahwa bulan Rajab adalah bulan dimana setiap orang muslim atau mu`min dituntut supaya banyak meluangkan waktu bermunajat dan memohon pengampunan dari Allah SWT atas dosa-dosa yang pernah diperbuat pada bulan-bulan sebelumnya. Bulan Sya’ban adalah bulan dimana setiap muslim atau mu`min dianjurkan untuk senantiasa menumbuhkan rasa mahabbah kepada Baginda Rasulullah Muhammad bin Abdillah melalui bacaan shalawat yang khusus dimaksudkan kepadanya. Sedangkan bulan Ramadhan adalah bulan dimana setiap muslim atau mu`min diwajibkan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya selama perjalanan bulan Ramadhan.

Baca Juga  Sedekah Takjil dan Sedekah Takjil yang Mengenyangkan

Fungsi Bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan

Manusia itu terdiri dari tiga unsur, yaitu : pertama, jasad atau badan; kedua,  hati; dan ketiga, ruh. Sedikitpun tidak boleh ada noda dosa yang menempel pada salah satu unsur tersebut, apakah pada badan, hati atau ruh. Ketiganya harus bersih sama sekali dari noda-noda dosa. Pertanyaannya, kapan waktu yang tepat untuk membersihkan noda dosa dari ketiga unsur manusia tersebut ?. Allah SWT memperlihatkan rahman dan rahim-Nya pada manusia dengan memberikan beberapa keistimewaan pada bulan-bulan tertentu yang diyakini efektif untuk membersihkan noda dosa yang menempel pada diri manusia. Bulan-bulan yang dimaksud adalah Rajab, Sya’ban dan Ramadhan, dimana masing-masing mempunyai fungsi tersendiri. Bulan Rajab misalnya, berfungsi sebagai li tathhir al-badan (untuk membersihkan badan), yaitu media untuk membersihkan jasad atau fisik kita dari dosa-dosa yang pernah dilakukan oleh pancaindera. Bulan Sya’ban berfungsi sebagai li tathhir al-qalbi (untuk membersihkan hati), yaitu sarana untuk membersihkan hati nurani dari dosa-dosa yang pernah dilakukan oleh hati berupa iri, dengki, takabur dan lain sebagainya. Sedangkan bulan Ramadhan berfungsi sebagai li tathhir al-ruh (untuk membersihkan ruh), yaitu alat untuk membersihkan ruh dari noda dosa yang pernah dilakukan ruh selama sebelas bulan lamanya. Barangsiapa yang dapat membersihkan badannya pada bulan Rajab, maka ia akan mampu membersihkan hatinya pada bulan Sya’ban, dan barangsiapa yang mampu membersihkan hatinya pada bulan Sya’ban, maka ia akan sanggup membersihkan ruh-nya pada bulan Ramadhan. Untuk itu, barangsiapa yang tidak bisa membersihkan badan pada bulan Rajab dan membersihkan hatinya pada bulan Sya’ban, maka bagaimana bisa ia membersihkan ruh pada bulan Ramadhan ?. Berdasarkan hal itu, sebagian ahli hikmah atau tasawuf berpendapat bahwa bulan Rajab itu berfungsi sebagai media untuk permohonan maaf atas dosa-dosa, bulan Sya’ban untuk memurnikan atau membersihkan hati dari berbagai macam penyakit hati (‘uyub), bulan Ramadhan untuk menyinari hati, dan lailat al-qadr berfungsi sebagai media untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT. Wallahu a’lam bi alshawab.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button