Cakrawala Tasawuf

Perjalanan heroik Muhammad al-Mustafa: tela’ah Psikologi dari perjalanan hidup Rasulullah SAW.

Nabi adalah sebaik-baiknya model (Uswatun Hasanah)

Muhammad adalah manusia sama seperti manusia lainnya. Muhammad SAW adalah Nabi dan Rasul. Meski demikian ia sama seperti manusia lainnya. Ia bisa merasa lapar bahkan mampu menahan lapar dengan mengganjalkan batu kepada perutnya. Ia bisa sederhana sama seperti ummatnya yang sedemikian papa, sehingga tidur beralaskan tikar yang terbuat dari anyaman daun kurma, yang mengakibatkan anyaman itu tercetak di kulit badannya. Ia bisa merasa sedih dan pilu , seperti yang ditampakkannya saat ia menghadapi kematian anak laki-lakinya, Ibrahim.

Ia bisa bercanda tawa sama seperti manusia lainnya hingga terlihat putih giginya. Ia bisa cemas dan khawatir seperti manusia lainnya hingga ia minta bantuan istrinya, Khadijah, untuk menyelimuti dan melindunginya. Ia bisa tidak tahu tentang sesuatu sama seperti manusia lainnya, misalnya dalam hal pertanian dan cocok tanam, sehingga karenanya ia berkata “Tanyakanlah kepada ahlinya”.

Apa I’tibar dari Allah kepada ummat Islam sedunia dari kemanusiaan Muhammad? Apa ajaran yang tersirat yang ingin disampaikan dari kisah perjalanan hidup Muhammad? Apa nilai-nilai universal yang dapat kita ambil dari sirah Muhammad?

Kisah Heroik Muhammad

Joseph John Campbell, murid Carl Gustav Jung, melakukan penelitian mitologi dunia. Ia pun meneliti kisah hidup dari orang-orang yang berpengaruh terhadap sejarah kemanusiaan, termasuk Nabi Muhammad SAW. Dari penelitiannya, ia menemukan benang merah perjalanan kisah-kisah baik dari mitologi maupun dari sejarah hidup orang-orang yang berpengaruh. Ia menuliskannya dalam magnum opusnya, The Hero with Thousand Faces dan The Hero’s Journey.

Perjalanan para Hero ini rupanya adalah sama. Joseph Campbell mengkategorikannya menjadi :

  • Ordinary World

Pada saat ini Nabi Muhammad sama dengan orang lainnya berada di dunia ini menjalani hidup dan kehidupan sebagaimana manusia lainnya. Ia menggembala, ia berdagang, ia menikah, ia membesarkan anak, dan ia bergaul bersama manusia lainnya yang ada di Makkah.

  • Call to adventure

Tahapan ini ditandai dengan Nabi Muhammad mendapatkan panggilan untuk melakukan sebuah petualangan besar. Dalam khalwatnya di Gua Hiro ia bertemu dengan sosok yang membuatnya takut , gemetar, menggigil dan menyuruh “Bacalah!!! Bacalah!!! Bacalah !!!” Sementara ia adalah generasi yang lebih dididik dan dilatih untuk kuat dan cermat hapalannya, bukan yang terdidik dan terlatih untuk menulis (al ummiyyi).

  • Refusal of the Call

Panggilan untuk menjadi penyiar keesaan Allah itu pada awalnya menggelisahkan Muhammad. Ia ingin menghindarinya. Ia merasa tak kuat. Ia merasa kelu. Apalah artinya dirinya kala itu menghadapi kabilah Quraiys. Ia sendiri kala itu hidup dalam perlindungan kakak ayahnya, Abu Thalib.

  • Meeting the Mentor

Dalam kegalauan itulah ia ditemani Khadijah, istrinya, sekaligus pendukung pemulanya. Khadijah mampu menenangkannya. Berkat pengetahuan Khadijah dari pamannya yang merupakan pendeta Nasrani, Waroqoh bin Naufal, Khadijah tahu bahwa yang datang kepada Muhammad adalah Malaikat yang juga datang kepada Nabi-Nabi sebelumnya. Khadijah bukan hanya berperan sebagai istri bagi Muhammad, ia juga berperan sebagai Mentor yang memberitahukan, yang membesarkan hati, yang menenangkan, yang mendukung perjalanan, dan yang membangkitkan keberanian pada diri Muhammad untuk bangkit, berdiri, dan bersaksi.

  • Crossing the Treshold

Berbekal dari dukungan Khadijah, Nabi Muhammad SAW mulai berani melewati ambang batas atas (threshold) ketakutan dan kekhawatirannya. Ia mulai menyerukan kebenaran, dimulai dari sembunyi-sembunyi. Muhammad mengawali dari orang-orang yang dianggapnya dekat dan akrab. Muhammad memulai dengan menyapa orang-orang yang sudah dikenalnya dan bermitra dengannya. Sebagian dari ajakan-ajakan itu mendapatkan tanggapan yang baik saat itu juga. Sebagian lainnya mendapatkan tanggapan baik kemudian, dan sebagian lainnya ditanggapi dengan penolakan yang keras.

  • Tests, Allies, and Enemies

Pada masa ini, Muhammad mendapatkan serangkaian ujian (Tests) khususnya dari para pihak yang merasakan bahwa ketertarikan orang kepada Muhammad menjadi peluang besar untuk meruntuhkan harkat, martabat, wibawa dan kekuasaan para penguasa Qurays. Mereka sudah membangunnya generasi demi generasi dan mereka tidak mau hal yang sudah dibangun lama runtuh dalam sekejap mata. Upaya terror, intimidasi, ancaman, persekusi hingga boikot dilakukan oleh kaum Qurays kepada nabi Muhammad SAW.

Baca Juga  LDTQN dan tantangan Globalisasi

Selain mendapatkan musuh (enemies) dari sejumlah orang yang merasa wibawanya terancam, Nabi Muhammad pun mendapatkan sahabat-sahabat (allies)  yang rela memberikan dukungan. Ia memperoleh  banyak sahabat dengan ragam kepribadian dan kompetensi. Kesemua sahabat ini bukan hanya melengkapi kepribadiannya, terlebih mendukungnya dalam kesatuan tujuan, yaitu menampilkan masyarakat berketuhanan yang maha esa dengan akhlak mulya  menggantikan masyarakat pagan yang cenderung berakhlak buruk.

  • Approach the Inmost Cavé

Ulangkali Nabi mendapatkan serangan, cercaan, hinaan, permusuhan hingga Nabi merasa sedih, kecewa, tak berdaya. Pada saat itu Nabi melakukan khalwat ke Gua. Nabi Muhammad menyepi, menemui diri sejatinya.

  • The Ordeal

Nabi Muhammad mendapatkan ragam cobaan yang besar. Abu Thalib yang selama ini melindunginya, meninggal dunia. Khadijah, istri, donatur utama perjuangan dakwah, dan mentornya pun meninggal dunia. Ia berada dalam kesedihan tanpa tepi. Ia berada dalam duka lara dan nestapa.

  • Reward

Nabi Muhammad oleh Allah dikaruiai ragam mu’jizat dan diberikan Allah sebuah pengalaman perjalanan di malam hari dan pertemuan dengan para Nabi terdahulu, para Malaikat, dan Allah. Perjalanan malam hari dari Masjidil Harom ke Masjidil Aqso lalu ke Sidhrot al Muntaha yang dikenal sebagai Isro Mi’roj ini membuat Nabi yang duka menjadi terobati dan kembali ceria. Nabi yang selama ini ditimpa nestapa mulai bangkit hasrat untuk melanjutkan perjuangan dakwahnya.

  • Road Back

Nabi Muhammad semakin komitmen untuk melanjutkan perjalanan dakwah yang sudah dimulainya. Boikot yang dilakukan oleh kaumnya, Qurays, tidak membuatnya mati dalam menyerukan manusia untuk masuk ke dalam Islam. Nabi Muhammad kembali menyerukan kebenaran. Ia melihat daerah Yatsrib , sekitar 300 km di sebelah utara Makkah adalah daerah yang menjanjikan untuk dakwah ajaran tauhid ini.

  • Resurrection

Nabi Muhammad bersama pengikutnya di Madinah mendapatkan tantangan –tantangan dari kaum yang memusuhinya. Tantangan datang dari sejumlah suku Yahudi di Madinah. Tantangan pun datang dari perang yang silih berganti dengan kaum Qurays. Berulangkali nyawa Nabi terancam dari peperangan ini.

  • Return with Elixir

Nabi memperoleh kemenangan yang besar. Nabi mampu menaklukkan Makkah tanpa ada pertumpahan darah. Nabi mampu menaklukkan Makkah dengan tokoh-tokoh Qurays tetap mendapatkan martabat, harga diri dan wibawanya. Nabi mampu menang tanpa ngasorake (Menang tanpa membuat orang lain merasa kalah).

Baca Juga  Tafakur dalam kitab Nashaih Al-'Ibad

Pada saat kemenangan puncak inilah , Nabi Muhammad mendapatkan firman terakhirnya.

Pertanyaan Reflektif dan Retrospektif bagi Diri

Bila kita yakin bahwa Nabi adalah manusia sama  seperti kita, maka apapun yang dilakukan nabi sebagai manusia, tentu dapat pula kita menirunya dan menjadikannya model. Bila kita mencermati 12 tahapan perjalanan Heroik Nabi Muhammad model Joseph Campbell ini lalu kita coba terapkan pada diri kita, kita jadikan sebagai alat melakukan introspeksi , apakah kita sudah melakukan perjalanan Heroik untuk menuju diri yang mulya, maka 12 tahapan perjalanan Hero Joseph John Campbell dapat dimanfaatkan sebagai bahan bertafakur untuk perbaikan diri agar memulya.

Pertanyaan berikut adalah pertanyaan introspektif dan retrospektif bagi diri sendiri.

  1. Apakah saya sebagai manusia khususnya sebagai ikhwan TQN Pondok Pesantren Suryalaya sama menjalankan hidup seperti manusia lainnya ? Sama bertingkahlakunya dengan manusia lainnya? Sama beresponnya dengan manusia lainnya?
  2. Apakah saya menyadari adanya ajakan dalam diri saya untuk melakukan perjalanan besar untuk menemukan kebenaran hakiki?
  3. Apakah saya mengikuti ajakan-ajakan itu? Atau Saya justru khawatir mengiyakan dan menyanggupi ajakan-ajakan itu ? Apa saja yang menghambat saya untuk menyanggupi ajakan itu? Apa saja yang saya perlukan agar saya dapat mengiyakan ajakan itu ?
  4. Apakah saya berusaha menemukan Mentor , Guru-gur kehidupan khususnya Guru-guru dalam berthariqat sehingga saya dapat menemukan jalan yang mempertemukan saya dengan sang Maha Pencipta? Apakah saya selalu berusaha mencari jawaban dari Guru-guru ini? Apakah saya berusaha menemukan cara-cara agar saya sejalan dengan tindakan yang disarankan sang Guru ?
  5. Apakah saya mulai mau menentukan komitmen saat ini untuk mulai menapaki jalan kebenaran dan mendawamkannya?
  6. Apakah saya menyadari siapa musuh sejati saya selain dorongan diri saya yang sering mengajak kepada keburukan? Apakah saya tahu musuh-musuh saya yang ingin saya menghentikan langkah-langkah saya menuju kebenaran? Apakah saya pada saat yang sama menyiapkan diri atas ujian-ujian yang beragam datang dan muncul? Apakah saya mau berlatih (riyadhoh) sehingga saya siap atas ujian demi ujian yang datang ? Apakah saya berusaha mencari teman perjalanan (ikhwan) sebagai murid TQN Pondok Pesantren Suryalaya? Apakah teman-teman yang saya temani itu melengkapi kepribadian saya sehingga saya mampu menjadi murid , salik yang taat kepada bimbingan Guru Mursyid ?
  7. Apakah saya mau menyeleami diri saya? Apakah saya mau masuk menyelidiki diri saya? Apakah saya mau menyadari kotornya diri saya yang masih terjebak dalam ilusi indrawi? Apakah saya mau menyadari kelemahan-kelemahan saya yang masih menghamba kepada syahwat yang membuat diri saya ini terbelenggu? Apakah saya mau menemui hal terdasar dari diri saya?
  8. Apakah saya bersedia mendapatkan cobaan demi cobaan untuk membuktikan bahwa dzikir , khataman, manaqiban, ibadah yang saya lakukan sesungguhnya sudah tembus kepada sang empunya diri saya ?
  9. Apakah saya siap menyadari, menerima, dan memanfaatkan kebaikan, anugerah yang Allah berikan kepada saya dengan cara yang diridhoinya ?
  10. Apakah saya siap sambil bertariqat menampilkan keagungan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari? Apakah saya siap menampilkan ajaran Tanbih dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara? Apakah saya siap menampilkan kebaikan berlandaskan kesucian ?
  11. Apakah lalu saya semakin menjadi siap dengan pengalaman-pengalaman latihan kehidupan menghadapi ujian dan tantnagan yang lebih sulit? Yang datang dari diri saya sendiri? Yang datang dari pasangan? Yang datang dari keluarga? Yang datang dari kolega? Yang datang dari kerabat? Yang datang dari komunitas?
  12. Apakah saya merasa pantas untuk menerima anugrahnya yang agung? KeridhoanNya, MencintaiNya dan MengenalNya ?
Baca Juga  Sabar

Saat memperingati Maulid al Musthafa , Muhammad SAW ini ada baiknya kita bertanya dalam hati “Apakah aku siap menjalani perjalanan heroik untuk menemukan Muhammad SAW pada diriku?”

Penulis: Asep Hairul Ghani (Anggota Divisi Litbang LDTQN Suryalaya)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button