Khutbah

Khutbah Jumat; Hikmah Dibalik Musibah Kekeringan

Khutbah ke-1

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَه لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍۢ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍۢ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّـٰبِرِينَ

الهي انت مقصودي ورضاك مطلوبي اعطني محبتك ومعرفتك

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan segala nikmat yang telah kita terima, terutama nikmat iman, islam, ihsan serta kesehatan, sehingga siang hari ini kita bisa melaksanakan shalat Jumat, semoga ibadah kita diterima Allah SWT. Shalawat dan salam marilah kita haturkan kepada nabi Muhammad SAW., keluarganya, shahabatnya, dan sekalian ummatnya hingga akhir jaman. Amin ya rabb alamin.

Selanjutnya khatib berwasiat, marilah kita senantiasa meningkatkan iman dan takwa kita kepada Allah SWT dengan cara melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larang-Nya. Melalui iman dan takwa dapat menjadi modal bagi kita untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Jamaah jumat yang dimuliakan Allah

Saat ini kita sedang diuji oleh Allah SWT dengan musibah kemarau dan kekeringan. Akibat kemarau hampir semua wilayah di Indoensia sudah mengalami kekeringan. Debit air sudah banyak menyusut, kebakaran hutan dimana-mana, kabut asap pun melanda, sehingga kualitas udara pun tidak sehat, dan suhu udara rata-rata panas.

Peristiwa kekeringan pernah diceritakan Allah dalam al-Quran diceritrakan, kekeringan terjadi di zaman nabi Yusuf As. Pada saat sedang berada di Mesir. Sebelum kekeringan terjadi Raja Mesir (Firaun di Era nabi Yusuf) bermimpi melihat tujuh ekor sapi gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi kurus. Tidak ada yang dapat menafsirkan mimpi tersebut selain Nabi Yusuf. Bahkan nabi Yusuf dapat menawarkan solusi untuk mengatasi masalah kekeringan yang akan terjadi, yang merupakan tafsir dari mimpi sang raja Mesir. Pada akhirnya Nabi Yusuf dipercaya menjadi bendahara atau perdana menteri Mesir.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يُوسُفُ أَيُّهَا ٱلصِّدِّيقُ أَفْتِنَا فِى سَبْعِ بَقَرَٰتٍۢ سِمَانٍۢ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌۭ وَسَبْعِ سُنۢبُلَـٰتٍ خُضْرٍۢ وَأُخَرَ يَابِسَـٰتٍۢ لَّعَلِّىٓ أَرْجِعُ إِلَى ٱلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَعْلَمُونَ

Artinya: “Wahai Yusuf, orang yang sangat dipercaya, jelaskanlah kepada kami (takwil mimpiku) tentang tujuh ekor sapi gemuk yang dimakan oleh tujuh (ekor sapi) kurus dan tujuh tangkai (gandum) hijau yang (meliputi tujuh tangkai) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu supaya mereka mengetahuinya.” (QS. Yusuf (12) ayat 46)

(Nabi Yusuf) berkata, “Bercocok tanamlah kamu tujuh tahun berturut-turut. Kemudian apa yang kamu tuai, biarkanlah di tangkainya, kecuali sedikit untuk kamu makan.” (Nabi Yusuf) berkata, “Kemudian, sesudah itu akan datang tujuh (tahun) yang sangat sulit (paceklik) yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya, kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan. Setelah itu akan datang tahun, ketika manusia diberi hujan (dengan cukup) dan pada masa itu mereka memeras (anggur).” (QS Yusuf Ayat 46- 49)

Kekeringan yang terjadi pada era Nabi Yusuf bukanlah kejadian yang lazim terjadi, karena terjadi selama tujuh tahun berturut-turut. Bahkan kekeringan tersebut tidak saja melanda Mesir, tetapi sampai juga di Palestina, tempat ayah Nabi Yusuf yakni Nabi Yakub menetap sebelum akhirnya bermigrasi ke Mesir.

Jamaah jumat yang dimuliakan Allah

Baca Juga  Khutbah Jumat: Berusaha istiqomah dalam ibadah

Kekeringan yang sedang dialami saat ini seharusnya menjadi bahan muhasabah bagi kita semua. Kekeringan, sebagai bagian dari takdir yang datang dari Allah, juga merupakan ujian dari Allah SWT.

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍۢ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍۢ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّـٰبِرِينَ

Artinya: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.(QS. Al-Baqoroh:155).

Selain itu kekeringan juga merupakan konsekuensi dari perbuatan manusia yang telah mengabaikan kelestarian lingkungan. Dalam QS. Ar-Rad ayat 11 Allah berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوْمٍۢ سُوٓءًۭا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥ ۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ

Artinya: Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Dalam konteks ini kita harus merenungkan firman di atas sebagai panggilan untuk bersabar, bermuhasabah, dan bertindak. Kekeringan bukanlah fenomena yang hanya terjadi begitu saja, tetapi seringkali merupakan hasil dari perbuatan manusia yang tidak bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Sebagai orang yang beriman, atas musibah ini kita dituntut untuk bersabar. Salah satu bentuk kesabaran adalah menerima musibah ini dengan ikhlas. Semua kita kembalikan kepada Allah SWT.

ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَـٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌۭ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ

Artinya: (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.

Kekeringan yang melanda berbagai wilayah di Indonesia adalah bukti nyata dari ketidakseimbangan yang telah diciptakan oleh manusia dalam ekosistem. Eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam, deforestasi, polusi, dan perubahan iklim adalah sebagian besar penyebab dari musibah ini. Kita telah terlalu lama mengabaikan tanggung jawab kita sebagai penghuni bumi untuk menjaga dan merawat alam.

Jamaah jumat yang berbahagia

Dalam ajaran Islam bencana berfungsi sebagai media untuk introspeksi seluruh perbuatan manusia yang mendatangkan peristiwa yang merugikan manusia itu sendiri. Allah berfirman dalam QS. Al Hasyr ayat 18:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌۭ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۢ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Muhasabah adalah saat yang tepat bagi kita untuk merenungkan peran kita dalam menciptakan kondisi saat ini. Sangat penting untuk lebih sadar akan kelestarian ekologis dan dampak negatif yang bisa timbul dari tindakan kita. Ini adalah momen di mana kita harus bertanya pada diri sendiri apakah kita telah menjalani kehidupan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Langkah pertama dalam muhasabah ini adalah meningkatkan kesadaran kita tentang pentingnya pelestarian alam. Kita perlu memahami bahwa kita bukanlah pemilik alam ini, tetapi hanya penjaga sementara yang bertanggung jawab untuk melestarikannya bagi generasi mendatang. Pemilik sejati alam raya ini hanyalah Allah, sementara manusia hanyalah nisbi. Dalam QS. An-Nisa ayat 131, Allah berfirman:

وَلِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَـٰبَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ وَإِن تَكْفُرُوا۟ فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ غَنِيًّا حَمِيدًۭا

Artinya: Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan sungguh, Kami telah memerintahkan kepada orang yang diberi kitab suci sebelum kamu dan (juga) kepadamu agar bertakwa kepada Allah. Tetapi jika kamu ingkar, maka (ketahuilah), milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan Allah Mahakaya, Maha Terpuji.

Baca Juga  Khutbah Jum'at: Khalwat dan Uzlah lahir bathin

Selanjutnya, kita harus mengambil tindakan nyata. Ini bisa berarti mendukung upaya-upaya untuk menghentikan deforestasi, mengurangi polusi, dan mempromosikan energi terbarukan. Setiap individu, lembaga, dan pemerintah memiliki peran dalam menjaga ekosistem yang rapuh ini. Hal ini sejalan dengan Sabda Rasulullah Saw:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ

Artinya: Tak seorang pun muslim yang menanam pohon atau menabur benih tanaman, lalu (setelah ia tumbuh) dimakan oleh burung, manusia, atau hewan lainnya, kecuali akan menjadi sedekah baginya [HR. Bukhari].

Dalam hadits lain disebutkan bahwa jika seseorang menebang pohon tanpa alasan yang sah atau tanpa keperluan yang mendesak akan menghadapi hukuman Allah yang serius, yaitu dengan mengarahkan kepalanya ke neraka. Pesan ini menunjukkan betapa pentingnya penghormatan terhadap alam dan sumber daya yang telah dianugerahkan Allah kepada kita.

Sidang jumat yang dirahmati Allah SWT.

Selain kekeringan air, ada kekeringan dan kematian yang nyaris tidak menjadi bahan perhatian serta muhasabah kita yaitu kering dan matinya hati. Apa yang dimaksud dengan hati yang kering? Hati yang kering dari mengingat Allah SWT. Hati yang tandus karena lupa kepada Allah SWT.

Syekh Ali Baras di dalam Syarah Al-Hikam-nya mengibaratkan hati dan batin laksana bumi yang dapat tumbuh dan hidup, dan juga dapat kering atau mati. Sedangkan air kehidupan yang turun dari langit sir adalah makrifat dan keimanan yang akan menghidupi bumi tersebut. (Syekh Ali Baras, Syifaus Saqam wa Fathu Khaza’inil Kilam fi Ma’anil Hikam, [Beirut, Darul Hawi: 2018 M/1439 H], halaman 282).

Hati yang mati, kering, dan gelap tidak akan merasakan apapun. Hati yang mati, kering, dan gelap tidak memiliki sensitivitas spiritual. Ia tidak akan merasakan manis, pahit, asamnya spiritualitas sehingga hatinya tidak merasakan kelezatan ibadah dan kepedihan atas kesempatan ibadah yang luput.

Imam Ibnu Athaillah dalam Matan Al-Hikam-nya menyebut semua itu sebagai tanda kematian hati:

وجود الزلات من علامات موت القلب عدم الحزن على ما فاتك من الموافقات وترك الندم على ما فعلت من

Artinya, “Salah satu kematian hati adalah tidak adanya kesedihan atas kesempatan ibadah yang terlewat dan tidak adanya penyesalan atas kehilafan yang pernah dilakukan.”

Hati yang mati, kering, dan gelap juga tidak akan menganggap waktu ibadah dan waktu kebaikan sebagai kesempatan emas yang harus dipenuhi sesuai haknya sehingga hati yang mati dan kering takkan menyesali kesempatan kebaikan yang berlalu. Syekh Ibnu Ajibah menyebutkan tiga tanda kematian hati: pertama, tidak bersedih atas kesempatan ibadah yang terlewat; kedua tidak menyesali perbuatan buruk yang telah dilakukan; dan ketiga persahabatan dengan orang-orang lalai yang juga mati hatinya. (Syekh Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam, [Beirut, Darul Fikr: tanpa tahun], juz I, halaman 82). 

Sahabat Abu Musa Al-Asy’ari ra meriwayatkan sebuah hadits Nabi Muhammad saw perihal perbedaan orang yang hatinya hidup, segar, dan terang; dan orang yang hatinya mati, kering, dan gelap.

 قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَهُوَ مُؤْمِنٌ

Artinya, “Dari Abu Musa Al-Asy’ari ra, Rasulullah saw bersabda, ‘Siapa saja yang merasa senang oleh kebaikannya dan merasa susah oleh keburukannya, maka ia adalah orang yang beriman.’” (HR At-Thabarani).

Baca Juga  Khutbah Jum'at: Meraih Ridha Allah di Bulan Sya'ban

Kematian, kekeringan, dan kegelapan ini yang merusak dan menyakitkan hati karena semua itu membuatnya jauh dari rahmat Allah dan justru mendatangkan murka-Nya. Manakah yang lebih merusak keimanan melebihi kematian dan kekeringan hati? Sedangkan penyesalan itu dapat membangkitkan seseorang untuk memperbaiki diri dan memanfaatkan kesempatan yang tersisa untuk kebaikan. (Syekh Ali Baras, 2018 M/1439 H: 282-283).

Bagaimana caranya agar hati kita tidak kering dan mati? Pertama isilah hati kita dengan dzikir kepada Allah SWT. Siarmilah hati kita dengan dzikrulloh. Basahilah hatimu dengan dzikrullah. Kedua, perbanyak berdoa kepada Allah SWT. Kedua cara tersebut telah diajarkan guru agung, Syaikh KH. Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin ra. Mengamalkan dzikir jahar minimal 165 setelah shalat fardu. Mengamalkan dzikir khofi dengan sungguh-sungguh tanpa mengenal ruang dan waktu, dan membaca doa dalam qunut nazilah pada shalat maghrib, subuh, dan shalat jumat.

اللهم اسقينا الغيث والرحمة ولاتجلنا من القاطين

Mudah-mudahan dengan cara itulah kita akan terbebas dari kekeringan dan matinya hati. Karena bagi orang yang hatinya kering dan mati dincaman oleh Allah akan mendapat siksaan yang berat dari Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam surat al-Baqoraoh ayat 7.

خَتَمَ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰٓ أَبْصَـٰرِهِمْ غِشَـٰوَةٌۭ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌۭ

Artinya: Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.

أَقُولُ قَوْ لِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُ

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُو الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، فَاعْتَبِرُوْا يَآ أُوْلِى اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Khutbah ke-2

 اَلْحَمْدُ لِلهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِيْنَ أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللهم اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَن، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ. وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ . وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِرَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ. ر بَّنَا أَنزِلْنِى مُنزَلًۭا مُّبَارَكًۭا وَأَنتَ خَيْرُ ٱلْمُنزِلِينَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Penulis: Nana Suryana (Ketua LDTQN Pontren Suryalaya/Ketua Prodi PGMI IAILM Suryalaya)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button