Rayakan 40 Tahun, 31 Akademisi IAILM Suryalaya Lahirkan Buku Menjelajah Zaman, Merawat Iman
Suryalaya — Empat puluh tahun perjalanan Institut Agama Islam Latifah Mubarokiyah (IAILM) Suryalaya dirayakan dengan cara yang berbeda. Bukan hanya melalui berbagai kegiatan seremonial, tetapi juga dengan menghadirkan sebuah karya intelektual berupa buku bunga rampai berjudul Menjelajah Zaman, Merawat Iman.
Buku yang diterbitkan dalam rangka Milad ke-40 IAILM Suryalaya ini menghimpun tulisan dari 31 akademisi IAILM. Beragam gagasan dituangkan dalam buku tersebut, mulai dari Tasawuf, Tarekat Qadiriyyah Naqsyabandiyyah (TQN) Suryalaya, pendidikan, dakwah, kepemimpinan, budaya, ekonomi, hukum, hingga perkembangan teknologi.
Kehadiran buku ini menunjukkan bagaimana para akademisi IAILM berusaha melihat perubahan zaman dari perspektif keilmuan sekaligus spiritualitas. Warisan keilmuan dan nilai-nilai Suryalaya tidak hanya dibicarakan sebagai bagian dari sejarah, tetapi juga dikaitkan dengan persoalan yang dihadapi masyarakat saat ini.
Sejumlah tulisan membahas pemikiran Abah Anom, Miftahus Shudur, kepemimpinan spiritual berbasis TQN Suryalaya, konsep makrifat, keluarga sufistik, ekonomi berbasis tasawuf, hingga eko-sufisme sebagai salah satu pendekatan dalam menghadapi persoalan lingkungan.
Tema pendidikan juga mendapat perhatian cukup besar. Para penulis membahas pendidikan agama di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), pendidikan karakter berbasis tasawuf, profesionalisme guru di era digital, spiritual parenting, tazkiyatun nafs, pendidikan tasawuf, hingga pendidikan anak usia dini.
Tidak hanya itu, buku ini juga menghadirkan kajian tentang bahasa dan budaya, tasawuf Sunda, moderasi beragama, inklusivitas, dakwah TQN Suryalaya di Asia Tenggara, hingga hubungan antara tasawuf dan ekonomi syariah.
Beragam tema tersebut memperlihatkan satu benang merah: bagaimana nilai-nilai spiritual tetap dapat menjadi pedoman di tengah perubahan zaman.
Judul Menjelajah Zaman, Merawat Iman menjadi gambaran sederhana dari semangat tersebut. Kemajuan teknologi dan perubahan sosial tidak harus dijauhi, tetapi perlu dihadapi dengan tetap menjaga nilai, etika, dan spiritualitas.
Membawa Nilai Suryalaya ke Masa Kini
Buku ini juga menjadi ruang bagi para akademisi untuk membaca kembali warisan pemikiran Suryalaya dan menghubungkannya dengan kehidupan masyarakat modern.
Pemikiran tentang tasawuf, fiqh, kalam, kepemimpinan, pendidikan, ekonomi, dan dakwah ditempatkan dalam konteks persoalan yang terus berkembang. Dengan demikian, tradisi keilmuan Suryalaya tidak berhenti pada masa lalu, tetapi terus dikaji dan dikembangkan untuk menjawab kebutuhan zaman.
Buku ini memuat sambutan Pimpinan Pondok Pesantren Suryalaya KH. Ahmad Masykur Firdaus Arifin dan pengantar Rektor IAILM Suryalaya Dr. Asep Salahudin.
Proses penyuntingan dilakukan oleh Rojaya, Nurhamzah CS., Dani Somantri, dan Faisal.
Sebanyak 31 akademisi terlibat sebagai kontributor, yakni Norashfah Hanim Yaakop Yahaya Al-Haj, Asep Salahudin, Muhamad Kodir, Wawan, Jamaludin, Nurhamzah CS., Asep Hamdan Munawar, Try Riduwan Santoso, Niknik Dewi Pramanik, Bela Elqaweliya, Suhrowardi, Syarief Hasani, Nana Suryana, Aspiyah Kasdini, Sunarno, Oyib Sulaeman, Saeful Anwar, Rojaya, Oo Hanapiah, Dudi Jamaludin, Atus Ludin M., Asep Ely Gunawan, Asriadi Rauf, Iis Amanah Amida, Nita Anjung Munggaran, Susan Nurhayati, Ambar Maolana, Junjun Kurnia, Sufi Anah Hamidayati, Fauzia Assilmy, dan Rizqy Kustanti.
Milad dengan Karya
Memasuki usia 40 tahun, IAILM Suryalaya tidak hanya mengenang perjalanan yang telah dilalui. Momentum ini juga menjadi kesempatan untuk melihat ke depan.
Melalui buku Menjelajah Zaman, Merawat Iman, para akademisi IAILM meninggalkan sebuah catatan intelektual tentang perjalanan, pemikiran, dan harapan untuk masa depan.
Empat puluh tahun IAILM dirayakan melalui karya. Sebuah karya yang mengajak pembaca untuk terus mengikuti perkembangan zaman, tetapi tetap menjaga iman, nilai-nilai spiritual, dan jati diri. Sebab, perubahan zaman boleh terus berjalan, tetapi nilai-nilai yang menjadi pegangan hidup perlu tetap dirawat.
DS