Cakrawala Tasawuf

Dahsyatnya bulan Dzulqo’dah

Setiap nama mempunyai sejarah dan kandungan maknanya sendiri. Demikian juga dengan Dzulqo’dah. Ia memiliki beberapa arti dan filosofi. berikut arti dan filosofi dari bulan Dzulqo’dah tersebut:

Dzulqo’dah bulan yang aman dan damai.

Dzulqo’dah artinya penguasa gencatan senjata, berhenti bertikai dan perang. Dalam sejarah, di bulan ini ada larangan berperang. Artinya, bulan ini adalah bulan damai, bulan aman, tanpa ada darah yang tumpah akibat peperangan. Dalam konteks modern, perang bukan hanya perang fisik, namun juga perang media dan perang psikologis. Artinya, di bulan ini hendaknya kita tidak menyebar hoax dan tidak menyakiti hati orang lain. Bulan yang aman dan damai harus diisi dengan sikap kehati-hatian. Jangan sampai tidak berperang secara fisik, namun dadanya terbakar dendam dan kemarahan atau dipenuhi hasud yang membakar kebaikan kita seperti api membakar kayu kering. Wush. Habis tanpa sisa.

Dzulqo’dah bulan bisnis.

Dzulqo’dah dari kata dzu (orang) dan qo’dah (duduk). Artinya, orang yang diam duduk. Karena kebiasaan masyarakat Arab pada bulan ini duduk (tidak bepergian) dan tidak melakukan peperangan. Tidak bepergian dagang bukan berarti tidak bekerja, akan tetapi mereka membuat semacam pesta rakyat berupa bazzar, yakni menggelar pasar Ukkadz. Pasar tersebut berjarak 10 mil dari Thaif ke arah Nakhlah. Pasar tersebut diadakan selama 20 hari, sejak hari pertama Bulan Dzulqo’dah sampai hari kedua puluh.

Setelah pasar kaget tersebut selesai, dilanjutkan dengan pasar Majinnah di tempat lain yang digelar selama 10 hari. Artinya, selama sebulan penuh, mereka membuat pasar kaget, melakukan transaksi jual beli, dimana 20 hari di pasar Ukkadz dan 10 hari di pasar Majinnah. Jadi salah besar bila di Bulan Dzulqo’dah kita duduk diam berpangku tangan, tidak kemana-mana dan tidak melakukan pekerjaan apa-apa. Di bulan ini, justru sebulan penuh kita hendaknya melakukan aktivitas-aktivitas yang produktif, bermanfaat baik untuk dunia maupun akhirat.  Ingatlah tidak ada satu haripun, dimana kita diperbolehkan untuk berdiam diri. Karena diam berarti tertinggal oleh orang lain yang terus berjalan. Diam berarti kalah hasil dengan orang-orang yang terus gigih berjuang tanpa mengenal lelah dan rehat. “Jika satu hari berlalu dan aku tidak menghasilkan karya dan atau tidak menambah ilmu, maka apalah arti hidupku,” demikian syair yang diungkapkan oleh Imam Syafi’i ra. Beliau juga mengatakan, bila ada pemuda yang seharusnya memiliki gairah kerja atau semangat belajar, namun ia bersikap lemah mental dan daya, maka bacakan saja takbir sebanyak 4 kali kepadanya sebagai tanda kematian jiwanya. Allahu akbar.

Baca Juga  Memahami Makrifat

Dzulqo’dah bulan pameran.

Di jaman Jahiliyah, mereka di samping membuat pasar selama sebulan penuh, juga menggelar semacam pesta budaya rakyat, pamer syair, pamer kehormatan suku dan golongan. Mereka memamerkan keunggulan syair yang indah dan menggugah, pamer kehormatan suku, dan lain-lain. Sekarang ini barangkali semacam pagelaran atau festival budaya, dimana orang Karawang dapat memperlihatkan tarian Jaipong, orang Banten memperlihatkan permainan debus, dan berbagai kekhasan budaya daerah lainnya. Pameran bahasa dan budaya kalau jaman sekarang antara lain dengan mengadakan lomba penulisan puisi dan cerpen, pembukuan kumpulan tulisan sastra, pagelaran wayang golek, wayang kulit, wayang orang bertopeng, dan lain-lain.

Dzulqo’dah bulan mustajabnya doa.

Ini pendapat Sayyid Ibnu Thawus yang mengatakan bahwa dzulqo’dah adalah bulan diijabahnya doa, khususnya bagi orang yang kesulitan. Hal ini logis, kalau diruntut dari bulan-bulan sebelumnya. Misalkan kita hitung dari Rajab bulan yang diagungkan, lalu Sya’ban yang di dalamnya dianjurkan banyak berpuasa, terus Bulan Ramadhan bulan istimewa, lalu Syawwal artinya bulan peningkatan. Maksudnya, di Bulan Syawal hendaknya amalan seseorang meningkat menjadi lebih baik daripada bulan-bulan sebelumnya. Setelah itu Dzulqo’dah, bulan yang sedang dibahas dalam tulisan ini. Bulan mustajabnya doa, kata Ibnn Thawus.

Dzulqo’dah bulan duduk berdzikir, bukan bulan sial.

Walaupun tentu saja dzikir itu bisa dilakukan kapan saja di bulan apa saja, namun melihat makna katanya: qo’dah artinya duduk, silo (duduk bersila) seperti kebiasaan orang yang duduk berdzikir. Makna qo’dah bukan selo (kesesel barang olo/ kemasukan barang yang jelek). Orang Jawa menyebut Bulan Dzulqo’dah dengan sebutan bulan Selo, bulan yang penuh bencana (olo dalam bahasa Jawa). Dzulqo’dah bukan bulan sial atau bulan selo, sehingga ada tradisi tidak mau menikahkan putra-putrinya di bulan tersebut. Bahkan, menghindari pindah ke rumah baru di bulan tersebut. Rasulullah menikahi beberapa isterinya di Bulan Dzulqo’dah. Beliau menikahi Zainab binti Jahsyi di bulan Dzulqo’dah tahun kelima dari Hijrah. Beliau menikahi Maimunah binti Al-Harits ra di Bulan Dzulqo’dah tahun 7 hijrah.

Baca Juga  Kaderisasi pesantren dan tantangan global

Dzulqo’dah bulan peduli sosial.

Di bulan ini, manqobah yang dibaca dalam manakib ialah mankobah tentang awal mula Syekh Abdul Qodir Jailani untuk peduli sosial, membenahi masyarakat dengan perkataan yang baik dan tulus. Sebelumnya, Syekh telah melakukan pendidikan diri yang panjang dan berat dengan memperbanyak ibadah dan dzikir. Namun itu saja tidak cukup. Beliau disuruh oleh Nabi Saw secara spiritual untuk membenahi masyarakat, mendidik masyarakat, mencahayai masyarakat.

Ibadah sosial demikian istilahnya merupakan ibadah yang tidak kalah pentingnya dibandingkan ibadah ritual dan individual. Kita renungkan sabda Nabi Saw berikut,”Muslim manapun yang memberikan pakaian kepada orang yang telanjang, maka Allah akan memberinya pakaian dari surga. Siapapun muslim yang memberikan makan kepada orang yang lapar, maka Allah akan memberinya makanan dari makanan surga. Dan siapapun muslim yang memberikan minuman kepada orang yang kehausan, maka Allah akan memberinya minuman dari sungai surga.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi). Lihat dalam Kitab Kasyful Ghummah karya Sayid Muhammad bin ‘Alawi bin Abbas Al-Maliki Al-Hasani Al-Makki,  hlm. 33. Ini pahala tentang memberi pakaian, makanan dan minuman fisik, bagaimana dengan keutamaan pakaian (maqam), makanan dan minuman ruhani? Sungguh luar biasa.

Ibnu Umar ra berkata, Rasulullah Saw bersabda,”Siapa yang ingin dikabulkan doanya dan dilenyapkan kesusahannya, maka hendaknya memberikan kelapangan kepada orang yang susah.” Dalam hadits lain diceritakan, seseorang bertanya kepada Rasulullah saw,”Ya Rasulullah, amal apakah yang paling utama?”. Nabi Saw bersabda,”Hendaknya engkau memberikan kebahagiaan kepada seorang muslim, atau melunaskan hutangnya atau memberikan makanan pokok untuknya.” (HR. Thabrani).

(Rojaya)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button