Menemukan Guru Ruhani
Jika untuk sekadar perjalanan ziarah beberapa jam saja kita rela berdesakan, berkeringat, dan saling mencari “bendera” pimpinan rombongan agar tidak tersesat, maka sungguh aneh jika untuk perjalanan hidup menuju akhirat kita berjalan tanpa penunjuk arah.
Dunia hari ini ibarat lautan manusia yang jauh lebih luas dan lebih bising dari pelataran makam para wali. Ada seribu suara yang mengaku benar. Ada sejuta jalan yang terlihat lurus padahal berliku. Di tengah riuh itu, hati kita mudah lelah, iman kita mudah goyah, dan langkah kita mudah keliru. Di sinilah kita sadar, bahwa kita bukan hanya butuh ilmu. Kita butuh guru. Bukan guru yang sekadar mengajar, tapi guru ruhani. Seorang pembimbing yang hatinya bersambung, ilmunya bersanad, dan jalannya menuntun sampai kepada Rasulullah SAW.
Kenapa kita butuh guru ruhani? Karena Allah sendiri yang mengajarkan kita adab mencari pembimbing. Dalam kisah Nabi Musa AS dan Nabi Khidir AS, Allah berfirman:
وَمَن يُضْلِلْ فَلَن تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُّرْشِدًا
Artinya: “Dan barangsiapa yang Dia sesatkan, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang wali yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Al-Kahfi: 17)
Ayat ini tamparan halus bagi kita. Ternyata, petunjuk itu tidak datang otomatis. Ia datang melalui waliyam mursyida` — seorang wali yang membimbing, seorang guru yang mursyid. Tanpa beliau, kita bisa punya semangat ibadah tinggi tapi arahnya salah. Bisa rajin shalat tapi akhlaknya tidak berubah. Bisa banyak baca kitab tapi hatinya tetap gelap.
Sama seperti di tempat ziarah. Tanpa melihat bendera sang pimpinan, kita akan muter-muter dan habis tenaga. Begitu juga hidup. Tanpa guru ruhani, kita akan lelah mengejar dunia, tapi jiwa tetap kosong. Lalu seperti apa guru ruhani yang benar? Beliau bukan pencari murid, tapi dicari karena cahayanya. Ilmunya bersanad sampai ke Rasulullah SAW, bukan hasil ngaji otodidak. Akhlaknya adalah Al-Qur’an berjalan. Kata-katanya sedikit tapi menancap, tegurannya keras tapi menentramkan. Tugas beliau bukan membuat kita bergantung, tapi menuntun kita agar cinta kepada Allah dan Rasul-Nya melebihi cinta kepada dirinya.
Mencari guru ruhani bukanlah tanda lemah. Ia adalah tanda bahwa kita sadar diri. Bahwa kita tahu, tanpa kompas kita akan tersesat. Tanpa nahkoda kita akan karam. Guru ruhani adalah jangkar yang menahan hati kita agar tidak hanyut oleh arus dunia. Beliau yang meluruskan niat ketika mulai bengkok. Yang menegur dengan kasih ketika mulai lalai. Yang mendoakan di sujud terakhirnya agar murid-muridnya tidak tertinggal.
Karena pada akhirnya, perjalanan ini bukan tentang seberapa cepat kita sampai. Tapi tentang bersama siapa kita sampai.
Allah mengingatkan kita di QS. Al-Isra’ ayat 71:
يَوْمَ نَدْعُو كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ
Artinya: “Ingatlah suatu hari ketika Kami memanggil tiap umat dengan pemimpinnya”
Dan orang yang punya arah, insya Allah tidak akan tersesat di tengah lautan tanpa tepi. Semoga kelak di hari itu, nama kita dipanggil bersama imam kita. Bersama guru ruhani yang selama di dunia menuntun kita dengan sabar. Bersama rombongan yang sama-sama berjalan menuju rida Allah dan syafaat Rasulullah SAW. Menemukan guru ruhani… berarti kita telah menemukan arah. Terima kasih guru, Pangersa Abah Anom ra. Semoga kami dicacat sebagai muridnya. Amin ya rb.
NS.


