Cakrawala Tasawuf

LDTQN dan tantangan Globalisasi

Era kehidupan sekarang, banyak yang menyebutnya sebagai era globalisasi. Pada era seperti ini, dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi yang canggih, segala sesuatu dilaksanakan secara lebih efektif dan efisien. Hal ini berlaku pula bagi Lembaga Dakwah Tarekat Qodiriyah Naqsyabandiyah (LDTQN) Pondok Pesantren Suryalaya yang mewadahi aktivitas dakwah TQN sebagai kewajiban sepanjang masa.  Agar dakwah TQN itu dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien,  tentu memerlukan perencanaan yang sesuai dengan tuntutan zamannya. Analisis tentang era globalisasi dan tantangannya, dapat dijadikan bahan untuk melakukan perencanaan dakwah TQN. Perencanaan dalam dakwah TQN memiliki nilai yang sangat penting, sebagaimana dikatakan oleh beberapa ahli manajemen bahwa perencanaan yang baik merupakan 50 % dari sebuah keberhasilan.

Setelah rencana (Planning) dakwah TQN ini terwujud, perlu dilanjutkan pada tahapan berikutnya dalam manajemen dakwah TQN yaitu pengorganisasian(Organiting), yang berupa langkah mempersiapkan semua sumber daya untuk dakwah (6 M: Man, Money, Material, Method, Machine, & Market) (Muchtarom,1996). Seluruh rencana dan persiapan yang sudah matang tersebut, kemudian dilaksanakan (Actuiting), dan tentu pada akhirnya perlu di kontrol dan dievaluasi (Controlling) terhadap jalannya pelaksanaan dakwah TQN tersebut.

Dakwah Tarekat Qodiriyah Naqsyabandiyah (TQN) Pondok Pesantren Suryalaya

Dakwah TQN adalah segala upaya yang ditujukan untuk mengajak/mempengaruhi manusia agar memiliki kepribadian yang sesuai dengan nilai-nilai TQN. Nilai TQN yang khas adalah ketaatan kepada Mursyid-nya, yaitu Syekh Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin (Abah Anom). Dimana hal ini dilandasi oleh keyakinan bahwa seorang mursyid pastilah orang yang sudah sangat tahu akan jalan menuju kebahagiaan sejati yaitu “kebersamaan” atau “kebersatuan” dengan Dzat Yang Baqa (Alloh SWT) karena Beliau sudah sampai pada tempat tersebut, dan Beliau ditugaskan oleh Alloh mengajak (dakwah) semua manusia untuk mengikuti jalannya itu, agar semua manusia itu memperoleh kebahagiaan tertinggi tersebut.

Jalan atau amaliyah yang harus dilalui terutama yaitu talqin, dzikir, khotaman dan manaqiban. Jadi secara sederhana, dakwah TQN adalah mengajak manusia untuk melaksanakan talqin, dzikir, khotaman dan manaqiban. Mengapa demikian, karena dalam proses ke-empat hal itu, manusia dibersihkan dari semua dosa yang selama ini menghalanginya memperoleh kebahagiaan tertinggi tersebut.

Baca Juga  Darimanakah Tasawuf berasal?

Dalam konteks Ilmu Dakwah, terdapat unsur-unsur dakwah TQN yang diantaranya, pertama, Subjek dakwah / da’I, diantaranya mursyid, wakil talqin, mubaligh, guru/dosen/ustadz dan lain-lain. Kedua, Objek dakwah / mad’u dalam hal ini ialah muslim (ikhwan dan yang belum ikhwan) dan yang belum muslim. Mad’u ini terdiri dari berbagai kalangan atau lapisan sosial, berbagai profesi, dan semua usia diseluruh dunia, yang masing-masing memiliki ciri khas yang perlu diperhatikan.

Ketiga, Materi/pesan, materi dakwah dalam TQN Suryalaya meliputi nilai-nilai TQN (teoritik dan praktik). Keempat, Metode, sampai saat ini metode yang biasa digunakan oleh TQN Suryalaya berupa ceramah, kuliah, diskusi, pengajaran, kajian kitab, nasehat, memberi contoh dan lain sebagainya. Kelima, Media, begitu banyak media yang digunakan oleh TQN Suryalaya dalam berdakwah yang diantaranya melalui pendidikan formal, pendidikan non-formal, media elektronik (radio, televisi, dan internet), media cetak (buku, majalah, jurnal, buletin, dll.). adapun yang keenam, yang termasuk kedalam unsur-unsur dakwah TQN Suryalaya adalah Tujuan, yaitu mewujudkan tata kehidupan yang sesuai dengan nilai-nilai TQN (tesis penulis: 2005).

Era Globalisasi

Globalisasi berasal dari kata globe yang artinya bola dunia. Hal ini berkaitan dengan istilah global village yaitu perkampungan dunia, artinya, dengan semakin canggihnya teknologi komunikasi dan transportasi maka jarak dari satu ujung dunia ke ujung dunia lainnya dapat ditempuh dalam waktu yang relatif lebih cepat dibandingkan pada era sebelumnya. Begitu juga dalam hal informasi dan komunikasi, apa yang terjadi pada belahan bumi yang satu akan dengan cepat dapat pula diketahui oleh orang-orang yang berada pada belahan bumi lainnya, atau orang dapat berkomunikasi secara langsung dengan orang lainnya yang berada pada jarak yang sangat jauh sekalipun. Hal ini menunjukan seakan-akan semua manusia itu hidup dalam sebuah kampung kecil.

Baca Juga  Relasi bulan Rajab, Sya'ban dan Ramadhan

Kecanggihan teknologi disamping berfungsi mempermudah manusia dalam mengekspresikan kebudayaannya, juga ternyata memiliki pula dampak lainnya yang jika tidak disiasati dengan tepat akan menjadi bumerang (disfungsional). Beberapa hal berikut kiranya perlu dicermati berkenaan dengan era globalisasi ini:

  • Mobilitas, pergerakan orang akan semakin intensif dari suatu wilayah ke wilayah lainnya, tidak terkecuali di Indonesia, untuk mencari kehidupan yang diinginkan. PBB memperkirakan bahwa pada tahun 2025 penduduk Indonesia  60,7 % akan berada di kota, sehingga desa-desa yang dari segi lahan justru lebih besar, akan kosong (United Nations, 1995:81).
  • Deteritorialisasi, yaitu yang disebut oleh Arjun Appadurai (1991) sebagai proses menghilangnya batas-batas kebudayaan karena mobilitas fisik menyebabkan orang harus menyesuaikan dengan budaya-budaya yang ada di daerah yang mereka tempati. Belum lagi pengaruh dari budaya kelompok yang menguasai teknologi. Dalam konteks konstruksi nilai atau politik nilai ini, budaya yang paling sering muncul melalui media massa akan sangat berpengaruh (mendominasi) terhadap budaya lainnya yang subordinatif.
  • Estetisasi, yaitu  menguatnya kecenderungan hidup sebagai proses seni. Produk yang dikonsumsi tidak dilihat dari fungsi, tetapi dari simbol yang berkaitan dengan identitas dan status (Abdullah, 1994). Esensi kehidupan menjadi tidak penting karena sebagai sebuah seni, kehidupan itu memiliki makna keindahan sehingga yang dihayati dari hidup adalah citra (Simmel,1991). Makan bukan lagi proses pemuasan kebutuhan biologis, tetapi lebih merupakan kebutuhan simbolis yang dikaitkan dengan jenis makanan, tempat makan, dan suasana yang dihadirkan saat makan.
  • Melemahnya Referensi Tradisional, yaitu besarnya rangsangan atau tuntutan materialisme yang disebarkan melalui media massa yang menjangkau seluruh dunia membuat referensi tradisional yang berasal dari budaya lokal termasuk didalamnya agama semakin melemah. Ukuran-ukuran sosial menjadi sangat materialistik yang pada akhirnya akan menggiring pada munculnya privatisasi agama (Abdullah,2006).
Sumber: IStockphoto

Kesimpulan

Dalam konteks globalisasi diatas, mewujudkan tata kehidupan yang sesuai dengan nilai-nilai TQN (dakwah TQN) menjadi tidak mudah untuk dilakukan. Tetapi karena merupakan jalan menuju kebahagiaan yang hakiki, maka hal itu (dakwah TQN) harus tetap dilaksanakan sehingga TQN itu mampu mewarnai kehidupan modern (menjadi subjek) bukannya menjadi yang tersingkirkan dari kompetisi nilai-nilai kehidupan (objek). Universalisasi  TQN menjadi suatu keharusan, sehingga apa yang Syekh Abdullah Mubarok (Abah Sepuh) katakan bahwa TQN ini akan mendunia menjadi kenyataan.

Baca Juga  Mudik dan lebaran yang dirindukan

Langkah yang sekiranya dapat dipertimbangkan oleh LDTQN untuk mewujudkan universalisasi TQN tersebut, dengan sedikit mengikuti cara berpikir seorang Guru Besar Antropologi UGM yaitu Prof. Dr. Irwan Abdullah, adalah: Pertama, perlu dilakukan proses pengkajian secara intensif tentang potensi dan kemampuan TQN dalam menjelaskan dan menata kehidupan yang terus berubah. Cara ini dimaksudkan untuk memposisikan TQN sebagai sumber yang kredibel dalam menentukan arah dari proses transformasi masyarakat.

Kedua, dakwah TQN harus menemukan suatu mode distribusi nilai-nilai TQN yang ekstensif dan intensif. Pusat distribusi nilai-nilai dan pengetahuan tentang TQN harus diciptakan sebanyak mungkin, tidak hanya di mesjid, sekolah, pesantren, rumah, tetapi harus pula memanfaatkan aspek-aspek kehidupan yang lebih luas lagi seperti melalui ekonomi, politik, kesenian, olahraga, arsitektur, teknologi, fashion dan lain-lain.

Ketiga adalah menciptakan permintaan terhadap pelayanan dakwah TQN. Hal ini tidak diartikan sebagai komersialisasi, namun lebih merupakan peningkatan atau optimalisasi dakwah TQN melalui berbagai pendekatan. Karena era globalisasi adalah era media massa, maka pemanfaatan media massa secara optimal untuk dakwah TQN menjadi sesuatu yang harus dilakukan.

Ketiga hal diatas bertujuan untuk mengendalikan dominasi institusi-institusi yang berorientasi materi belaka didalam pembentukan sistem nilai dan pengetahuan publik. Hanya dengan menjadi sumber utama proses enkulturasi dan sosialisasi, TQN dapat menjadi referensi nilai di dalam pengukuran-pengukuran sosial (subjek). Atau kita akan menyaksikan saja bagaimana masyarakat dididik menjadi konsumen produk-produk budaya global, sehingga mereka akan semakin jauh dari kebahagiaan yang hakiki.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button