Cakrawala Tasawuf
Trending

Puasa dalam perspektif Pendidikan

Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. 2, al-Baqarah : 183). 

Puasa dalam perspektif Pendidikan

Satu dari lima rukun Islam adalah melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Sebagai rukun Islam maka melaksanakan puasa sebuah keniscayaan bagi orang yang beriman dan bagi yang telah terpenuhi segala ketentuan baginya. Puasa ibadah yang “unik” dibanding ibadah lainnya. Karena uniknya pahalanya pun dirahasiakan Allah SWT. Puasa itu untuk-Ku dan Akulah  yang akan membalasnya. Aku akan membalasnya sendiri  pahala puasa” demikian Allah berfirman. Semua amal adalah untuk Allah dan Dia pula yang akan membalasnya. Para ulama berpendapat bahwa puasa tidak mungkin dimasuki unsur riya dan pamer seperti amal ibadah yang lainnya. Sebab ketika seseorang berbuat riya itu ditujukan kepada manusia, sedangkan puasa hanyalah sesuatu yang ada dalam hati.  

Puasa adalah ibadah yang tidak dapat dijangkau indra manusia karena tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah Swt dan orang itu sendiri. Puasa adalah ibadah antara Allah dengan hambanya, karena puasa adalah ibadah dan bentuk ketaatan yang hanya diketahui oleh Allah Swt. Abul Hasan menjelaskan firman Allah Swt tentang ‘Aku yang akan membalasnya’ bahwa semua ibadah pahalnya adalah surga sedangkan puasa balasanya adalah pertemuan dengan-Ku. Aku memandanganya dan dia dapat memandang-Ku dan dia dapat berbicara kepada-Ku dan Aku akan berfirman kepadanya tanpa seorang perantara dan penterjemah. 

Para ulama membagi puasa pada tiga tingkatan yaitu puasa orang awam, puasa orang-orang khusus, dan puasa orang-orang lebih khusus. Puasa orang awam adalah menghindarkan perut dan kemaluan dari keinginan syahwatnya. Puasanya orang-orang khusus adalah puasanya orang shaleh menghindarkan semua anggota tubuh dari perbuatan-perbuatan dosa dengan cara; Pertama menjaga mata dari melihat segala hal yang tecela menurut agama. Kedua memelihara lidah dari pergunjingan, berbohong, adu domba, dan sumpah palsu. Ketiga menjaga telinga untuk tidak mendengar hal-hal yang dibenci. Keempat menjaga semua  organ tubuh dari hal-hal yang tercela menurut agama, menahan perut dari perkara-perkara subhat ketika berbuka. Kelima tidak memperbanyak makan makanan yang halal sekalipun pada saat berbuka sampai perutnya kenyang.  Adapun puasanya orang-orang lebih khusus adalah puasa hati dari tujuan-tujuan rendah dan pemikiran tentang duniawi serta hatinya selalu ingat Allah Swt. 

Baca Juga  Komunikasi Politik Pangersa Abah Anom

Takwa Tujuan Puasa  

Allah Swt telah berfirman; “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS 2, al-Baqarah : 183). Ayat ini meneguhkan kita bahwa tujuan Allah Swt mewajibkan ibadah puasa adalah membentuk manusia-manusia bertakwa. Takwa dalam pengertian bukan hanya dalam sebutan melainkan terimplementasi dalam segala gerak, tingkah, dan perilaku sehari-hari. Tujuan puasa ini bertemali dengan hakikat pendidikan yakni proses memanusiakan manusia. Manusia akan menjadi manusia bukan karena kelahiran melainkan karena pendidikan. Demikian para filusuf berkata.  

Kata takwa dalam al-Quran disebutkan Allah tidak kurang dari 208 kali, antara lain terdapat pada surat al-Baqarah ayat 3, 177 dan 183; pada surat ali-Imran ayat 17 dan 134, dan pada surat adz-Dzariat ayat 17-19. Pada ayat-ayat tersebut diterangkan pengertian takwa adalah: Pertama, Mereka yang bertakwa yaitu yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki (QS. al-Baqarah, ayat 2-3). Kedua, orang yang bertakwa yaitu orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya, dan yang memohon ampun di waktu sahur (QS. ali-Imran, ayat 17). Dan ketiga, orang yang bertakwa adalah yang berbuat kebajikan, yaitu menafkahkan hartanya (baik di waktu lapang maupun sempit), menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang (QS. ali-Imran, ayat 134). 

Sesuai ayat-ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa orang bertakwa itu adalah orang yang beriman kepada Allah, malaikat-malaikat, nabi-nabi, kitab-kitab, dan kehidupan akhirat, juga yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa, dan haji, serta yang sabar (dalam menghadapi kesulitan), menahan amarah, memaafkan (kesalahan orang lain), dan menepati janji.  Singkatnya orang yang bertakwa adalah orang yang memegang teguh rukun iman, rukun Islam, serta senantiasa beramal shalih dan berbuat kebajikan (Ihsan). Inilah dalam perspeketif pendidikan disebut manusia paripurna, manusia yang memiliki kecerdasan intelektual, emosianal, spiritual, dan sosial. Wallahu ‘alam. 

Baca Juga  Ibu-ibu merupakan ruh bagi suatu Pengajian

Nana Suryana (Ketua Prodi PGMI IAILM Suryalaya)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button